JAKARTA, KOMPAS.com - Niat melamar pekerjaan dengan harapan mendapat gaji yang layak, dua orang justru mengaku menjadi korban dugaan penipuan setelah diminta mentransfer uang sebesar Rp 2,5 juta di awal dengan dalih biaya pemeriksaan kesehatan dan seragam.
Mereka adalah Jieyes Mishael Panjaitan (18), pemuda asal Purwakarta, serta Fira Oktaviani (25), perempuan asal Sumatera Barat (Sumbar).
Keduanya mengungkapkan proses wawancara kerja yang mereka jalani di sebuah perusahaan yang berkantor di ruko Jalan Pangeran Tubagus Angke, Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Baca juga: Dugaan Loker Bodong di Jakbar Diselidiki Usai Pelamar Diminta Bayar Rp 2,5 Juta
Fira mengatakan, sebelum mendapat panggilan wawancara, ia melamar pekerjaan melalui berbagai media, salah satunya platform lowongan kerja dan hasil memindai kode QR (QR code) dari unggahan lowongan kerja di media sosial.
"Untuk posisi waiter, kasir, dan cook, tapi saya memilih melamar sebagai kasir," kata Fira kepada Kompas.com melalui pesan langsung (DM) Instagram, Selasa (7/7/2026).
Pada 3 Juli 2026, Fira terbang dari Sumatera Barat ke Jakarta untuk mengikuti proses wawancara dengan membawa seluruh persyaratan yang diminta.
"Pas sampai sana ternyata bentuknya ruko. Di depan sudah ada penjaga, kayaknya satpam. Terus saya disuruh masuk," katanya.
Baca juga: Kisah Pelamar dari Sumbar Nyaris Tertipu Loker Bodong di Jakbar, Dijanjikan Rp 500.000 Sehari
Saat masuk, Fira mengaku bertemu dengan seorang perempuan yang langsung meminta surat lamaran yang dibawanya untuk proses wawancara.
"Terus pas aku diinterview, ibu-ibu yang menginterview aku langsung bilang, 'Di sini kakak keterima sebagai kasir ya, Kak.' Terus dijelasin, 'Di sini kakak nanti dapat Rp 500.000 per hari untuk makan'," kata Fira.
"Terus gaji sampai Rp 6 juta katanya. Terus nanti dapat baju sama hijab juga," tambahnya.
Mendengar hal itu, Fira mengaku senang karena gaji yang ditawarkan cukup besar. Namun, ia mulai curiga ketika diminta membayar sejumlah uang dengan dalih biaya awal.
Baca juga: Diduga Jadi Korban Rekrutmen Bodong di Jakbar, Pelamar Kerja Diminta Bayar Rp 2,5 Juta untuk MCU dan Seragam
"Ujungnya dia baru ngomong, 'Nanti kalau kakak mau kerja di sini, kan kakak udah diterima nih, jadi kita bayar awal Rp 2,5 juta. Kalau kakak nanti udah bayar, nanti kita langsung berangkat sama yang lain juga, tapi bayarnya sekarang langsung,'" ucap Fira menirukan perkataan pewawancara.
Karena curiga, Fira mengatakan dirinya meminta izin untuk menghubungi sang kakak setelah diminta membayar Rp 2,5 juta.
"Terus kakak aku bilang, 'Masa iya bayar di awal? Penipuan itu,'" ucap Fira menirukan perkataan kakaknya.
Setelah berdiskusi melalui telepon dengan kakaknya, Fira memutuskan meninggalkan lokasi dan tidak membayar uang yang diminta.
Baca juga: Job Fair Bekasi 2026 Terapkan Sistem Digital, Pelamar Cukup Bawa Berkas PDF
"Udah di luar aku duduk, terus semua keluarga aku nelpon, nyuruh pergi dari sana. 'Kabur aja, tinggalkan aja lamarannya,'" jelas Fira menirukan ucapan keluarganya.
Lebih lanjut, Fira mengatakan, saat itu dirinya tidak sendirian mengikuti wawancara.
Menurut dia, ada sejumlah pelamar lain yang juga sedang menjalani proses serupa.
"Dan di sana dia juga nunjukin foto orang-orang yang udah bayar. Katanya, 'Ini buktinya,'" tuturnya.
Sudah bayar Rp 2,5 juta, tetapi tidak ada kejelasanPemuda bernama Jieyes Mishael Panjaitan (18) menjadi salah satu orang yang mengaku menjadi korban dugaan penipuan setelah mentransfer uang Rp 2,5 juta.
Baca juga: Perusahaan Chip AI Ini Tak Lagi Wajibkan Pelamar Punya Ijazah S1





