JAKARTA, KOMPAS.TV – Mayoritas generasi muda, termasuk di Indonesia, masih memiliki aspirasi kuat untuk membangun keluarga. Namun, tekanan ekonomi dan sulitnya akses terhadap perumahan membuat banyak dari mereka menunda mewujudkan keinginan tersebut.
Temuan ini terungkap dalam Demographic Futures Survey yang dirilis Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) dalam rangka Hari Kependudukan Dunia (HKD) 2026.
Hasil survei tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa penurunan angka fertilitas terjadi karena generasi muda tidak lagi ingin menikah atau memiliki anak.
Baca Juga: Data BPS: Tren Menikah Kian Bergeser, 71 Persen Pemuda Indonesia Banyak yang Jomblo
Sebaliknya, banyak anak muda menilai kondisi ekonomi yang belum mendukung menjadi alasan utama mereka menunda membangun keluarga.
Survei Global Libatkan 100.000 Responden di 73 NegaraDemographic Futures Survey diluncurkan secara global pada 7 Juli 2026 dengan melibatkan 100.000 responden berusia 18 hingga 39 tahun di 73 negara.
Hari Kependudukan Dunia tahun ini mengusung tema global "Mewujudkan harapan dan aspirasi orang muda, hari ini dan untuk masa depan.
Survei menunjukkan faktor ekonomi menjadi pertimbangan utama sebelum generasi muda memutuskan berkeluarga.
Sebanyak 88 persen responden menilai keamanan finansial sebagai prasyarat menjadi orang tua, disusul pekerjaan yang stabil (87 persen) dan kesiapan emosional (85 persen).
Selain itu, 57 persen responden menyebut tekanan ekonomi dan keterbatasan akses perumahan sebagai hambatan utama dalam membangun hubungan dan keluarga.
Baca Juga: DPR Respons Survei Litbang Kompas soal Kondisi Ekonomi Indonesia: 56% Warga Menilai Buruk
Meski demikian, delapan dari sepuluh responden tetap menilai kebahagiaan dan sukacita yang dihadirkan anak menjadi alasan utama mereka ingin memiliki keturunan.
UNFPA: Bukan Tidak Mau BerkeluargaPenulis : Rizky L Pratama Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- UNFPA
- Hari Kependudukan Dunia 2026
- Demographic Futures Survey
- generasi muda
- berkeluarga
- ekonomi





