BANDUNG, KOMPAS - Tiga warga tewas akibat ledakan yang diduga berasal dari peluru mortir di Kampung Ciparang, Desa Cipatat, Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (8/7/2026). Pusat Pendidikan Infanteri TNI Angkatan Darat membantah mortir itu milik pihaknya.
Tiga warga tewas akibat ledakan yang diduga berasal dari peluru mortir di sebelah rumah seorang warga di Kampung Ciparang, Desa Cipatat, sekitar pukul 11.00 WIB. Identitas tiga korban adalah, Ade (21), selaku pemilik rumah, Suhri (51), dan Rodiana (40).
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 11.00 ketika korban mencoba membuka mortir dengan cara dipukul menggunakan palu. Korban diduga kerap memungut amunisi dan mortir bekas latihan militer yang rawan bahaya di lokasi tersebut.
Ade dan Suhri tewas di lokasi kejadian dengan luka berat di sejumlah bagian wajah, leher, dan dada. Sementara Rodiana juga dengan kondisi luka berat meninggal pada pukul 17.25 setelah dirawat di Rumah Sakit Dustira.
Komandan Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) Brigadir Jenderal Zaipul Rahman saat diwawancara pada Kamis (9/7/2026) mengatakan, lokasi ledakan berada di luar lokasi latihan militer Pusdik Infanteri, yakni di rumah warga di Kampung Ciparang. Pusdikif juga berada di daerah Cipatat.
Ia pun membantah mortir yang meledak itu di lokasi latihan militer milik Pusdikif. Sebab, tak hanya Pusdikif namun juga satuan militer lainnya yang kerap berlatih di lokasi latihan militer.
"Saya luruskan informasi yang beredar bahwa mortir meledak di rumah warga. Selain itu, daerah latihan Pusdikif juga digunakan semua jajaran TNI," katanya.
Zaipul menambahkan, pihaknya turut bersinergi dengan aparat kepolisian untuk mengungkap asal mortir tersebut. "Kami telah menerjunkan tim untuk membantu polres setempat menyelidiki mortir tersebut," katanya.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Komisaris Besar Hendra Rochmawan mengatakan, tiga warga yang meninggal itu sehari-hari berprofesi sebagai pemulung.
"Diduga ledakan terjadi saat korban mencoba membuka mortir dengan cara dipukul menggunakan palu," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Polsek Cipatat Komisaris DMS Andriani, menuturkan, pihaknya langsung mendatangi TKP untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan evakuasi korban setelah insiden tersebut.
Polisi telah memasang garis polisi di lokasi kejadian untuk penyelidikan lebih lanjut. Tim Inafis dan penjikan bom (jibom) juga dilibatkan guna memastikan sterilisasi lokasi dari sisa bahan peledak lain yang mungkin masih ada
"Berdasarkan keterangan awal di lokasi, ketiga korban menemukan bekas peluru jenis mortir dalam kondisi masih aktif. Tanpa menyadari bahaya, korban berusaha membuka proyektil dengan cara dipukul menggunakan palu hingga akhirnya meledak," tutur Andriani.





