JAKARTA, KOMPAS.TV - Sekretaris Kementerian BUMN 2005-2010 Said Didu menganggap penggeledahan yang dilakukan Kortastipidkor Polri disertai penyitaan 74 kilogram emas dan ratusan miliar rupiah adalah serangan oligarki kepada Presiden Prabowo Subianto.
Polri tidak mengungkap siapa tersangka dugaan suap atau gratifikasi di balik penggeledahan tersebut.
“Spekulasi saya bilang ini serangan oligarki. Kalau terjadi, itu serangan ke presiden,” kata Said.
“Presiden berkali-kali pidato, siapa pun yang menghalangi PKH akan berhadapan dengan Presiden, itu kasarnya dia. Jangan sampai ini tidak jelaskan, seakan-akan siapa tahu memang ini murni penegakan hukum tapi salah penanganan maka dianggap serangan ke tim PKH,” sambungnya.
Baca Juga: Said Didu Sebut Penggeledahan Polri Drama Tingkat Tinggi: Harusnya Normal Saja Kalau Tersangka Jelas
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur menuturkan, seharusnya Polri menyampaikan hasil penggeledahan itu dengan transparan agar publik tidak menduga-duga.
“Apa ini tindakan hukum atau ada unsur-unsur yang lain gitu. Bagi saya di situ jadi kuncinya,” ucap Isnur.
Rabu, 8 Juli 2026, Kortastipidkor Polri melakukan penggeledahan di 12 titik lokasi di wilayah DKI Jakarta hingga Bogor Jawa Barat.
Dari penggeledahan tersebut, Kortastipidkor Polri menyita 74 kilogram emas batangan dan uang Rp476 miliar dengan pecahan dolar Singapura dan Amerika Serikat.
Selain emas dan uang, turut disita oleh Kortastipidkor Polri dokumen hingga sebuah foto keluarga bergambar Jampidsus Febrie Ardiansyah bersama istri dan anak-anaknya.
Penulis : Ninuk Cucu Suwanti Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- polri
- polri geledah rumah jampidsus
- said didu
- serangan oligarki ke presiden
- presiden prabowo subianto





