JAKARTA, KOMPAS – Nilai tukar rupiah selama sepekan ke depan diproyeksikan masih akan berada dalam tekanan. Bila depresiasi rupiah di atas level Rp 18.000 per dolar AS terus berlanjut, era suku bunga tinggi semakin tidak terhindarkan.
Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah ditutup di level Rp 17.988 per dolar AS pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Meski sedikit menguat dibanding hari sebelumnya, kurs rupiah masih mencatat depresiasi sebesar 7,55 persen secara tahun kalender berjalan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, berpendapat, pergerakan nilai tukar rupiah masih belum sepenuhnya pulih. Ini terjadi lantaran penguatan sebelumnya cenderung ditopang oleh arus modal jangka pendek dan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia (BI).
“Dalam jangka pendek, sepekan ke depan, rupiah kemungkinan masih bergerak rapuh di kisaran Rp 17.900–18.150 per dolar AS,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Dalam hal ini, nilai tukar rupiah berisiko bertahan di atas level Rp 18.000 per dolar AS. Terlebih, jika data ekonomi AS kuat, risalah rapat bank sentral AS bernada ketat, harga minyak dunia naik, atau investor asing kembali mengurangi porsi investasi di Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah datang dari dua arah sekaligus, yakni dari sisi global dan domestik. Dari sisi global, pasar masih memiliki ekspektasi suku bunga tinggi, sembari mencermati data ekonomi AS dan risalah rapat bank sentral AS.
Di sisi lain, faktor ketahanan eksternal juga masih relatif rentan. Pada Mei 2026, neraca perdagangan mencatatkan defisit 1,16 miliar dolar AS, pertama kali dalam enam tahun terakhir. Ini terjadi lantaran impor tumbuh 22,16 persen secara tahunan, sedangkan ekspor turun 5,73 persen.
Kondisi ini membuat rupiah bisa menguat cepat ketika ada arus masuk, tetapi juga mudah kembali tertekan ketika sentimen global berubah.
Kondisi tersebut mengindikasikan kebutuhan valuta asing (valas) untuk impor semakin tinggi di tengah penerimaan dari ekspor yang melemah. Apabila tren surplus perdagangan menyusut dan transaksi berjalan melebar, tekanan terhadap rupiah akan lebih besar sekalipun cadangan devisa masih memadai.
Dari sisi domestik, ia melanjutkan, tekanan rupiah juga dipicu oleh arus modal yang belum sepenuhnya kuat. Meski investasi portofolio asing mencatatkan beli neto 5,52 miliar dolar AS, arus modal ini cenderung berasal dari instrumen jangka pendek, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Kondisi ini membuat rupiah bisa menguat cepat ketika ada arus masuk, tetapi juga mudah kembali tertekan ketika sentimen global berubah,” ujar Josua.
Menurut dia, suku bunga acuan belum tentu langsung dikerek ketika rupiah telah menembus Rp 18.000 per dolar AS. Namun, bila rupiah terus berfluktuasi dan bertahan lama di atas Rp 18.000 per dolar AS, diikuti dengan inflasi yang mendekati ambang batas target dan arus modal keluar yang meningkat, suku bunga berpotensi kembali dikerek.
“Peluang kenaikan BI Rate tambahan 25 basis poin menuju 6 persen akan kembali terbuka. Namun, kenaikan suku bunga sebaiknya menjadi opsi terakhir karena biaya ke sektor riil cukup besar, terutama saat PMI manufaktur sudah melemah dan daya beli masyarakat belum pulih kuat,” tuturnya.
Dihubungi secara terpisah, Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi, berpandangan, saat ini sedang terjadi anomali. Ketika indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) turun sekitar 0,3 persen ke level 100,8, rupiah justru melemah 0,44 persen dalam sepekan terakhir.
“Ini mengonfirmasi bahwa sentimen domestik memegang peran besar dalam menahan penguatan rupiah,” ujarnya.
Salah satunya terkait dengan laporan Fitch Ratings yang mempertahankan prospek negatif kredit Indonesia. Penilaian ini memberikan alarm terhadap pengelolaan fiskal, risiko membengkaknya biaya utang pemerintah, serta kekhawatiran pasar terhadap kelanjutan disiplin fiskal.
Selain itu, rencana kebijakan sentralisasi tata kelola ekspor komoditas utama melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) turut memicu ketidakpastian kebijakan di mata para pelaku pasar keuangan global. Akibatnya, aliran modal masuk pun terhambat.
Untuk sepekan ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berada dalam fase konsolidasi tinggi di area terlemahnya saat ini. Rentang pergerakannya, Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 17.900-Rp 18.050 per dolar AS.
Rahma menambahkan, tekanan jangka pendek bertambah akibat penumpukan posisi net short valas perbankan domestik yang sempat mendekati 27 miliar dolar AS serta kebutuhan musiman korporasi untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen pada awal triwulan III-2026.
“Untuk sepekan ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berada dalam fase konsolidasi tinggi di area terlemahnya saat ini. Rentang pergerakannya, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 17.900-Rp 18.050 per dolar AS,” tuturnya.
Di sisi lain, sentimen positif dari kenaikan cadangan devisa serta melandainya indeks dolar global kemungkinan besar hanya mampu menahan rupiah tidak terperosok lebih dalam di atas Rp 18.000 per dolar AS. Kini, pasar masih mencermati rilis ekonomi AS dan indikator makro domestik lainnya.
Menurut dia, arah bauran kebijakan moneter BI ke depan masih akan tetap mengarah pada stabilitas secara agresif. Artinya, bank sentral cenderung akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkan lebih lanjut.
“BI kemungkinan besar akan menahan suku bunga di level tinggi ini dalam waktu yang cukup lama (higher-for-longer) untuk menjaga daya tarik imbal hasil aset keuangan domestik. Kenaikan lanjutan tetap terbuka jika tekanan kurs meluas ke inflasi inti,” ujarnya.
Alih-alih mengerek suku bunga acuan, BI sebaiknya mengandalkan penerbitan SRBI dengan imbal hasil menarik untuk menarik portofolio asing, serta mengoptimalkan Repo Valas menggunakan Sekuritas Valas BI (SVBI) dan Sukuk Valas BI (SUVBI) sebagai underlying aset.
Dengan kata lain, BI akan terus berada di pasar untuk menempuh intervensi di pasar spot, baik Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun pasar SBN, guna memitigasi volatilitas harian. Namun, tiga langkah intervensi ini sebaiknya dilakukan secara terukur, agar tidak menguras cadangan devisa secara drastis.





