TABLOIDBINTANG.COM - Indonesia International Search and Rescue (IISAR) 2026 resmi dibuka di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, Kamis (9/7). Selama empat hari penyelenggaraan, forum internasional tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, organisasi kemanusiaan, hingga komunitas SAR dari berbagai negara.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan penyelenggaraan IISAR 2026 menjadi momentum penting mengingat tantangan kebencanaan terus meningkat akibat perubahan iklim. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan Ring of Fire juga membuat kesiapsiagaan menjadi kebutuhan utama.
"Karena kita harus selalu siaga menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi. Ada perubahan iklim yang semakin meningkat, Indonesia juga merupakan negara kepulauan dan berada di Ring of Fire. Bencana hidrometeorologi juga terus menghantui kita," kata Pratikno.
Menurutnya, kemampuan operasi pencarian dan pertolongan harus terus diperkuat karena waktu menjadi faktor penentu dalam menyelamatkan korban. Oleh sebab itu, pemanfaatan teknologi modern perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kepedulian para personel SAR.
"Teknologi menjadi penting karena kita tidak bisa menggunakan cara-cara yang lama. Kita harus menggunakan teknologi yang baru. Tetapi lebih dari itu, kemampuan SDM dan empati untuk menyelamatkan nyawa juga sangat penting," ujarnya.
Pratikno juga menekankan bahwa operasi penyelamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab Basarnas, tetapi membutuhkan sinergi TNI, Polri, pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga para relawan.
"Dalam penyelamatan, hitungan menit sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa. Karena itu semua pihak harus mampu bergerak cepat," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii menjelaskan IISAR 2026 merupakan penyelenggaraan perdana yang digelar sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.
Menurut Syafii, IISAR tidak hanya menghadirkan pameran teknologi, tetapi juga menjadi wadah komunikasi, edukasi, koordinasi, dan kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan di bidang SAR.
"IISAR menjadi sarana komunikasi, edukasi, koordinasi, dan kolaborasi seluruh kementerian, lembaga, organisasi internasional, hingga potensi SAR nasional yang selama ini terlibat dalam operasi kemanusiaan," ujar Syafii.
Sebanyak 28 negara ambil bagian dalam IISAR 2026 melalui forum diskusi, pameran teknologi, hingga kompetisi kemampuan penyelamatan. Para peserta juga berbagi pengalaman mengenai standar operasi yang diterapkan organisasi internasional seperti ICAO, IMO, dan INSARAG sebagai acuan penanganan kecelakaan maupun bencana.
Selain sesi ilmiah, IISAR 2026 menghadirkan kompetisi antartim SAR nasional dan internasional untuk berbagi pengalaman operasional di lapangan.
"Kami ingin seluruh peserta mendapatkan edukasi mengenai mekanisme operasi, hubungan kerja, hingga perkembangan terbaru dalam penanganan keadaan darurat," katanya.
Pameran teknologi menjadi salah satu daya tarik utama dalam ajang ini. Sebanyak hampir 57 booth menampilkan berbagai inovasi, mulai dari sistem komunikasi darurat, peralatan penyelamatan udara, darat, laut, hingga bawah air. Sejumlah perusahaan, termasuk PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Bell Helicopter, turut memperkenalkan teknologi terbaru yang dapat mendukung operasi SAR.
Syafii mengatakan kehadiran berbagai perusahaan tersebut diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi baru untuk mendukung operasi penyelamatan di masa mendatang.
"Kami ingin mendapatkan informasi teknologi terbaru yang dapat mendukung operasi SAR, baik udara, darat maupun underwater, sehingga ketika terjadi keadaan darurat seluruh potensi bisa saling mengisi dan bersinergi," jelasnya.
Berbeda dengan forum diskusi yang diperuntukkan bagi peserta terdaftar, area pameran dibuka untuk masyarakat umum setiap hari pukul 11.00 hingga 19.00 WIB. Pengunjung dapat melihat langsung berbagai kendaraan operasional, perlengkapan, serta teknologi modern yang digunakan dalam misi penyelamatan. Pada hari pertama penyelenggaraan, sekitar 1.500 orang tercatat telah melakukan registrasi secara daring.
Founder IISAR 2026 Candra Tri Saktiyanto berharap penyelenggaraan ajang ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya industri SAR dalam berbagai aspek kehidupan.
"Search and Rescue sangat penting dalam konteks kegawatdaruratan di mana pun kita berada. Walaupun ini merupakan niche market, tetapi industri SAR memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan karena berkaitan langsung dengan keselamatan di rumah, gedung, maupun berbagai aktivitas masyarakat," ujarnya.
Ia berharap IISAR 2026 menjadi awal lahirnya kolaborasi yang lebih luas, mempercepat transfer teknologi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, sekaligus memperkuat kerja sama internasional dalam menghadapi situasi darurat.
"Batas wilayah hanya memisahkan negara, tetapi nilai kemanusiaan selalu menyatukan tujuan kita. Semoga IISAR menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi global di bidang search and rescue," pungkas Candra.




