Menggulir Layar Tanpa Henti Melelahkan Otak? Olahraga Bisa Menjadi Penangkal

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Di sela bekerja, belajar, atau bahkan sebelum tidur, banyak orang hanya berniat membuka TikTok atau Instagram Reels selama lima menit. Kenyataannya, satu video memancing video berikutnya. Tanpa terasa, setengah jam bahkan satu jam berlalu. Yang tersisa bukan hanya waktu hilang, tapi kadang juga sulit berkonsentrasi atau mudah lupa.

Fenomena itulah yang saat ini semakin mendapat perhatian dari para ilmuwan. Sebab, dampak buruk scrolling atau menggulir layar ini kian nyata bagi kehidupan modern.

Sebuah penelitian di Frontiers in Psychology yang diterbitkan pada Senin (6/7/2026) menemukan bahwa kebiasaan mengonsumsi video pendek berlebihan terkait menurunnya kemampuan memori kerja (working memory). Tian Feng, peneliti dari Department of Physical Education, Henan Sport University, China menjadi penulis pertama laporan ini.

Baca Juga”Scrolling” Tak Sudah, Otak Pun Lelah

Menurut dia, memori kerja adalah sistem penyimpanan sementara di otak yang memungkinkan seseorang mengingat informasi, berkonsentrasi, dan mengambil keputusan.

Memori kerja dapat diibaratkan sebagai "meja kerja" bagi otak. Di sanalah informasi disimpan sementara ketika kita membaca, berhitung, memahami percakapan, atau memecahkan masalah. Kapasitasnya terbatas.

Setiap kali kita berpindah dari satu video ke video berikutnya, otak harus mengganti konteks berpikir hanya dalam hitungan detik. Pergantian yang berlangsung terus-menerus inilah yang diduga membuat memori kerja bekerja jauh lebih keras.

Temuan ini melengkapi penelitian sebelumnya oleh Meiting Wei, dari Center for Educational Cognitive Neuroscience, Yunnan Normal University, China yang dipublikasikan dalam Communications Psychology pada Mei 2026.

Tim peneliti dari Yunnan Normal University dan Central China Normal University menemukan bahwa video pendek bukan hanya berkaitan dengan melemahnya memori kerja, tetapi juga membuat informasi lebih sulit tersimpan dalam memori jangka panjang.

Baca Juga”Scrolling” Terus sampai Diri Tak Terurus

Peserta yang belajar melalui rangkaian video pendek lebih cepat melupakan materi dibandingkan mereka yang menonton video berdurasi lebih panjang. Para peneliti menggunakan tes memori kerja 2-back, metode yang lazim dipakai dalam ilmu saraf untuk mengukur kemampuan seseorang menyimpan dan memanipulasi informasi.

Selama tes berlangsung, aktivitas korteks prefrontal, bagian otak yang berperan dalam perhatian, pengambilan keputusan, dan kontrol kognitif, dipantau menggunakan functional near-infrared spectroscopy (fNIRS), teknologi yang mengukur perubahan aliran darah di otak.

Hasilnya menunjukkan pola konsisten. Peserta dengan kebiasaan menonton video pendek paling intens memperoleh skor memori kerja lebih rendah dibandingkan mereka yang lebih jarang menggunakannya. Aktivitas di korteks prefrontal mereka juga menunjukkan pola yang berbeda ketika menyelesaikan tugas-tugas kognitif.

Persoalannya bukan sekadar durasi video, melainkan cara informasi disajikan. Setiap video menghadirkan topik, emosi, dan konteks yang berbeda hanya dalam hitungan detik.

Otak terus dipaksa berpindah perhatian sebelum sempat mengolah informasi secara mendalam. Akibatnya, informasi hanya lewat sebagai rangsangan sesaat, bukan berubah menjadi pengetahuan yang menetap.

Ibarat berjalan di pasar malam yang penuh lampu warna-warni, musik, dan teriakan pedagang, perhatian kita terus menoleh ke berbagai arah. Banyak hal terlihat, tetapi hanya sedikit yang benar-benar tersimpan dalam ingatan.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil pemindaian otak menggunakan functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) pada penelitian sebelumnya. Video pendek diketahui menurunkan sinkronisasi aktivitas pada jaringan otak yang berperan dalam perhatian, memori episodik, dan kontrol kognitif.

