Delapan Titik Api di TPA Jatiwaringin Padam, 334 Warga Terkena ISPA

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Dari 12 titik api di Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, delapan titik di antaranya telah berhasil dipadamkan. Akibat kebakaran ini, 126 warga mengungsi. Sementara itu, jumlah warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut akibat paparan asap mencapai 334 orang.

Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Banten Inspektur Jenderal Hengki menyampaikan hal itu saat meninjau lokasi kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Selasa (7/7/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan proses penanganan kebakaran berjalan maksimal sekaligus menjamin keamanan dan keselamatan masyarakat terdampak.

Dalam keterangannya, Hengki menjelaskan, kebakaran yang terjadi sejak Selasa (30/6/2026) telah menghanguskan sekitar 15 hektar dari total 32 hektar area TPA.

"Dari hasil pemantauan, terdapat 12 titik api yang teridentifikasi. Hingga saat ini delapan titik api telah berhasil dipadamkan. Adapun sisanya masih dalam proses pendinginan dan penanganan oleh petugas di lapangan," ujar Hengki dalam pernyataan resminya.

Baca JugaKebakaran TPA Jatiwaringin Bukti Kegagalan Pemerintah Kelola Sampah

Dia menjelaskan, titik api pertama kali muncul di bagian belakang area TPA. Meskipun upaya pemadaman awal telah dilakukan para pekerja, cuaca panas yang disertai tiupan angin kencang menyebabkan api dengan cepat merambat ke timbunan sampah lainnya.

Sejak menerima laporan, lanjut Hengki, Polda Banten bersama Kepolisian Resor Kota (Polresta) Tangerang bergerak melakukan penanganan terpadu bersama seluruh instansi terkait.

"Sejak awal kejadian, kami langsung berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), TNI, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Kesehatan, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya untuk melakukan langkah-langkah penanganan secara terpadu agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan dampaknya diminimalkan," ungkap Hengki.

Berbagai upaya telah dilakukan, di antaranya mengerahkan personel untuk membantu pengamanan, pemadaman, dan evakuasi dengan dukungan 10 unit mobil pemadam kebakaran, helikopter water bombing, empat unit alat berat (ekskavator), serta personel Polresta Tangerang dan jajaran Polsek yang diterjunkan untuk mendukung penanganan di lapangan.

Baca JugaMengapa Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Dipadamkan?

Selain membantu proses pemadaman, personel Polri juga melakukan pengamanan di lokasi kebakaran, jalur evakuasi, lokasi pengungsian, fasilitas kesehatan, serta mengatur arus lalu lintas agar mobilitas kendaraan pemadam, ambulans, alat berat, maupun distribusi logistik tetap lancar.

"Kami juga melaksanakan patroli untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, mengamankan barang-barang milik warga yang terdampak, serta menjaga situasi tetap aman dan kondusif selama proses penanganan berlangsung," jelas Hengki.

Berdasarkan data dari instansi terkait, sebanyak 126 warga mengungsi sebagai langkah antisipasi terhadap dampak asap kebakaran. Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat 334 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap.

"Kami memastikan pengamanan di lokasi pengungsian, fasilitas kesehatan, serta distribusi bantuan kemanusiaan berjalan aman dan lancar sehingga seluruh masyarakat terdampak memperoleh pelayanan secara maksimal," tutur Hengki.

Hengki bersyukur karena tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tetap mengutamakan kesehatan dengan mengurangi aktivitas di sekitar area yang masih terdampak asap, mengikuti arahan petugas, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

"Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Kami berkomitmen terus mengawal proses penanganan hingga seluruh titik api berhasil dipadamkan dan situasi benar-benar aman serta kondusif. Sinergi antarlembaga dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi bencana ini sekaligus meminimalkan dampaknya," ujarnya.

Ketua Koalisi Persampahan Nasional Bagong Suyoto menilai, peristiwa ini seharusnya jadi pelajaran bagi pemerintah untuk menempatkan orang-orang yang kompeten dalam mengelola sampah. "Jangan menempatkan orang yang tidak memahami pengelolaan sampah karena dampaknya bisa sangat berbahaya," ujarnya.

Dia berharap pengelolaan TPA Jatiwaringin yang sebelumnya menggunakan metode pembuangan terbuka (open dumping) segera beralih ke controlled landfill. Metode tersebut menekankan perataan dan pemadatan sampah menggunakan alat berat, kemudian menutupnya dengan lapisan tanah.

Menurut Bagong, cara itu bertujuan menangkap gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah sehingga risiko kebakaran dapat ditekan. "Dengan begitu, risiko kebakaran dapat dikurangi," katanya.

Untuk menerapkan skema tersebut, dibutuhkan sumber daya manusia yang memahami pengelolaan sampah, termasuk memastikan air lindi dapat diolah sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar.

Selain itu, menurut Bagong, perlu dilakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab kebakaran sekaligus menentukan pihak yang harus bertanggung jawab. "Pemerintah Kabupaten Tangerang harus bertanggung jawab penuh atas insiden ini," tegasnya.

Baca JugaKebakaran TPA Jatiwaringin Meluas 15 Hektar, Helikopter Pemadam Dikerahkan

Sebelumnya, Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Inspektur Jenderal Rizal Irawan mengatakan, dalam penanganan kebakaran pihaknya turut melibatkan tim Manggala Agni. "Karena penanganan kebakaran di TPA pada prinsipnya sama dengan penanganan kebakaran lahan gambut," ujarnya.

Menurut Rizal, pemadaman menggunakan helikopter belum cukup karena metode tersebut hanya mampu memadamkan api di permukaan. Ia meyakini masih terdapat titik api yang terus menyala di bawah permukaan. "Karena itu hanya Manggala Agni yang memiliki peralatan high pressure injection," ujarnya.

Setelah proses pemadaman tuntas, pihaknya akan berfokus pada penyelidikan untuk memastikan sumber penyebab kebakaran. "Saat ini kami fokus pada pencegahan dan pemadaman. Setelah semua tuntas, baru kami beralih ke penyelidikan," ujarnya, Sabtu (4/7/2026).

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH menyebutkan, asap yang ditimbulkan kebakaran di TPA lebih berbahaya dibandingkan asap kebakaran lahan gambut. "Karena asap dari TPA merupakan hasil pembakaran plastik, sampah organik, dan berbagai jenis limbah lain yang bercampur," ujarnya.

Karena tingginya risiko tersebut, Rizal mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di sekitar TPA. "Dampak kesehatan akibat paparan asap antara lain ISPA dan berbagai gangguan kesehatan lainnya," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Siap-Siap Gerhana Matahari Total Agustus 2026! Catat Jadwal, Jalur Lintasan, dan Cara Menyaksikan
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Praperadilan Asrul Azis Tersangka Kasus Haji Ditolak, KPK: Lanjutkan Penyidikan
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Populer: OJK Imbau Waspada Penipuan Sensus Ekonomi; Gaji Tinggi Haaland
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Ruben Onsu Janji Tak Batasi Sarwendah Bertemu Anak Jika Menangi Hak Asuh
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Barantin siapkan integrasi layanan karantina pangkas hambatan ekspor
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.