JAKARTA, KOMPAS.TV – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai pemilihan teknologi pengolahan sampah yang tepat dapat menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Menurut BRIN, teknologi yang digunakan harus disesuaikan dengan karakteristik sampah dan kondisi masing-masing daerah agar pengelolaan sampah berjalan lebih efektif.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta mengatakan, tidak ada satu teknologi yang dapat diterapkan secara seragam di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Hari Ke-10 Pemadaman di TPA Jatiwaringin, 91 Persen Area Sudah Berhasil Padam | KOMPAS SIANG
Pemilihan teknologi harus mempertimbangkan karakteristik sampah, skala timbulan, kondisi wilayah, kesiapan infrastruktur, potensi pasar produk hasil pengolahan, serta kemampuan pembiayaan dan pengoperasian dalam jangka panjang.
Menurut Wahyu, pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah, tetapi juga mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
"Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya," kata Wahyu dalam diskusi di Jakarta, Kamis (9/7/2026), dikutip dari Antara.
Pengolahan Sampah Harus Disesuaikan dengan KarakteristiknyaWahyu menjelaskan, setiap jenis sampah memerlukan teknologi pengolahan yang berbeda.
Sampah organik dapat dikurangi melalui pengomposan, biodigester atau anaerobic digestion, serta teknologi biokonversi.
Sementara itu, material yang masih memiliki nilai ekonomi perlu dipilah dan dikembalikan ke rantai daur ulang.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- BRIN
- kebakaran TPA
- teknologi pengolahan sampah
- pengelolaan sampah
- TPA
- RDF





