Jakarta, ERANASIONAL.COM – Pemerintah Iran melayangkan ultimatum keras kepada Amerika Serikat (AS) dengan ancaman konsekuensi yang fatal.
Langkah ini diambil menyusul aksi serangan udara terbaru dari pihak militer AS yang dinilai telah mencederai kesepakatan gencatan senjata antar kedua belah negara.
Menanggapi pernyataan Presiden Donald Trump di sela-sela KTT NATO di Ankara mengenai rencana operasi militer ke Pulau Kharg, Ebrahim Rezaei selaku juru bicara Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, memberikan peringatan yang sangat berani.
“Tidak akan ada satu pun tentara Amerika yang pulang dalam keadaan hidup. Silakan datang, kami menunggu kalian,” tegas Rezaei melalui pernyataannya yang dikutip dari Al Jazeera.
Tidak hanya dari pihak parlemen, ket ketegangan juga disuarakan oleh penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee.
Melalui platform digital X, tokoh yang dikenal sebagai orang kepercayaan Mojtaba Khamenei ini menegaskan komitmen negaranya untuk melakukan aksi balasan yang jauh lebih masif.
Rezaee mengutip sebuah ayat suci Al-Qur’an mengenai hak untuk membela diri secara setara:
Ia menambahkan bahwa pihak agresor beserta seluruh aliansinya dipastikan akan menerima balasan yang sangat setimpal.
Kronologi Pelanggaran KesepakatanSituasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah militer AS meluncurkan serangkaian serangan udara ke wilayah selatan Iran pada Selasa (7/7) dan Rabu (8/8).
Pihak Washington mengeklaim operasi tersebut merupakan respons atas tindakan Teheran yang dianggap masih mengganggu lalu lintas kapal komersial di kawasan Selat Hormuz.
Sebaliknya, Iran mengecam keras tindakan tersebut dan menuduh Amerika Serikat telah secara sepihak melanggar Nota Kesepahaman (MoU) serta kesepakatan damai yang baru saja ditandatangani pada Juni lalu sebuah regulasi yang awalnya dirancang untuk mengakhiri konflik bersenjata sejak Februari. []





