Apindo: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Harus Disikapi Sebagai Peringatan Dini

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memandang bahwa proyeksi sejumlah lembaga internasional yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah target pemerintah 5,4% pada 2026 patut disikapi sebagai peringatan dini untuk memperkuat upaya dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyatakan bahwa dunia usaha telah melihat sejumlah sinyal perlambatan pada beberapa indikator aktivitas bisnis, meskipun intensitasnya tidak merata di seluruh sektor dan belum dapat digeneralisasi sebagai pelemahan menyeluruh.

Dia menyinggung pelemahan sejumlah indeks penting seperti Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia di sektor manufaktur, penurunan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian, hingga Indeks Penjualan Riil (IPR) Bank Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.

Dari sisi eksternal, terdapat pula berakhirnya tren surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama enam tahun sebagai salah satu indikator yang perlu dicermati.

“Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa kondisi tersebut belum berarti seluruh aktivitas usaha mengalami perlambatan secara seragam,” kata Shinta saat dihubungi Bisnis, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, beberapa sektor masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik, didukung oleh konsumsi pada kelompok tertentu. Selain itu, investasi disebutnya masih berjalan di sejumlah sektor strategis. 

Baca Juga

  • ADB Tahan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 di 5,2%
  • IMF Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 5% pada 2026
  • Ada Indikasi Perlambatan Ekonomi, Kadin Berharap Sektor Digital jadi Penyelamat

Shinta menerangkan bahwa dunia usaha bersikap realistis dan hati-hati dalam melihat berbagai data dan proyeksi ekonomi, lantaran menjadi salah satu referensi dalam membaca arah pasar dan menerjemahkannya ke dalam keputusan-keputusan bisnis.

Alih-alih berhenti bergerak, dia menyebut sejumlah adaptasi dilakukan pelaku usaha, antara lain dengan memperkuat manajemen risiko, memperkuat manajemen arus kas, hingga menjaga investasi jangka panjang secara selektif.

Sementara itu, investasi yang memiliki prospek baik tetap dilanjutkan seiring dengan upaya untuk mendukung daya saing, sembari lebih berhati-hati dalam memulai proyek baru yang bergantung pada kondisi pasar.

“Serta strategi lainnya seperti efisiensi operasional, diversifikasi pasar, mengutamakan produk yang bersifat value for money, dan lain-lain,” ujarnya.

Sejumlah lembaga internasional telah melaporkan proyeksi terbaru untuk laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Dana Moneter Internasional (IMF), misalnya, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tanah Air hanya akan menyentuh 5%.

Estimasi serupa juga disampaikan oleh Bank Dunia dalam outlook ekonomi edisi Juni 2026. Sementara itu, OECD bahkan lebih pesimistis dengan estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 hanya 4,7%, menurut proyeksi yang dirilis Juni.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polri Masih Selidiki Kaitan Rumah di Sentul dengan Jampidsus 
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Reuni Akbar FEM IPB Satukan Ribuan Alumni Lintas Generasi, Perkuat Kolaborasi Menuju Indonesia Emas 2045
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Pilihan Mobil Bekas Harga Rp80 jutaan
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
OJK Bongkar Skema Investasi Ilegal Asuransi Jiwa Prolife yang Janjikan Untung 14 Persen
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Chery Percepat Pengembangan Baterai Solid-State, Ajukan Paten Teknologi Baru
• 11 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.