Tarikan cita rasa lucu Festival Lima Gunung 2026

antaranews.com
8 jam lalu
Cover Berita
Magelang (ANTARA) - Melalui gawai, penulis Bre Redana (69) mengirim emotikon warna kuning berupa ekspresi wajah dengan lidah menjulur. Tanda lucu.

Emotikon dikirim kepada seorang kawannya yang baru saja mengirim pesan singkat, isinya Festival Lima Gunung dibatalkan kalau dirinya tidak datang.

Kontak terbaru mereka itu bernada canda. Sebelumnya, Bre yang tinggal di Bogor, Jawa Barat, mengirim tangkapan layar ditambahi takarir tentang tayangan video pendek mengenai persiapan Festival Lima Gunung XXV/2026.

Festival yang berumur seperempat abad tersebut digarap seniman petani Komunitas Lima Gunung berlangsung selama 10-12 Juli 2026, di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di kawasan Gunung Merbabu. Asal-usul Bre juga dari kawasan Merbabu, masuk wilayah Kota Salatiga.

Sedikitnya 85 grup kesenian dengan total 1.274 personel melakukan pementasan pada Festival Lima Gunung XXV. Mereka, antara lain berasal dari grup-grup Komunitas Lima Gunung, jejaring komunitas di daerah setempat dan kota-kota di Indonesia, serta kelompok-kelompok kesenian tetangga Warangan.

Berdasarkan jadwal dikeluarkan panitia, mereka mementaskan kesenian tradisional, modern, kolaborasi pementasan, dan performa seni, antara lain berupa tarian, musik, teater, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pameran seni rupa, penanaman pohon, kirab budaya, sarasehan, pidato kebudayaan, dan pemberian penghargaan "Lima Gunung Award".

Entah dari mana dia mendapatkan video berdurasi 58 detik yang diunggah ke platform X itu. Yang jelas bukan dia pembuatnya, sedangkan jawaban berupa karakter emotikon menandakan bahwa festival batal sebagai tidak benar. Dia agaknya menganggap sebagai lucu-lucuan komunikasi di antara mereka berdua di perangkat teknologi informasi.

Bre memiliki kedekatan khusus dengan pendiri Komunitas Lima Gunung yang juga Budayawan Magelang Sutanto Mendut. Sudah tak terhitung dia hadir dalam banyak aktivitas komunitas, termasuk Festival Lima Gunung. Bahkan, mengadakan kegiatan budaya bersama komunitas dan menjadikan karakteristik komunitas itu sebagai referensi untuk banyak tulisannya.

Dia juga salah satu figur dianggap penting dalam jaringan Komunitas Lima Gunung dengan pegiat kalangan seniman petani gunung-gunung yang mengelilingi Kabupaten Magelang, yakni Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.

Emotikon lucu berupa wajah dengan lidah menjulur yang dia pilih, tak ada hubungan dengan desain kaos Festival Lima Gunung XXV berupa sosok-sosok terkesan jenaka, masing-masing dengan lidah menjulur dari mulut, dan dengan posisi mengelilingi bola dunia. Kaos warna hitam dan putih dengan desain gambar wajah lucu tersebut dikeluarkan Komunitas Lima Gunung untuk festival tahun ini.

Desain gambar lucu oleh Ketua Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Sujono. Dia membuat desain itu setelah Sutanto Mendut mengumumkan tema festival tahun ini, "Makin Goblok Bareng".

Rumusan tema Festival Lima Gunung 2026 tersebut, terkait erat dengan pentingnya sikap rendah hati dan usaha membangun hubungan harmonis, baik dengan sesama maupun semesta, di tengah era teknologi informasi dan gejolak zaman.

Desain sosok lucu itu pula diejawantahkan warga Warangan menjadi karya instalasi berbahan alam di pintu masuk arena panggung festival, berupa karakter topeng dengan mulut menjulurkan lidah. Berbagai bahan alam, seperti jerami, bambu, pohon cabai, janggel jagung, dan belarak, digunakan warga untuk membuat instalasi seni Festival Lima Gunung, baik panggung pementasan, arena panggung, maupun untuk menghiasi wajah dusun.

Sujono didampingi dua pegiat komunitas, yakni Iroel dan Qisyut, bersama warga juga membuat panggung dua level dengan instalasi seni berbasis karya topeng tiga sosok jenaka dari dunia pewayangan, yakni Togog, Semar, dan Gareng. Masing-masing sosok dengan ukuran cukup besar terkesan berwajah tersenyum lucu. Warga dengan saksama harus mengikat instalasi tiga sosok tersebut agar menempel kuat di atas panggung.

"'Nggo (Untuk) lucu-lucuan. Kahanane ndonya (keadaan dunia) sedang lucu," kata Sujono yang juga pemimpin Sanggar Saujana Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, itu menjelaskan tiga sosok lucu panakawan yang dipilih secara acak menjadi karya tersebut.

