Mencari kerja hari ini bukanlah perkara mudah. Lowongan pekerjaan yang terbatas tidak sebanding dengan banyaknya warga yang mencari kerja. Sulitnya mencari kerja itu dirasakan dua kali lipat oleh Daddy Rukidjah (53) yang merupakan penyandang disabilitas sejak umur 10 tahun. Di tengah keterbatasan itu, menyerah bukanlah pilihannya.
Di atas kursi roda, Daddy berbaur dengan para pencari kerja lain di bursa kerja Jakarta di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026). Sesekali ia meminta maaf karena kursi rodanya menyenggol orang lain. Orang-orang pun mengerti dengan keadaan fisik Daddy dan menerima maafnya. Jika ada orang yang menghalangi jalannya, Daddy tidak ragu mengucapkan permisi.
Daddy Rukidjah (53) di antara para pencari kerja.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Disabilitas bukan menjadi hambatan ia untuk terus bergerak.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Daddy mencari perusahaan yang membuka lowongan untuk disabilitas.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Perhentian pertamanya tertuju ke tiga stan perusahaan yang terdapat tanda informasi bertuliskan “Terbuka untuk Disabilitas”. Tiga perusahaan itu membuka kesempatan kelompok disabilitas untuk berdaya. Daddy pun segera mengambil berkas lamaran dari dalam tasnya yang ia gantung di belakang kursi roda. Setelah sedikit berbincang, berkas pun ia masukan dengan harapan kesempatan itu menjadi miliknya.
“Ini saya mau coba ke stan perusahaan lain mas, barangkali bisa menerima pekerja dengan keadaan seperti saya,” ujarnya.
Pencari kerja sibuk mengisi data.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Tumpukan brosur.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Mencari peluang.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Bagi Daddy, keterbatasan fisik bukanlah hambatan untuk bekerja. Itu pernah ia buktikan saat masih aktif bekerja sejak 1995 hingga 2019. Paling lama ia bekerja di perusahaan British Petroleum dari tahun 1998 hingga 2019. Karirnya pun cemerlang di perusahaan asal Inggris itu. Ia memulai pekerjaan menjadi operator telepon hingga menjadi leader di bagian mailing room.
Namun kesehatan Daddy mulai memburuk pada sekitar 2019. Ia divonis dokter mengidap diabetes. Karena itu ia keluar dari pekerjaannya dan mulai memulihkan diri. Namun diam diri tidak dapat menjadi pilihan. Ia tidak ingin hidupnya bergantung kepada orang lain. Kini Daddy bekerja sebagai operator call center polisi 110 di Polres Bogor.
Informasi bursa kerja yang diselenggarakan Pemerintah Jakarta Selatan ini pun tidak ia sia-siakan. Sejak pukul 07.30 WIB, ia sudah berada di lokasi acara. Ia sudah berangkat sejak pukul 06.30 dari rumahnya di kawasan Sawangan, Depok. Bersama kakaknya, ia berangkat menggunakan kendaraan umum.
Bursa kerja ini menjadi tempat yang kedua yang ia datangi. Pada dua minggu sebelumnya ia pun mengikuti bursa kerja di Jakarta Barat. Saat itu ia dipanggil salah satu perusahaan untuk bekerja. Namun tawaran itu tidak Daddy ambil lantaran lokasi pekerjaan yang berada di Yogyakarta.
Pengalaman Daddy yang bekerja di belakang meja itu menjadi modal baginya untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Ia menyayangkan masih banyak lowongan pekerjaan yang sangat terbatas untuk kelompok disabilitas.
“Tadi saya mencoba melamar ke salah satu sekolah swasta yang sepertinya sudah bonafit untuk lowongan administrasi, tapi katanya belum bisa untuk disabilitas. Padahal secara kemampuan saya sebetulnya bisa,” tutur Daddy.
Walaupun demikian ia tidak menyerah, ia pun mencoba untuk menego dan mengedukasi bahwa pekerjaan seperti itu sangat bisa dilakukan oleh kelompok disabilitas. Menurutnya edukasi seperti ini penting. Kelompok disabilitas sejatinya memiliki kemampuan yang sama dengan yang lain, hanya saja kesempatan itu yang masih jarang mereka dapatkan.
Pada bursa kerja Jakarta Selatan ini, 37 perusahaan membuka kesempatan bekerja untuk 3.299 lowongan pekerjaan. Namun, hanya tiga perusahaan saja yang membuka lowongan untuk disabilitas. Jumlah tersebut menandakan kesempatan bagi para penyandang yang masih sangat terbatas.





