Oleh: KH Rakhmad Zailani Kiki, Penulis buku Direktori Ulama & Habaib Betawi
REPUBLIKA.CO.ID, Walau kesebelasan Arab Saudi di perhelatan Piala Dunia tahun 2026 ini tersingkir di fase grup, namun peran sertanya di perhelatan sepak bola dunia tersebut memiliki sejarah panjang sejak olahraga terpopuler di bumi itu mulai digandrungi masyarakatnya sejak awal abad ke-19. Ketika itu, tim nasional Arab Saudi dikenal dengan nama Najd atau Nejed. Di kesebelasan Najd ini ada pemain bola asal Betawi yang kemudian menjadi ulama terkemuka, yaitu Muallim Muhammad Radjiun Pekojan atau dikenal dengan nama Muallim Radjiun.
Nama lengkapnya adalah Mohammad Radjiun bin Abdurrahim bin Muhammad Nafe bin Abdulhalim. Dia lahir di Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Menghabiskan masa mudanya untuk menimba ilmu dari beberapa ulama Betawi, diantara Guru Manshur Jembatan Lima dan Guru Abdul Madjid Pekojan, sampai pada akhirnya bersama sang adik, Hasanat, pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Dia juga hobi bermain sepak bola.
Baca Juga
Blue Stream Diserang, Akankah Putin dan Erdogan Makin Dekat?
Behind The Scene Special Interview Wamenhaj
Polisi Polres Tegal Kota Pukuli dan Paksa Istri Pakai Sabu
Perkenalannya dengan dunia sepak bola terjadi ketika Perang Dunia II mulai pecah yang memutuskan jalur laut dan otomatis memutuskan kiriman uang dari Tanah Air. Untuk menyambung hidup, beliau akhirnya menjadi pemain sepakbola di kesebelasan Najd atau Nejed. Hasil dari bermain bola ini bukan untuk dinikmatinya sendiri tetapi juga dibagikan kepada puluhan teman-teman dan mukimin dari pelosok Nusantara, di antara temannya tersebut yang menjadi ulama Betawi terkemuka adalah KH Noer Alie, pahlawan nasional dari Bekasi.
Setelah belasan tahun di Makkah, Muallim Radjiun kembali ke Tanah Air dan bergabung dengan beberapa teman serta juniornya di Jam`iyatul Qurro wal Huffazh, organisasi yang menaungi para qori dan penghafal al-Qur`an, antara lain: KH Tb. Mansur Ma`mun, KH Shaleh Ma`mun Serang, Banten, KH Abdul Hanan Said, KH Abdul Aziz Muslim.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dia juga aktif di NU (Nahdlatul Ulama) dan bersahabat karib dengan KH Abdullah Syafi`i (pendiri pergururuan Asy-Syafi`iyyah) dan KH Thahir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyah). Karirnya di birokrasi adalah menjadi Penasihat Ahli Bidang Agama Menteri Utama Bidang Kesra RI yang ketika itu dijabat oleh Dr KH Idham Cholid.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.