Jakarta: Perubahan cara masyarakat mencari informasi semakin terasa sejak platform berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, hingga Google AI Overviews mulai digunakan sebagai pintu pertama untuk bertanya. Masyarakat kini cenderung bertanya langsung ke AI sebelum membuka situs atau mesin pencari tradisional.
Fenomena ini mengubah cara perusahaan membangun kehadiran digital. Jika sebelumnya strategi digital berfokus pada optimasi mesin pencari tradisional, kini perusahaan mulai memperhatikan bagaimana identitas bisnis mereka dipahami, dirangkum, dan direkomendasikan oleh sistem AI.
Laporan The State of AI 2025 dari McKinsey menunjukkan sekitar 88 persen organisasi telah menggunakan AI pada sedikitnya satu fungsi bisnis. Stanford AI Index 2025 mencatat tingkat adopsi AI organisasi meningkat menjadi 78 persen sepanjang 2024, naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi pengguna, OpenAI mengumumkan ChatGPT telah melayani lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan. Google menyebut AI Overviews kini digunakan lebih dari dua miliar pengguna setiap bulan. Perubahan ini menunjukkan AI tidak lagi sekadar alat produktivitas, tetapi mulai menjadi lapisan baru dalam proses pencarian informasi dan pengambilan keputusan.
Head of GEO & AI Optimization Undercover.co.id, Jave Danish Arkan, mengatakan banyak CEO masih menganggap AI hanya sebagai alat membuat konten atau meningkatkan produktivitas. Padahal, pengaruhnya sudah masuk ke tahap rekomendasi bisnis.
Baca Juga :
Omzet UMKM Digenjot lewat Pendampingan hingga Pemanfaatan AI
"AI tidak menunggu perusahaan siap. AI akan tetap membaca, merangkum, membandingkan, dan menilai brand berdasarkan informasi yang tersedia di internet. Pertanyaannya bukan apakah AI akan membaca bisnis Anda, tetapi apakah AI memahami bisnis Anda dengan benar," kata Jave, Selasa, 7 Juli 2026.
Menurutnya, sistem AI tidak mengambil informasi dari satu sumber saja. Jawaban AI dibangun dari kombinasi situs perusahaan, media nasional, publikasi industri, profil perusahaan, data terstruktur, ulasan, hingga berbagai sinyal kredibilitas yang tersebar di internet.
Perusahaan dengan informasi yang lebih konsisten, mudah diverifikasi, dan memiliki jejak digital yang kuat berpotensi lebih mudah dipahami oleh sistem AI. Sebaliknya, perusahaan dengan informasi terbatas atau tidak terstruktur akan sulit dikenali.
Pendekatan ini dikenal melalui berbagai strategi seperti Generative Engine Optimization (GEO), Answer Engine Optimization (AEO), serta AI Optimization (AIO). Strategi ini mulai diadopsi perusahaan di berbagai negara untuk meningkatkan AI Visibility.
"Tidak semua brand akan direkomendasikan AI. Ketika dua perusahaan menawarkan layanan yang mirip, AI cenderung memilih informasi yang lebih jelas, lebih konsisten, dan lebih kredibel. Perusahaan yang bergerak lebih awal memiliki peluang membangun posisi sebelum kompetitor menyadari perubahan ini," ujar Jave.
CEO Google Sundar Pichai sebelumnya menyebut AI sebagai salah satu teknologi paling mendalam yang pernah dikembangkan manusia. CEO OpenAI Sam Altman menilai AI akan menjadi teknologi yang memperluas kemampuan manusia dalam bekerja dan mengambil keputusan.
Di Indonesia, perubahan ini diperkirakan akan semakin besar. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai lebih dari 221 juta orang dengan tingkat penetrasi sekitar 79,5 persen.
Seiring meningkatnya penggunaan AI, proses pencarian informasi diperkirakan akan semakin banyak dilakukan melalui mesin jawaban berbasis AI.
Menurut Jave, AI Visibility tidak lagi menjadi isu yang hanya relevan bagi tim digital marketing. Kondisi ini mulai menjadi perhatian strategis perusahaan.
"Bagi CEO, AI Visibility bukan lagi proyek pemasaran semata. Ini mulai menjadi aset strategis perusahaan karena AI ikut memengaruhi bagaimana calon pelanggan, investor, maupun mitra bisnis mengenali dan mengevaluasi sebuah brand. Mereka yang mulai membangun GEO dan AIO hari ini berpeluang memiliki posisi yang lebih kuat ketika AI menjadi pintu utama masyarakat dalam mencari informasi," tutup Jave.




