Colliers Indonesia melaporkan perkembangan industri properti. Segmen hunian ekspatriat meningkat dan strategi perang harga mulai mereda.
IDXChannel— Colliers Indonesia memaparkan fenomena menarik yang menandai babak baru industri properti di Jabodetabek, Bali, hingga Semarang. Yakni berakhirnya era adu diskon atau perang harga, berganti menjadi kompetisi kualitas aset dan kekuatan ekosistem.
“Pasar properti kita sudah semakin dewasa. Konsumen dan investor tidak lagi silau dengan gimmick harga murah. Mereka sekarang jauh lebih kritis dan memilih membayar lebih demi mendapatkan properti yang punya nilai tambah nyata, efisiensi operasional, dan ekosistem pendukung yang matang," ungkap Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, pada
Rabu (8/7/2026).
Meskipun secara angka pasar perkantoran Jakarta masih dibayangi limpahan ruang kosong sebesar 3 juta meter persegi dari total pasokan 11 juta meter persegi, Colliers melihat adanya pergerakan masif dari para penyewa.
Kondisi tenant market ini justru dimanfaatkan oleh korporasi untuk melakukan relokasi besar-besaran demi mengincar gedung dengan spesifikasi lebih tinggi (flight to quality).
Gedung-gedung yang memiliki sertifikasi ramah lingkungan (ESG), akses langsung ke transportasi publik, serta opsi ruang kantor siap pakai (fitted out) menjadi yang paling diperebutkan karena memangkas biaya modal pindahan.
Berkat tren ini, gedung perkantoran kelas premium memimpin pemulihan dengan sangat percaya diri, bahkan sukses mengerek tarif dasar sewa rata-rata ke angka Rp347.005 per meter persegi per bulan, menyamai level keemasan sebelum pandemi.
Dari sektor apartemen strata di Jakarta, pengembang terpantau kompak mengerem peluncuran proyek baru demi fokus mengikis sisa inventori, menahan total pasokan di angka 232.000 unit.
Pembeli saat ini didominasi oleh end-user yang memanfaatkan insentif PPN DTP (65 persen transaksi terjadi pada unit siap huni). Di tengah kenaikan suku bunga yang membuat investor tiarap, unit tipe Studio menjadi primadona di 40 persen proyek karena skema cicilan yang masuk akal.
Segmen Hunian Ekspatriat Ketiban Dunian Runtuh Berkat Pelemahan RupiahNamun, berbeda dengan segmentasi serviced apartment dan hunian ekspatriat. Melemahnya nilai tukar rupiah justru memberi keuntungan bagi ekspatriat pemegang bujet USD untuk meng-upgrade hunian mereka.
Sektor ini juga mendapat untung dari ekspansi agresif perusahaan asing di bidang minyak, gas, dan pertambangan yang memicu lonjakan permintaan sewa hunian premium berfasilitas lengkap (fully furnished).
Paparan ritel menyajikan realita kontras antara mal kelas atas (upper-class) dan menengah ke bawah di Jabodetabek. Mal-mal elit mencatatkan performa gemilang dengan tingkat hunian mencapai 89,4 persen karena kejelian pengelola menyusun bauran penyewa (tenant mix) dan menciptakan pengalaman belanja gaya hidup.
Sebaliknya, mal kelas menengah ke bawah jalan di tempat dengan tingkat okupansi hanya 63,3 persen akibat gagal beradaptasi dengan tren rekreasi baru masyarakat.
Ketimpangan ini membuat pengembang mal papan atas memiliki kuasa penuh dalam menentukan harga sewa (pricing power), sehingga pertumbuhan tarif ritel di Jakarta melesat jauh meninggalkan kawasan Bodetabek.
Sektor Perhotelan Gaet Peluang Konser dan Long Stay Turis AsingDi sektor perhotelan, manajemen hotel kini secara resmi menggeser fokus performa. Alih-alih hanya mengejar volume tingkat keterisian kamar, industri hotel kini berlomba mengoptimalkan pendapatan per kamar (RevPAR) melalui personalisasi layanan dan diversifikasi pendapatan non-kamar.
Investasi hotel mewah bintang 5 pun tetap melaju kencang, mendominasi 52,3 persen pasokan masa depan di Jakarta (fokus CBD) dan 91,6 persen di Bali (fokus Seminyak-Canggu dan Ubud).
Strateginya kini lebih spesifik: hotel Jakarta mulai gencar menangkap peluang dari maraknya konser musik dan ajang hiburan berskala besar (event & entertainment), sedangkan Bali fokus menggaet turis berkualitas dengan masa tinggal lebih lama lewat pendekatan kearifan lokal.
Data Center Catatkan Serapan Lahan Terluas di SemarangKawasan Semarang Raya sukses mencuri perhatian. Wilayah ini berhasil membuktikan transisinya dari basis industri padat karya murah menjadi hub manufaktur teknologi tinggi bernilai tambah.
Dari total pasokan lahan 4.100 hektare (dengan potensi ekspansi 2.700 hektare hingga 2030), penyerapan lahan pada Semester I 2026 melonjak tajam hingga 51 hektare—setara dengan setengah dari rata-rata penjualan tahunan dalam tiga tahun terakhir.
Meskipun tenant tradisional masih didominasi oleh sektor tekstil (38 persen), sepanjang paruh pertama tahun 2026 ini, Data Center secara mengejutkan keluar sebagai sektor penyerap lahan terbesar dengan porsi 28 persen, menyalip garmen (16 persen) dan aksesori (15 persen).
Kombinasi harga lahan yang kompetitif, insentif Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), konektivitas Tol Trans Jawa, serta efisiensi Pelabuhan Tanjung Emas menjadi senjata utama Semarang untuk memikat investor infrastruktur digital global.
(Eugenia Siregar)





