Polusi udara bukan lagi masalah musiman, melainkan paparan harian dialami jutaan anak Indonesia. Paparan polusi yang dialami anak tak pernah berasal dari satu sumber saja, melainkan merupakan akumulasi berbagai faktor lingkungan bersamaan. Padahal, anak menghirup udara dua sampai tiga kali lebih banyak dibandingkan orang dewasa.
Setiap pagi, jutaan anak berangkat menuju ruang kelas dengan membawa tas di punggung dan menghirup udara yang mutunya belum tentu aman. Di jalan raya mereka menghirup emisi kendaraan, di sekitar permukiman terpapar asap pembakaran sampah, sedangkan di dalam rumah ada risiko dari asap rokok, kompor, hingga ventilasi buruk.
Berbagai jenis polutan kerap ditemukan di lingkungan antara lain nitrogen oksida, sulfur dioksida, ozon permukaan, karbon monoksida, hidrokarbon polisiklik aromatik (PAH), volatile organic compounds (VOC), serta particulate matter (PM2.5 dan PM10).
PM2.5 menjadi perhatian terbesar karena ukurannya sangat kecil sehingga mampu menembus hingga saluran napas terdalam dan memicu proses peradangan kronis.
Paparan-paparan itu tidak dihirup satu per satu, melainkan saling bertumpuk menjadi beban yang terus masuk ke dalam paru-paru anak tiap hari. Bagi orang dewasa, udara kotor mungkin hanya menimbulkan rasa sesak atau tenggorokan yang gatal. Bagi anak-anak, dampaknya jauh lebih besar.
"Semakin tinggi kadar polusi udara yang mereka hirup, kian besar pula penurunan fungsi paru. Artinya, dampak polusi tak selalu langsung terlihat, tapi perlahan merusak kesehatan anak," kata Cynthia Centauri, dokter anak subspesialisasi respirologi anak dari Universitas Indonesia di Jakarta, pada Kamis (9/7/2026).
Indonesia masuk dalam 17 negara dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi di Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini menegaskan, kondisi itu membahayakan anak karena organ pernapasan anak berada dalam tahap pertumbuhan, sistem kekebalan tubuh belum berkembang sempurna, dan frekuensi bernapas mereka lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Akibatnya, lebih banyak partikel polutan masuk ke tubuh dalam waktu yang sama.
Berdasarkan data IQAir tahun 2025, Indonesia masuk dalam 17 negara dengan kualitas udara terburuk di dunia, sementara DKI Jakarta dan Tangerang Selatan beberapa kali tercatat memiliki tingkat pencemaran udara yang sangat tinggi.
Di lingkungan perkotaan, anak-anak nyaris tidak memiliki ruang untuk benar-benar menghindari paparan tersebut. Perjalanan menuju sekolah, aktivitas bermain di luar ruangan, hingga waktu yang dihabiskan di dalam rumah sama-sama menyimpan potensi paparan.
Bahkan ketika kualitas udara di luar membaik, ancaman belum tentu hilang apabila udara di dalam rumah dipenuhi asap rokok, pembakaran obat nyamuk, atau ventilasi yang tidak memadai.
Dia pernah menangani anak berusia tiga tahun yang menderita infeksi saluran napas berulang hingga harus dirawat karena bronkopneumonia. Setelah diperiksa lebih dalam, penyebabnya bukan semata-mata infeksi, tapi akumulasi berbagai sumber polusi di lingkungan tempat tinggalnya.
Anak tersebut ternyata baru pindah ke rumah yang berada di dekat jalan raya dan bertetangga dengan rumah yang masih direnovasi. Kondisi itu diperparah karena lingkungannya membakar sampah, ditambah lagi ia tinggal bersama ayah yang mulai menggunakan rokok elektronik (vape).
"Saya selalu mengatakan kepada pasien, percuma berobat mahal-mahal, diberi obat asma, tetapi pencetusnya masih ada. Selama masih terpapar asap rokok, penyakitnya tidak akan pernah benar-benar selesai," ucapnya.
Paparan polusi udara, lanjut Cynthia, tidak hanya menyerang sistem pernapasan, dampaknya bersifat sistemik mulai dari bayi yang masih berada dalam kandungan hingga orang dewasa.
Polusi dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah, mengganggu perkembangan paru, memicu stres oksidatif, mengubah sistem imun, meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan saraf, kanker, hingga gangguan pembekuan darah.
Dalam risetnya tahun 2024 terhadap anak-anak sekolah di wilayah dengan tingkat polusi tertinggi di Jakarta, ditemukan bahwa 13,3 persen anak yang tampak sehat telah mengalami penurunan fungsi paru berdasarkan pemeriksaan spirometri. Bahkan, makin tinggi kadar PM2.5 di lingkungan, kian buruk pula fungsi paru yang ditemukan pada anak-anak itu.
"Ini menandakan bahwa gangguan fungsi paru ternyata sudah dapat ditemukan bahkan pada anak-anak yang tampak sehat. Mereka tetap bersekolah, tetap bermain, tidak mengeluhkan sesak, tetapi pemeriksaan menunjukkan fungsi paru mereka sudah menurun," tutur Cynthia.
Untuk itu, Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso mengajak warga agar meningkatkan kesadaran terhadap sumber polusi yang dapat dikendalikan. Beberapa langkah sederhana tapi penting meliputi tak membakar sampah, tidak merokok maupun menggunakan vape di lingkungan anak, atau menghindari membawa anak ke lokasi renovasi.
Selain itu, orangtua perlu mengenakan masker pada anak usia di atas tiga tahun saat mutu udara buruk, memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi resmi Kementerian Lingkungan Hidup. Akan lebih baik lagi jika memakai penyaring udara, memperbanyak ventilasi yang baik, serta menanam pohon dan tanaman hijau di sekitar rumah.
"Jadi, anak-anak belum mampu melindungi dirinya sendiri. Karena itu mereka harus dilindungi oleh orangtua, guru, tenaga kesehatan, dan seluruh lingkungan di sekitarnya agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi terbaiknya," kata Piprim.





