Seorang anak perempuan berdiri di depan layar bundar besar di Museum Sains Saluran Air (Sewerage) Kota Nagoya, Jepang. Rambutnya diikat pita kuning. Kedua tangan dan kakinya bergerak lincah mengikuti animasi di layar. Di hadapannya, air, pipa, benda asing, dan tokoh kartun bergerak seperti permainan digital. Anak itu sedang bermain sembari belajar bagaimana pipa bawah tanah kota harus dijaga.
Beberapa keluarga duduk di ruang teater mini yang temaram. Di depan mereka, layar menayangkan animasi anak-anak dan dunia bawah air. Anak-anak menonton, orangtua mendampingi. Perangkat digital, film animasi, permainan sensor gerak, model pipa, dan karakter kartun menjembatani dunia yang biasanya tersembunyi di bawah tanah: air limbah, gorong-gorong, pompa, pipa, banjir, dan sanitasi.
Pemandangan itu terekam dalam kunjungan Kompas ke Nagoya, Jepang, atas undangan Japan International Cooperation Agency (JICA), 31 Mei-10 Juni 2026. Selain di Nagoya, juga terdapat agenda kunjungan ke Kota Makinohara dan Hamamatsu. Di tiga kota itu, tampak bahwa air tidak hanya mengalir dari keran, masuk ke saluran, lalu lenyap dari pandangan. Warga setempat air menjadikan air sebagai medium untuk mengajarkan banyak hal: kebersihan, sanitasi, mitigasi bencana, pangan, lingkungan, hingga cara hidup berdampingan dengan alam.
Di negeri yang berulang kali berhadapan dengan gempa bumi, taifun, hujan ekstrem, dan banjir, alam tidak cukup dipandang sebagai latar kehidupan. Ia harus dibaca, diantisipasi, dan dikelola bersama. Karena itu, pelajaran tentang air, pangan, sanitasi, dan kesiapsiagaan di Jepang dibangun tidak hanya lewat ceramah, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari di keluarga, sekolah, museum, festival, dan layanan publik.
Dari ruang-ruang publik itu, warga diajak memahami bahwa kesiapsiagaan bukan hanya urusan pemerintah dan teknisi, melainkan kebiasaan sosial yang harus ditanam sejak dini.
Di Nagoya, Prefektur Aichi, pesan itu terasa sejak berkunjung ke Festival Air pada Minggu (7/6/2026) dan pertemuan di Balai Kota Nagoya, Senin (8/6). Di sana cara memperlakukan air tidak disampaikan sebatas sebagai urusan teknis perpipaan. Alat peraga di stan serta dokumen resmi menjelaskan bagaimana air bersih, air limbah, drainase, banjir, dan kesiapsiagaan gempa dipahami sebagai satu kesatuan layanan dasar kota.
Di kota berpenduduk 2,33 juta ini, urusan penyediaan air minum dan pengolahan limbah ditangani terintegrasi di bawah institusi satu yang sama, Biro Pengelolaan Air dan Limbah Kota Nagoya. Sistem air limbah di kota itu telah beroperasi sejak November 1912, lalu dua tahun kemudian hadir sistem pengelolaan air minum.
Di banyak kawasan perkotaan Jepang, air bekas mandi, cuci, dan kakus (MCK) dari rumah tangga, perkantoran, maupun kegiatan usaha tidak dibuang langsung ke selokan atau sungai sebagaimana masih lazim terlihat di Indonesia.
Kini, sudah lebih dari satu abad jaringan yang sebagian besar tersembunyi di bawah tanah itu menjadi urat nadi Kota Nagoya. Ia bukan hanya mengalirkan air bekas rumah tangga menuju instalasi pengolahan, melainkan juga ikut menjaga kota dari banjir, memperbaiki lingkungan air, dan mendukung pengurangan beban lingkungan.
”Di sini, umumnya di setiap rumah, tersedia dua saluran pipa yang memiliki fungsi berbeda. Pipa yang satu menjadi saluran bagi air bersih untuk masuk ke rumah hingga keran. Pipa lainnya, menjadi saluran limbah rumah tangga,” kata Yoshida.
