Ribuan warga menghadiri prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di kompleks makam suci Imam Reza, Mashhad, Iran, Kamis (9/7). Seruan protes terhadap Amerika pun bergema saat peti jenazah tiba.
Dilansir Reuters, jenazah Khamenei diarak menggunakan truk melewati jalan-jalan utama Kota Mashhad menuju kompleks makam, diiringi para ulama dan ribuan warga yang membawa bendera Iran, poster foto Khamenei, serta berbagai spanduk dan slogan. Prosesi ini menjadi puncak rangkaian penghormatan terakhir yang sebelumnya digelar di sejumlah kota di Iran dan Irak.
Halaman makam berubah menjadi lautan pelayat saat senja tiba. Yel-yel menantang "Mati untuk Amerika" menggema di atas lantunan ratapan pemakaman dan musik bernada duka yang disiarkan melalui pengeras suara. Beberapa juga membawa spanduk bertuliskan "kami akan membunuh Trump".
Sementara, para ayatollah senior duduk menunggu di atas panggung yang ditinggikan.
Imam Reza adalah salah satu tokoh paling suci dalam Islam Syiah, dan kompleks makam di Mashhad, kampung halaman Khamenei, merupakan pusat ziarah dengan kubah emasnya dan masjid berkubah biru langit lainnya yang menjadi salah satu bangunan paling terkenal di Iran.
Saat kerumunan menunggu peti jenazah Khamenei dan keluarganya, selang-selang menyemprotkan air tinggi-tinggi ke udara ke arah para pelayat untuk menjaga mereka tetap sejuk.
Jenazah Khamenei, bersama dengan empat anggota keluarga yang tewas bersamanya, sebelumnya telah diarak melewati Teheran, pusat ulama Muslim Syiah di Qom, serta kota-kota makam Irak di Najaf dan Karbala.
Di setiap acara, kerumunan besar memadati jalan-jalan diiringi nyanyian ratapan Syiah yang berduka dan yel-yel slogan revolusioner.
Khamenei sendiri tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Mojtaba Khamenei Belum TerlihatSaat rangkaian acara pemakaman selama seminggu mencapai puncaknya, putra sekaligus penerus Khamenei, Mojtaba Khamenei, masih menyembunyikan diri dari publik setelah wajah dan tubuhnya cacat akibat serangan 28 Februari yang menewaskan ayahnya.
Keberadaan Mojtaba Khamenei, yang dinyatakan sebagai pemimpin tertinggi oleh majelis ulama pada awal Maret, seminggu setelah kematian ayahnya, masih menjadi misteri bagi warga Iran.
Ia belum pernah muncul di depan umum sejak perang dimulai dengan serangan yang menewaskan Ali Khamenei. Meskipun ia telah mengeluarkan pernyataan tertulis, tidak ada gambar, video, atau rekaman suara dirinya yang dirilis.
Sumber-sumber senior di Teheran mengatakan bahwa ia sedang dalam masa pemulihan, tetapi kondisinya belum cukup baik untuk tampil di depan umum. Layanan keamanan negara juga mencoba membatasi kemunculannya demi mengantisipasi adanya serangan AS lebih lanjut.





