Jakarta, VIVA – Kasus dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) diduga bunuh diri akibat bullying kembali terjadi. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini pun angkat bicara.
Yahya turut menyampaikan duka cita atas meninggalnya dokter PPDS di Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Dia mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan investigasi secara transparan dan hasil investigasi harus dibuka ke publik.
“Libatkan tim independen dalam melakukan investigasi. Supaya hasilnya lebih obyektif tidak ditutup-tutupi,” ungkap Yahya, Selasa, 7 Juli 2026.
Menurutnya, investigasi yang dilakukan Kemenkes terkait kasus serupa selalu besifat tertutup dan tidak pernah dituntaskan.
Tak hanya itu, kader Partai Golkar ini juga mendesak aparat penegak hukum menindaklanjuti kasus tersebut apabila terindikasi pidana.
“Saya minta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut jika terbukti ada kasus pidana,” ungkap Yahya.
Yahya menambahkan Kemenkes dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) harus melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap mekanisme praktik dokter PPDS.
“Saya minta Kemenkes bersama Kemendikti Ristek melakukan evaluasi total atas praktek dokter PPDS agar tidak terulang kembali di masa depan. Karena kasus bulliying sudah sangat sering terjadi dan mengakibatkan kasus kematian,” jelasnya.
Sebelumnya, dokter PPDS Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Adrian Rantung, meninggal dunia diduga karena mengalami perundungan atau bullying.
Korban diduga mendapat perundungan seniornya selama bertugas di RSUP Prof Dr RD Kandou Manado.
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, dr Adrian ditemukan tewas di kamar kosnya. Ia diduga menenggak cairan pembersih kamar mandi.
tvOnenews.com/Syifa Aulia