Di banyak kawasan perkotaan Jepang, air bekas mandi, cuci, dan kakus (MCK) dari rumah tangga, perkantoran, maupun kegiatan usaha tidak dibuang langsung ke selokan atau sungai sebagaimana masih lazim terlihat di Indonesia. Di wilayah yang telah terhubung jaringan air limbah kota, tangki septik pun tidak lagi menjadi tumpuan utama.
Semua limbah domestik, termasuk tinja dan air bekas MCK, dialirkan melalui jaringan tertutup menuju instalasi pengolahan, lalu dimurnikan hingga memenuhi baku mutu sebelum air olahannya dilepas kembali ke sungai atau lingkungan.
Nagoya yang merupakan salah satu kota industri di Jepang, memiliki 15 instalasi pengolahan air limbah yang memproses sekitar 1 juta meter kubik air limbah per hari. Dari proses itu, hampir 23.000 meter kubik lumpur dihasilkan setiap hari. Lumpur itu tidak dibuang begitu saja, tetapi dikentalkan, dikurangi kadar airnya, dibakar, lalu abunya dimanfaatkan kembali, antara lain, sebagai bahan baku semen dan material lain.
Di sinilah fasilitas publik di Jepang mengambil peran ganda: bukan hanya melayani, melainkan juga mendidik.
Bagi warga, semua proses itu mungkin tidak tampak. Mereka hanya melihat air keluar dari keran, lalu hilang ke lubang pembuangan. Namun, justru karena tidak tampak, sistem itu perlu diterangkan. Di sinilah fasilitas publik di Jepang mengambil peran ganda: bukan hanya melayani, melainkan juga mendidik.
Peran itu dipertegas oleh Museum Sains Saluran Air (Sewerage) Kota Nagoya. Di museum ini, dunia bawah tanah kota dibuat terbaca oleh anak-anak dan keluarga. Ada penjelasan tentang pipa air limbah, gorong-gorong, aliran gravitasi, stasiun pompa, bak pengendapan, tangki reaksi biologis, hingga saluran pembuangan akhir ke sungai. Air limbah tidak dikenalkan sebagai sesuatu yang menjijikkan, tetapi sebagai bagian dari siklus kota yang harus dikelola dengan ilmu, disiplin, dan tanggung jawab.
Pengunjung museum bahkan diajak memahami bahwa air limbah juga berhubungan dengan banjir. Sistem Sewerage di Nagoya tidak hanya bertugas mengembalikan air olahan ke sungai dan laut, tetapi juga membantu melindungi kota dari hujan lebat. Kota itu menyiapkan skenario menghadapi hujan sekitar 63 milimeter per jam, 63 hingga sekitar 100 milimeter per jam, bahkan lebih dari 100 milimeter per jam.
Pada tingkat tertentu, infrastruktur seperti pipa, pompa, sungai, kolam retensi, dan fasilitas resapan menjadi benteng pertama. Namun, ketika hujan melampaui kemampuan teknis kota, keselamatan warga menjadi prioritas. Di titik itu, edukasi publik mengambil peran: warga perlu tahu peta bahaya, lokasi evakuasi, cara menyelamatkan diri ke lantai atas bangunan, dan cara saling membantu.
Dalam brosur dijelaskan, konsep self-help, mutual-help, dan public-help menjadi penting. Warga diminta mampu menolong diri sendiri, komunitas saling membantu, sementara pemerintah menyediakan infrastruktur, informasi, dan sistem peringatan. Bencana tidak ditempatkan sebagai urusan pemerintah semata, tetapi menjadi urusan bersama.
Kesiapsiagaan serupa juga tampak dalam antisipasi gempa. Nagoya menyadari ancaman gempa besar Palung Nankai yang dikhawatirkan merusak jaringan air bersih dan air limbah. Karena itu, pipa air dibuat tahan gempa, pusat pasokan air darurat disiapkan, hidran bawah tanah disebar, dan truk pasokan air disiagakan.
