Gelombang IPO Bangkitkan Gairah Saham Healthcare

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Minat investor terhadap saham-saham di sektor kesehatan kembali menunjukkan tren penguatan pada awal semester II/2026. Momentum ini ditandai dengan maraknya aksi initial public offering (IPO) sejumlah perusahaan medis serta pergerakan positif saham emiten eksisting di bursa.

Gairah pasar pada sektor ini kian tebal seiring resminya PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/7/2026).

Kehadiran produsen alat kesehatan diagnostik dalam negeri itu menambah deretan perusahaan healthcare yang masuk ke pasar modal dalam hari terakhir, menyusul PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk. (JECX).

Adapun tingginya animo pasar terhadap emiten baru di sektor kesehatan tecermin dari hasil penawaran umum PRDL yang mencatatkan kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga 709 kali pada porsi penjatahan terpusat.

Lonjakan pemesanan dari investor ritel domestik tersebut bahkan diklaim memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah IPO di Indonesia.

Direktur Utama Prodia Diagnostic Line Cristina Sandjaja mengungkapkan bahwa tingginya minat investor ini menjadi bukti kuat bahwa pasar saham domestik tetap bergairah memburu saham baru, asalkan ditopang oleh fundamental perusahaan yang kokoh serta penawaran rasio price to earnings yang atraktif.

Baca Juga

  • Kisah Balik Layar IPO PRDL, Dikebut 6 Bulan Turuti Arahan Andi Wijaya
  • Melihat Kinerja Saham-Saham Pendatang Baru, Mulai dari JELI hingga PRDL
  • Nitrasanata Dharma (JECX) Siap Genjot Ekspansi JEC Bali usai Resmi Listing di BEI

“Pasar saham Indonesia ini masih bergairah dan haus dengan investasi-investasi yang baru. Mereka juga mencari perusahaan yang fundamentalnya bagus,” ujar Cristina saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta,  Kamis (9/7/2026). 

Guna mengoptimalkan dana hasil IPO, PRDL berencana mengalokasikan sekitar 62% dana untuk pelunasan utang produktif terkait fasilitas produksi baru yang telah berjalan sejak April 2025. Selanjutnya, sekitar 20% dialokasikan untuk belanja berupa pembelian mesin penunjang, dan sisanya untuk modal kerja operasional.

Sementara itu, optimisme juga diperlihatkan oleh emiten kesehatan baru lainnya yakni EMMI. Perseroan memasang target tinggi dengan membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di level double digit hingga akhir tahun buku 2026.

Direktur Utama Esa Medika Mandiri Florian Chris Widjaja menyampaikan bahwa ruang pertumbuhan di sektor alat kesehatan domestik masih terbuka lebar. 

Untuk mengamankan target tersebut, perseroan menyiapkan strategi ganda, yaitu mempertahankan ceruk pasar institusi pemerintah sekaligus memperluas penetrasi pasar ke jaringan rumah sakit swasta lewat komersialisasi produk baru.

“Kami masih on track untuk pertumbuhan tahun ini. Targetnya [pendapatan dan laba] seharusnya tumbuh double digit dibandingkan capaian tahun lalu,” ujarnya.

Maraknya aksi korporasi dan optimisme emiten baru ini pun sejalan dengan performa indeks sektoral kesehatan di bursa yang mulai bangkit melawan arus.

Pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026), indeks kesehatan atau IDX Healthcare mencatat penguatan 1% ke level 1.453,46. Kondisi tersebut berbanding terbalik dari mayoritas indeks sektoral lain yang terjerembab di zona merah. 

KATALIS

Di sisi lain, sektor kesehatan diproyeksikan menjadi salah satu sektor defensif dengan prospek pertumbuhan laba paling atraktif untuk periode 2026–2027.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan kinerja emiten medis kini tidak lagi digerakkan oleh faktor siklikal seperti saat pandemi Covid-19. Menurutnya, pertumbuhan industri kesehatan saat ini jauh lebih sehat karena ditopang oleh faktor-faktor struktural yang bersifat berkelanjutan.

“Pendorong utamanya adalah kenaikan belanja kesehatan masyarakat, penuaan penduduk [aging population], perluasan akses hingga modernisasi fasilitas rumah sakit,” ucap Nafan saat dihubungi Bisnis, Kamis (9/7). 

Di sisi lain, dia menyebutkan bahwa sektor kesehatan juga menjadi alternatif investasi yang kokoh di bursa saat volatilitas sektor siklikal meningkat. Ini mengingat karakter bisnis medis cenderung stabil menghadapi guncangan ekonomi.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menambahkan bahwa di tengah tingginya ketidakpastian kondisi makroekonomi, para pelaku pasar cenderung memburu emiten yang memiliki kepastian pendapatan yang kuat.

Menurutnya, gairah saham kesehatan digerakkan oleh kombinasi dua faktor dengan proporsi sentimen pasar yang masih mendominasi struktur pergerakan harga.

“Kombinasinya sekitar 60% digerakkan oleh sentimen pasar berupa rotasi sektor defensif dari sektor-sektor yang terdampak evaluasi indeks MSCI dan BI Rate. Sementara itu, 40% sisanya baru disokong oleh faktor fundamental," ucap Wafi.

Wafi memandang prospek industri alat kesehatan (alkes) domestik memang sangat menarik untuk jangka panjang. Prospek itu terutama didorong oleh kebijakan ambang batas Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Regulasi ketat dari pemerintah, lanjutnya, dinilai efektif dalam menciptakan pasar prospektif yang pasti serta memacu agenda substitusi produk impor. Kendati demikian, alkes masih terfragmentasi dan memiliki karakteristik padat modal.

Dihubungi terpisah, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo memandang bahwa prospek positif sektor kesehatan sampai dengan 2027 didukung oleh peningkatan kesadaran medis hingga pertumbuhan kelas menengah.

Dari sisi sektoral, dia memperkirakan emiten rumah sakit akan tetap menjadi motor utama pertumbuhan berkat adanya ekspansi kapasitas dan lonjakan pasien.

Segmen diagnostik juga memiliki potensi tumbuh seiring dengan meningkatnya tren kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan medis (medical check-up). 

“Sementara farmasi tetap menarik didukung pengembangan produk bernilai tambah seperti biologis, vaksin, dan obat bermerek, meskipun masih menghadapi tekanan biaya bahan baku impor,” ucap Azis kepada Bisnis.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Kembali Tahan Gus Yaqut di Rutan Setelah Dinyatakan Sehat
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Mau Bangun Reaktor Nuklir Kecil, Tunggu Persetujuan IAEA
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Ditjen Bina Adwil Kemendagri Dorong Satpol PP dan Satlinmas Jadi Garda Terdepan Wujudkan Indonesia Bebas Sampah
• 26 menit laluviva.co.id
thumb
Yusril Ingatkan Perpres 111/2025 Tidak Boleh Jadi Dasar Persekusi Individu LGBTQ
• 13 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
AS Serang Jembatan Kereta Api Jalur Perdagangan China-Rusia di Iran
• 20 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.