Bagi pengunjung yang mau iseng-iseng menafsir, tatkala membaca tulisan tema cukup provokatif, "Makin Goblok Bareng", boleh jadi terbesit lucu juga. Tulisan dengan huruf-huruf besar itu, dibuat warga menggunakan jerami, ditempelkan di talud pendopo sepanjang sekitar 15 meter, milik Teguh Suharianto (Ketua Panitia Lokal Festival Lima Gunung XXV).

Arah hadap pendopo ke pintu masuk arena panggung festival. Panggung dua level ukuran 80 dan 32 meter persegi, didirikan warga di tanah bengkok, berdampingan dengan bangunan baru calon Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) atau koperasi desa (kopdes), salah satu program unggulan nasional Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Seakan-akan siapa saja yang menuju arena festival dengan melewati jalan bertalud sambil membaca tulisan itu, diajak melangkah masuk ke olah batin tentang makna "makin goblok bareng". Pemaknaan baik untuk diri sendiri, membaca situasi kehidupan terkini, maupun menatap masa depan. Kiranya tawaran Komunitas Lima Gunung melalui tema itu menjadi masuk kepada pentingnya siapa saja membangun sikap hidup lebih baik.

Boleh jadi, terbetot rasa lucu juga ketika ada keberanian membaca diri hadir di Festival Lima Gunung itu, secara wantah sebagai kesadaran semakin goblok bareng.

"Jangan sombong," kata Sutanto.

Lain lagi cerita terkesan lucu dari ilmuwan sosial dan peneliti independen Riwanto Tirtosudarmo (74). Sejak tiga hari sebelum festival, pensiunan (2017) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berubah nama menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sejak 2019 itu, sudah berada di Warangan.

Ia berjalan-jalan menikmati suasana pagi kawasan Gunung Merbabu dengan lahan pertanian aneka sayuran milik warga. Setiba di sisi lain arena festival, ia memotret objek dengan hasil bingkai berupa gedung kopdes sebagai latar depan foto, panggung festival tampak kecil di bagian tengah jepretan, sedangkan latar belakang foto berupa puncak Gunung Merbabu terkesan nun jauh berdiri gagah dan berwibawa.

Foto jepretan, dia dikirim ke gawai Sutanto Mendut. Takarir foto itu, "Festival 5 Gunung dalam bayang-bayang KDMP", terasa sebagai lucu-lucuan.

Oleh panitia lokal, bangunan kopdes yang masih beralas tanah diisi tatanan puluhan kursi untuk transit grup kesenian saat mendekati jam naik panggung. Posisi panggung festival agak mepet tembok kopdes. Sujono dan warga bekerja keras membungkus tembok itu dengan kain hitam ukuran besar kemudian memasang instalasi seni berbahan belarak, sebagai kamuflase.

"Menarik itu," ucap Riwanto.

Meski sudah dikamlufase, kesan tempat festival berdampingan gedung kopdes tetap saja tak bisa tuntas ditutupi. Tentu saja, hal itu wujud akhir dari proses tak mudah diputuskan dan dilakoni komunitas bersama warga untuk menghadirkan festival yang ideal. Oleh karena itu, anggap saja kelucuan.

Bukankah kelucuan-kelucuan juga bisa membikin beban hidup berat menjadi terasa enteng? Rasa enteng sering kali menjadi infrastruktur untuk akses baik manusia mendapatkan jalan keluar atas persoalan hidup.

Budayawan Sutanto mengemukakan bahwa melucu dan mengejek diri sendiri bisa terjadi sebab "si diri" memahami dirinya secara mumpuni.

Itulah kiranya juga, manfaat energi lucu hadir ketika berhadapan dengan panakawan. Referensi menyebut panakawan artinya kawan yang memahami secara jelas.

Selalu saja, ketika manusia Jawa berjumpa dengan panakawan, maka terlebih dahulu hadir cita rasa lucu.

Komunitas Lima Gunung barangkali memang berkarakter dunia panakawan. Kedalaman tarikan suka cita lucunya pun dihadirkan di festival mereka. Dalam konteks lucu-lucuan, mereka tetap konsisten merawat budaya desa yang selalu berlimpah dengan rasa damai.






Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Jumat 10 Juli 2026
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Dukung Polri, Legislator NasDem Minta Kasus Korupsi Batu Bara Diusut Tuntas
• 17 jam laludetik.com
thumb
OTT, KPK Tangkap Lima Orang Termasuk Bupati Sukoharjo Etik Suryani
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Sewa Rumah Menjadi Tren Gaya Hidup
• 6 jam lalukompas.id
thumb
Persib Bandung Vs Manila Digger di Playoff ACL2 Batal Digelar 12 Agustus 2026, Ada Perubahan Jadwal
• 37 menit lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.