Dalam keadaan darurat, warga dapat memperoleh air dari fasilitas pasokan air darurat. Di wilayah layanan air Nagoya, terdapat 208 lokasi fasilitas pasokan air darurat dan empat pusat pasokan air darurat. Hidran bawah tanah tersedia di sekolah-sekolah dasar dan menengah pertama negeri. Toilet portabel pun disiapkan agar dapat terhubung langsung ke saluran pembuangan melalui gorong-gorong a (manhole).
Di Hamamatsu, Prefektur Shizuoka, pelajaran tentang air hadir dalam nuansa yang berbeda. Saat berkunjung ke kompleks instalasi pengolahan air Kota Hamamatsu, Selasa (8/6), tampak rombongan siswa sekolah dasar. Mereka turun dari bus, berbaris rapi, lalu mengikuti penjelasan petugas tentang perjalanan air sebelum sampai ke rumah-rumah warga.
Di Hamamatsu, Prefektur Shizuoka, pelajaran tentang air hadir dalam nuansa yang berbeda. Saat berkunjung ke kompleks instalasi pengolahan air Kota Hamamatsu, Selasa (8/6), tampak rombongan siswa sekolah dasar. Mereka turun dari bus, berbaris rapi, lalu mengikuti penjelasan petugas tentang perjalanan air sebelum sampai ke rumah-rumah warga.
Dari tepi bak pengolahan, anak-anak melihat bahwa air keran tidak muncul begitu saja. Air dari alam harus melewati proses penjernihan, pengendapan, penyaringan, pengujian, dan pengawasan sebelum layak digunakan. Di tempat seperti itulah pesan edukasi Hamamatsu terasa kuat: instalasi air bukan hanya ruang kerja teknisi, melainkan juga ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami nilai air bersih sejak dini.
Anak-anak diajak memahami dari mana air berasal, bagaimana air dipakai, ke mana air bekas mengalir, dan mengapa saluran pembuangan tidak boleh diperlakukan sebagai tempat membuang segala benda.
Di Hamamatsu, edukasi publik juga dibuat ramah bagi anak-anak. Melalui situs anak-anak ”Suisui Club”, Dinas Air Minum dan Air Limbah Kota Hamamatsu mengenalkan sistem air bersih dan air limbah lewat karakter kartun, kuis, video, dan penjelajahan kota serta rumah. Anak-anak diajak memahami dari mana air berasal, bagaimana air dipakai, ke mana air bekas mengalir, dan mengapa saluran pembuangan tidak boleh diperlakukan sebagai tempat membuang segala benda.
Pendekatan itu sederhana, tetapi penting. Literasi air tidak dimulai dari istilah teknis yang rumit, melainkan dari rasa ingin tahu. Anak-anak diajak bertanya: mengapa air keran bisa diminum, ke mana air setelah dipakai mandi, apa yang terjadi jika sampah masuk ke saluran, dan mengapa kota bisa banjir saat hujan ekstrem.
Di Nagoya, pelajaran itu hadir melalui festival dan museum. Di Hamamatsu, ia hadir melalui instalasi dan situs edukasi anak. Di Makinohara, pelajaran tentang hidup berdampingan dengan alam tampak melalui makan siang sekolah.
Kepekaan lingkungan
Di sebuah SD di Kota Makinohara, Prefektur Shizuoka, makan siang bukan sekadar jeda di tengah pelajaran. Ia menjadi bagian dari Shokuiku, pendidikan pangan yang mengajarkan anak-anak tentang gizi, kebiasaan makan sehat, rasa syukur, kebersihan, dan hubungan dengan petani serta lingkungan sekitar.
Menjelang tengah hari, ruang kelas berubah menjadi ruang makan. Meja belajar ditata, siswa mengenakan perlengkapan makan, makanan dibagikan, lalu mereka mengucapkan itadakimasu sebelum mulai makan. Setelah selesai, wadah dibersihkan dan dipilah. Dari kegiatan sederhana itu, anak-anak belajar bahwa makanan punya asal-usul, ada orang yang bekerja di baliknya, dan ada tanggung jawab setelah mengonsumsinya.
