Dibanding gunung lain di Jawa Timur, seperti Semeru, Arjuno-Welirang, dan Raung yang memiliki tinggi di atas 3.000 meter di atas permukaan laut, Kelud di perbatasan Kabupaten Kediri, Malang, dan Blitar, hanya separuhnya. Namun demikian, saat erupsi, gunung setinggi 1.731 mdpl itu memiliki tenaga yang tak bisa dianggap enteng.
Selama dua hari, 7-8 Juli 2026, pihak terkait, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, organisasi perangkat daerah, TNI-Polri, relawan, hingga masyarakat mengikuti gladi posko dan lapangan kesiapsiagaan menghadapi bencana Kelud. Latihan digelar di Selorejo Camping Ground, Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.
Adapun Ngantang merupakan salah satu dari tiga kecamatan di Malang yang terdampak erupsi 2014. Seperti daerah lain di Kediri, kecuali Blitar yang relatif tidak banyak terpapar, kawasan ini sempat tertutup material vulkanik tebal hingga menimbulkan sejumlah kerusakan. Total ada empat korban tewas akibat letusan tersebut dan semuanya berasal dari Ngantang.
Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib mengatakan, gladi lapangan bukan sekedar kegiatan seremonial melainkan sarana untuk menguji implementasi sistem komando penanganan darurat bencana. Mulai dari proses informasi, pengambilan keputusan, koordinasi lintas sektor, mobilisasi personel, hingga evakuasi masyarakat, dan penanganan pascabencana.
Oleh karena itu, dia mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi, membangun budaya sadar bencana, serta meningkatkan kapasitas masyarakat.
“Jangan sampai ego sektoral menghambat proses penanganan darurat. Dalam situasi bencana, yang diperlukan kerjasama, komunikasi efektif, serta keputusan cepat dan tepat,” ucapnya, Rabu (8/7/2026).
Setelah erupsi 12 tahun lalu, status Kelud sendiri hingga kini masih Normal (Level 1). Meski demikian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawah dalam radius 1 kilometer (km). Selain itu, masyarakat dan penambang mesti mewaspadai potensi lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Kelud.
Kelud pun masih banyak dikunjungi wisatawan. Mereka melihat danau kawah yang ada di puncak dengan air berwarna hijau muda atau biru keputihan. Untuk menuju ke tempat itu, pelancong mesti melalui jalur Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
Meski aktivitasnya masih normal, bukan berarti kewaspadaan akan gunung yang namanya berarti sapu (kelut-Jawa) dikesampingkan. Masih ingat erupsi 2014? Kelud meletus dahsyat kurang dari dua jam setelah statusnya naik dari Waspada menjadi Awas (Level 4). Kenaikan status terjadi pukul 21.15 WIB dan letusan terjadi pukul 22.50.
Begitu pagi menjelang, sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta, bahkan Bandung di Jawa Barat telah berselimutkan abu tebal. Aktivitas masyarakat hingga penerbangan di beberapa bandara pun terganggu. Pembersihan besar-besaran dilakukan, mulai dari badan pesawat yang tengah terparkir di apron hingga benda cagar budaya, seperti Candi Prambanan dan Borobudur.
Erupsi 2014 pun disebut-sebut sebagai letusan terdahsyat Kelud pada era modern. Tinggi lontaran material ke angkasa mencapai 17 kilometer (km). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 76.388 orang mengungsi. Sedangkan kerusakan bangunan 12.304 unit, belum termasuk lahan pertanian yang terpapar pasir dan abu.
Kelud sendiri merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Sejak tahun 1000 M Kelud telah meletus lebih dari 30 kali dengan letusan terbesar 5 Volcanic Explocivity Index. Letusan terakhir Kelud terjadi pada 13 Februari 2014.
Seperti gunung berapi lainnya di Jawa, gunung stratovulcano ini terbentuk akibat proses subduksi lempeng Benua Indo-Australia terhadap Eurasia. Sejak 1300 M, gunung ini aktif meletus dengan rentang waktu pendek, 7-25 tahun. hal ini menempatkannya sebagai gunung yang berbahaya bagi manusia.
