Liputan6.com, Jakarta - Anak-anak dan kaum muda merupakan kelompok yang menanggung dampak terberat dalam perubahan iklim pada masa kini dan masa depan. Meskipun, peran mereka sangat kecil dalam menyebabkan perubahan iklim. Hal itu seperti disampaikan santri perempuan di Pekalongan, Jawa Tengah Siti Nafisaturrobiah.
"Biasanya hujan dimulai bulan Oktober sampai Januari disertai naiknya air rob. Rasanya sedih, sebab terkadang masih rajin ingin mengaji dan lagi semangat belajar. Kalau banjir datang otomatis Majelis dan kelas belajar terganggu dan dikurangi waktunya karena Nafisah dan santri mengungsi," cerita Siti.
Advertisement
Selain itu, pemuda di Pontianak Nur Alam Hidayatullah juga menyampaikan dirinya harus siap bangun pada pagi hari dengan banjir rob yang membuat air tiba-tiba tinggi.
"Kemudian bermain saat cuaca panas yang makin menyengat, dan hidup sehari-hari dengan polusi udara yang diakibatkan asap pabrik, kendaraan, dan kebakaran hutan," ucap Nur Alam.
Tantangan ini juga semakin berat bagi kaum muda dengan disabilitas. Hal itu seperti dialami Gressia Carolina, seorang perempuan muda dengan disabilitas netra di Jakarta.
"Saat hujan deras tiba-tiba turun, aku dan teman-teman netra harus tergesa-gesa mencari tempat berteduh dalam kondisi jalanan yang licin dan pandangan yang terbatas," kata dia.
"Belum lagi kalau cuaca ekstrem itu berujung banjir. Jangankan untuk kuliah atau berkegiatan, untuk keluar rumah pun kami tidak bisa kemana-mana karena jalanan menjadi medan yang sangat berbahaya bagi kami," jelas Gressia.