Di sekolah itu, pendidikan tidak hanya hadir lewat piring makan siang. Di sekitar sekolah, anak-anak juga diperkenalkan pada tanaman, kebun kecil, dan bahan pangan yang dekat dengan kehidupan mereka. Dalam pelajaran lingkungan hidup, mereka belajar memakai indera: menyentuh, mencium, melihat, dan mencicipi. Kacang polong, jagung, sayuran, dan hasil pertanian lokal tidak hanya menjadi bahan makanan, tetapi juga bahan belajar. Dari situ, anak-anak mengenal hubungan antara tanah, petani, dapur sekolah, tubuh, dan kebiasaan makan sehat.
Kepala SD tersebut menjelaskan bahwa pendidikan pangan tidak cukup hanya memberi tahu anak tentang makanan sehat. Anak-anak perlu mengalami, mencoba, dan memahami manfaatnya bagi tubuh. Tantangan tetap ada. Di sekolah itu, 16,3 persen siswa tercatat mengalami kelebihan berat badan dan 2,7 persen obesitas berat. Sekitar 80 persen sisa makanan berasal dari menu sayuran.
Namun, pendekatan yang dipilih bukan pemaksaan. Anak-anak dibiasakan mencoba sedikit demi sedikit, mengenal rasa, dan menghargai makanan. Dalam Shokuiku, makan menjadi proses pendidikan. Anak belajar tentang tubuhnya, lingkungannya, dan orang-orang yang bekerja menghadirkan makanan ke meja.
Dari air hingga pangan, pelajaran yang tampak adalah konsistensi. Jepang membangun kebiasaan melalui pengulangan, penjelasan, dan pengalaman langsung. Anak tidak hanya diminta patuh, tetapi diajak memahami. Warga tidak hanya diberi layanan, tetapi juga diberi akses pengetahuan. Fasilitas publik tidak hanya menjadi bangunan, tetapi menjadi kurikulum sosial.
Karakter sebagai bangsa pemelajar juga tampak dari kerja sama internasional. Biro Pengelolaan Air dan Limbah Kota Nagoya melalui kerja sama dengan JICA, sejak 1978, mengirim tenaga teknis ke luar negeri dan menerima peserta dari negara lain. Nagoya menjadi ruang pertukaran pengetahuan. Orang dari luar Jepang datang untuk belajar, sementara tenaga Jepang juga memetik pengalaman dari negara lain.
Yamaue Nozomu, pejabat dari Kementerian Pendidikan Jepang, dalam kesempatan terpisah, menekankan pentingnya sekolah dalam membentuk kebiasaan hidup sehat anak. Melalui pendidikan, anak-anak diajak memahami makanan, kesehatan, dan kesejahteraan sebagai bagian dari pembelajaran sepanjang hayat. Pesan itu sejalan dengan apa yang tampak di lapangan: kesiapsiagaan dan literasi tidak bisa dibangun secara mendadak saat krisis datang.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Aichi dan Shizuoka tidak harus dibaca sebagai ajakan menyalin semua sistem. Kondisi geografis, fiskal, kepadatan kota, dan tata kelola setiap negara berbeda. Namun, ada nilai yang dapat ditarik: mitigasi membutuhkan literasi, sanitasi membutuhkan partisipasi, dan kesiapsiagaan harus diajarkan jauh sebelum bencana datang.
Di Nagoya, Hamamatsu, dan Makinohara, kota menjadi ruang belajar. Air, limbah, hujan, gempa, makanan, sekolah, museum, festival, dan instalasi publik dirangkai menjadi pendidikan kewargaan. Dari sana, anak-anak dan keluarga belajar berdamai dengan alam, bukan dengan pasrah, melainkan dengan pengetahuan, disiplin, dan kesiapsiagaan.