Salah satu yang menjadi ciri khas Kelud ialah keberadaan danau di kawah. Saat erupsi, danau kawah ini bisa mengalirkan lahar letusan dalam jumlah besar yang berbahaya bagi masyarakat sekitar. Letusan freatik tahun 2007 memunculkan kubah lava yang kian membesar dan menutup danau kawah. Kubah lava ini kemudian hancur pada letusan 2014.
Dari data PVMBG, letusan Kelud memakan korban jiwa terbanyak terjadi pada 1586, namun tidak tercatat secara detil mengenai kronologis peristiwanya. Saat itu, setidaknya 10.000 warga menjadi korban erupsi.
Pada 1919, disebut-sebut sebagai letusan terdahsyat Kelud yang terjadi pada abad 20. Letusan terjadi pada tengah malam, 19-20 Mei. Suara ledakannya terdengar hingga Kalimantan. Terjadi hujan abu disertai kerikil dan batu. Adapun hujan abunya sampai Pulau Bali dengan endapan abu diperkirakan mencapai 284 juta meter kubik (m3) atau setara 100 juta m3 batu andesit.
Volume danau kawah sebelum erupsi diperkirakan sebanyak 40 juta m3 pada pukul 01.30 meluncur memasuki Kota Blitar dengan kecepatan luncur 65 meter per jam. Akibanya terjadi kerusakan cukup besar, ada 104 desa terdampak, 20.200 hektar lahan pertanian rusak, dan 1.571 ekor ternak mati.
Untuk mengurangi volume air di danau kawah, pada 1920 dimulai pengerjaan terowongan dan selesai pada 1924. Terowongan itu mengurangi ketinggian danau kawah hingga 134,5 meter dengan volume air 1,8 juta m3.
Pada letusan 31 Agustus 1951, abu vulkanik Kelud sampai Bandung di Jawa Barat. Saat itu, sekitar 200 juta m3 dan luncuran lahar mencapai 12 kilometer. Tercatat tujuh korban tewas (3 di antaranya petugas PVMBG dan 157 lainnya terluka.
Pada 26 April 1966, Kelud kembali meletus dan menewaskan 210 orang. Volume danau kawah yang besar mencapai 21,6 juta m3 (melebihi sebelum letusan 1951 yang hanya 1,8 juta m3) menyebabkan banjir lahar di Kali Badak, Kali Putih, Kali Ngobo, Kali Konto, dan Kali Semut.
Pada 1990, letusan Kelud kembali memakan korban jiwa sebanyak 32 orang. Sekitar 500 rumah dan 50 bangunan sekolah dalam radius 15 km rusak. Pada 2007, terjadi kegempaan dan erupsi efusif menghasilkan kubah lava.
Melihat latar belakang dan sejarah letusan yang terjadi di Kelud, tak berlebihan kiranya jika kegiatan gladi lapangan menjadi penting. Begitu pula kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Pangarso Suryotomo, yang hadir saat gladi, menekankan, perencanaan kesiapsiagaan yang dibangun dalam bentuk rencana kontigensi (Renkon) perlu dilakukan. Gladi bukan sebatas latihan tapi untuk menguji Renkon.
“Tugas dan peran dalam gladi harus dihayati dengan baik. Kelak jika ada bencana yang terdampak langsung adalah masyarakat. Mereka harus dilindungi dan diselamatkan,” katanya.
Begitu pula kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Tujuannya, agar komunikasi dalam kondisi darurat bisa diketahui, bagaimana proses evakuasi dijalankan, terutama bagi warga yang enggan menggungsi. Memobilisasi komunitas relawan di area risiko terdampak bencana juga menjadi kekuatan tersendiri.
Pelaksanaan gladi lapangan sendiri merupakan kerja sama BPBD Kabupaten Malang dengan Pemerintah Australia melalui program penguatan ketangguhan bencana (SIAP SIAGA). “Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko bencana terbesar. Maka, kegiatan penanggulangan bencana penting. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara yang penting bagi Australia,” ucap Head of Subnational Program SIAP SIAGA Deswanto Marbun.
Hasil simulasi yang telah dilakukan akan menjadi bahan evaluasi untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor di Malang dan daerah sekitarnya. Khususnya dalam menyamakan persepsi, mengasah keterampilan, dan mempererat jejaring komunikasi antarinstansi dalam menentukan jalur evakuasi, titik pengungsian, serta mekanisme distribusi logistik.





