Dolar AS Turun, Mengekor Pelemahan Harga Minyak Dunia

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat, seiring meredanya kekhawatiran inflasi setelah harga minyak turun. Pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan pandangan para pembuat kebijakan terkait suku bunga masih terbelah.
 
Di pasar valuta asing, yuan Tiongkok menguat terhadap dolar AS meski data inflasi memberikan sinyal beragam. Sementara itu, yen Jepang mencatat penguatan terhadap dolar, meski masih berada di level terendah dalam beberapa dekade.
 
Mengutip Investing.com, Jumat 10 Juli 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia turun tipis ke level 100,96.
 
Sementara itu, pada penutupan perdagangan di New York, euro naik menjadi USD1,1434 dari USD1,1426 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3416 dari USD1,3400 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar AS diperdagangkan pada 162,34 yen Jepang, lebih rendah dari 162,48 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,8066 franc Swiss dari 0,8076 franc Swiss.
 
Mata uang Donald Trump itu juga turun menjadi 1,4167 dolar Kanada dari 1,4169 dolar Kanada. Dolar AS jatuh menjadi 9,6602 krona Swedia dari 9,6903 krona Swedia.
 

Baca Juga :

Dolar Berbalik Melemah, Pasar Cermati Risalah The Fed dan Konflik AS-Iran
  Risalah FOMC tunjukkan perbedaan pandangan soal suku bunga  
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni menunjukkan sejumlah peserta mengemukakan alasan untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
 
Meski demikian, FOMC akhirnya memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Proyeksi suku bunga terbaru tetap menunjukkan kecenderungan yang lebih ketat karena para pembuat kebijakan memperkirakan tekanan inflasi dapat meningkat akibat lonjakan harga minyak yang dipicu konflik di Timur Tengah.
 
Di sisi lain, sebagian besar peserta rapat menilai inflasi berpotensi kembali menuju target 2 persen secara bertahap. Sebagian lainnya memperingatkan inflasi dapat bertahan tinggi akibat kuatnya permintaan yang didorong perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), konflik Iran, maupun dampak kebijakan tarif.
 
Kepala Ekonom AS JPMorgan Michael Feroli menilai isi risalah tersebut tidak memberikan kejutan bagi pasar. "Risalah rapat FOMC tanggal 16-17 Juni bernada hawkish, tetapi hal itu tidak mengejutkan mengingat grafik suku bunga acuan yang dirilis tiga minggu lalu," jelas dia.
 
"Meskipun semua peserta mendukung kebijakan yang tidak berubah pada rapat terakhir, juga dicatat bahwa 'beberapa peserta' mengatakan ada alasan untuk menaikkan suku bunga acuan, tetapi peserta yang sama tersebut mendukung kebijakan yang tidak berubah," kata Feroli menambahkan.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
  Harga minyak kembali turun  
Perkembangan inflasi berubah cukup cepat sejak rapat The Fed pada Juni lalu. Saat itu, harga minyak sempat turun ke level sebelum pecahnya konflik setelah AS dan Iran menyepakati kesepahaman perdamaian sementara.
 
Namun, eskalasi terbaru antara kedua negara kembali memicu kenaikan harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
 
Pada perdagangan Kamis, harga minyak kembali melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Washington.
 
Sebelumnya, militer AS melancarkan serangan terhadap sekitar 170 target di Iran sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak komersial. Media pemerintah Iran kemudian melaporkan angkatan bersenjata negara itu membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan.
 
Dalam rangkaian KTT Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) di Turki, Trump menyebut gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir. Ketika ditanya apakah konflik akan berkembang menjadi perang skala penuh, Trump menjawab singkat. "Saya tidak tahu," kata Trump.
 
Trump juga mengungkapkan Iran telah menghubungi pemerintah AS untuk membahas kemungkinan tercapainya kesepakatan.
 
"Mereka menelepon beberapa waktu lalu. Mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Saya hanya tidak tahu apakah mereka layak membuat kesepakatan. Saya tidak tahu apakah mereka akan menghormati kesepakatan itu. Itulah masalahnya," ujar Trump.
 
Pernyataan tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang lebih luas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Tantang Bahlil Wujudkan Proyek PLTS 100 GW dalam Dua Tahun
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Jepang Bongkar Organisasi Pengiriman Pasien ke Kamboja untuk Transplantasi Organ, Pasien Wanita Ditolak Berobat Setelah Pulang
• 1 jam laluerabaru.net
thumb
Hasil Piala Dunia 2026: Prancis Bungkam Maroko
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Bank BSN Pertegas Posisi sebagai Mortgage Bank Syariah, Target Salurkan 73.700 KPR FLPP pada 2026
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Geledah Ruko di Cipete Terkait Kasus Blackout, Polisi Amankan Dokumen-Komputer
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.