Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa belanja negara pada outlook APBN 2026 diproyeksikan melebar dari rancangan awal sebesar Rp3.842,7 triliun menjadi Rp3.942,4 triliun.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh melonjaknya alokasi belanja kementerian/lembaga (K/L).
"Outlook belanja negara diproyeksikan sebesar Rp3.942,4 triliun atau mencapai 102,6% dibandingkan pagu APBN," kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Berdasarkan rincian postur belanja, anggaran belanja pemerintah pusat mengalami peningkatan, terutama pada belanja kementerian/lembaga yang naik dari pagu awal Rp1.510,5 triliun menjadi Rp1.630,4 triliun.
Sementara itu, alokasi transfer ke daerah (TKD) juga mengalami kenaikan tipis dari Rp693 triliun menjadi Rp696,9 triliun.
Di sisi lain, belanja non-kementerian/lembaga menjadi satu-satunya komponen yang diperkirakan menurun. Anggarannya diproyeksikan turun dari Rp1.639,2 triliun menjadi Rp1.615,1 triliun.
Purbaya menjelaskan, peningkatan belanja negara telah memperhitungkan kebutuhan tambahan anggaran untuk memenuhi berbagai kewajiban pemerintah, termasuk pembayaran subsidi dan kompensasi.
"Outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan sebesar Rp132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah, subsidi dan kompensasi," ucapnya.
Selain memaparkan proyeksi belanja, pemerintah juga mengusulkan pergeseran anggaran dari Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) ke Bagian Anggaran Kementerian/Lembaga (BA K/L), maupun sebaliknya.
Baca Juga: Cukup Dadan Hindayana Jadi Raja Songong, Purbaya Jangan Tambah Daftar
Baca Juga: Penerimaan Pajak Berpotensi Shortfall, Purbaya Andalkan Perbaikan Coretax dan Pegawai Pajak
Menurut Purbaya, langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat program jaminan sosial, sektor kesehatan, serta meningkatkan kapasitas kementerian dan lembaga dalam menjalankan tugas dan memberikan pelayanan publik, sesuai mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang APBN.
Meningkatnya proyeksi belanja negara turut berdampak pada pelebaran defisit APBN 2026. Meski pendapatan negara juga diperkirakan meningkat, pemerintah tetap berupaya menjaga agar defisit tidak semakin melebar.
"Berdasarkan outlook pendapatan dan belanja negara tersebut, outlook defisit APBN tercatat sebesar Rp734,3 triliun dengan presentasi sebesar 2,85% terhadap PDB. Dengan demikian, outlook pembiayaan anggaran menjadi sebesar Rp734,3 triliun, Saya yakin kita masih bisa menekan defisit ini ke bawah," pungkasnya.