Baca JugaUbah Kebiasaan ”Scrolling” Ngalor-ngidul

Sebaliknya, aktivitas justru meningkat pada wilayah otak yang bertugas merespons rangsangan baru. Dengan kata lain, otak menjadi semakin piawai menangkap hal-hal yang baru, tetapi kurang efektif menghubungkannya menjadi pemahaman yang utuh.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Memory pada tahun 2025 bahkan menemukan pergantian konteks amat cepat dalam video pendek mengganggu prospective memory, yaitu kemampuan mengingat sesuatu yang harus dilakukan di masa depan.

Hal ini berarti karakteristik utama video pendek, peralihan cepat dari satu konteks ke konteks lain, dapat mengganggu kemampuan otak mempertahankan tujuan dan rencana.

Cara menangkalnya

Untuk mengetahui cara menangkal dampak buruk video pendek ini, para peneliti juga membandingkan peserta berdasarkan kebiasaan berolahraga. Mereka menemukan bahwa mahasiswa yang rutin beraktivitas fisik menunjukkan kemampuan memori kerja lebih baik, bahkan ketika mereka juga cukup sering menonton video pendek.

Baca JugaRindu Mata yang Menatap, Bukan Jari yang Mengetik

Pemindaian fNIRS memperlihatkan peserta yang aktif berolahraga memiliki pola aliran darah di korteks prefrontal lebih efisien ketika menjalankan tugas memori. Sebaliknya, peserta yang jarang bergerak memperlihatkan aktivitas otak yang lebih besar untuk menyelesaikan tugas yang sama, seolah-olah otak mereka harus bekerja lebih keras.

Hal itu masuk akal secara biologis. Aktivitas fisik diketahui meningkatkan aliran darah ke otak serta merangsang produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan hubungan antarsel saraf.

Dalam uji acak terkontrol yang dipimpin Kirk I. Erickson dan dipublikasikan di PNAS pada 2011, latihan aerobik selama satu tahun meningkatkan volume hipokampus. Ini merupakan bagian otak yang berperan penting membentuk memori, serta memperbaiki kemampuan mengingat pada orang dewasa lebih tua.

Karena itu, olahraga tidak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga membantu otak mempertahankan kemampuan belajar, berkonsentrasi, dan mengingat. Sejalan dengan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan sedikitnya 150–300 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap pekan bagi orang dewasa.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan agar hasil studi ini tidak ditafsirkan secara berlebihan. Penelitian tersebut bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan bahwa video pendek secara langsung menyebabkan penurunan daya ingat.

Bisa saja orang yang memang memiliki rentang perhatian lebih pendek cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di platform video pendek. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan hubungan sebab akibat.

Namun jika dua riset yang terbit pada tahun sama itu disandingkan, gambaran besarnya jadi makin jelas. Penelitian di Communications Psychology menunjukkan video pendek membuat informasi lebih sulit tersimpan dalam memori jangka panjang.

Sementara penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Psychology menunjukkan konsumsi video pendek secara berlebihan berkaitan dengan menurunnya memori kerja, meski dampaknya dapat dikurangi melalui olahraga teratur.

Baca JugaMenggulir Layar Tanpa Arah, Tahap Awal Paparan ”Brain Rot”

Pesannya bukan berarti video pendek harus dijauhi sepenuhnya. Video singkat tetap bermanfaat untuk membangkitkan rasa ingin tahu, menjelaskan konsep sederhana, atau menjadi pintu masuk menuju pembelajaran lebih mendalam.

Masalah muncul ketika seluruh waktu luang dihabiskan untuk menggulir konten yang terus berganti tanpa jeda. Otak kehilangan kesempatan melakukan apa yang paling dibutuhkannya: memberi perhatian, menghubungkan gagasan, lalu menyimpannya menjadi pengetahuan.

Barangkali inilah paradoks terbesar era digital. Kita hidup di zaman paling kaya informasi sepanjang sejarah manusia, tetapi perhatian justru menjadi sumber daya makin langka. Kita semakin cepat mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu semakin mampu mengingat dan memahaminya.

Sesekali meletakkan ponsel, lalu berjalan, berlari, atau bersepeda selama beberapa puluh menit bukan hanya baik untuk tubuh, melainkan juga cara sederhana menjaga agar otak tetap mampu berpikir jernih di tengah banjir informasi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Geledah Rumah di Sentul, Polisi Temukan Emas Batangan 74 Kg
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Guru Besar UB Dukung Kortas Tipikor Polri Usut Dugaan Korupsi Pemenuhan Batu Bara
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia Pasifik 2026 Jadi 4,9 Persen
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kendalikan Inflasi, Pemprov Papua Kembangkan Lima Sentra Cabai
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Begini Penampakan Rumah Mewah di Sentul yang Digeledah Polisi, Aset Rp476 Miliar Disita
• 7 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.