Kisah Slamet Santoso: Pekerja Indonesia yang Main di Liga 5 Polandia

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Demam Piala Dunia 2026 memang selalu punya cara untuk menyatukan gairah pencinta sepak bola di seluruh penjuru bum. Atmosfer kompetisi sepak bola terakbar di dunia itu turut dirasakan langsung oleh Slamet Santoso, pekerja migran (TKI) asal Banyuwangi, Jawa Timur yang kini memperkuat klub Polandia, Sokół Pyrzyce, di kasta kelima Liga Polandia.

Menariknya, kesempatan emas itu datang tanpa melibatkan peran agen pemain profesional sama sekali. Keberhasilan Slamet justru berawal dari keisengannya yang sering menghabiskan waktu luang di stadion dekat tempat tinggalnya di Polandia untuk melihat klub lokal bertanding dan latihan.

Dari hobi menonton itulah, ketertarikan dan bakat alaminya dilirik oleh manajemen klub hingga mantan pemain klub sepak bola lokal di Liga 3 Jawa Timur ini resmi diajak bergabung Sokół Pyrzyce.

Kini, di sela-sela kesibukannya, ia menyaksikan langsung bagaimana kultur sepak bola di Polandia sangat kuat dan mengakar, mulai dari level tertinggi hingga obrolan di pabrik tempatnya bekerja dan lingkungan sekitar klub di Provinsi Pomerania Barat.

"Di momen Piala Dunia ini, orang-orang di sini lumayan fanatik sama sepak bola. Di pabrik atau di lingkungan sekitar klub, euforianya terasa sangat kuat. Semua orang membicarakan pertandingan," cerita Slamet kepada kumparan, Rabu (8/7).

Jagokan Portugal dan Jadi Target Candaan di Ruang Ganti

Saat ditanya mengenai tim jagoannya di Piala Dunia 2026, Slamet tertawa kecil. Sayangnya, nasib baik belum berpihak pada tim yang didukungnya.

"Kebetulan saya menjagokan Portugal, dan kebetulan kemarin sudah kalah," ujar gelandang yang mengidolakan Cristiano Ronaldo ini.

Namun, euforia Piala Dunia ini justru membawa keakraban tersendiri bagi Slamet di ruang ganti Sokół Pyrzyce. Meski awalnya datang ke Polandia murni sebagai TKI dari Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, sepak bola terbukti menjadi bahasa universal yang berhasil mencairkan sekat antara dirinya dan para pemain lokal Polandia.

Slamet mengaku, alih-alih merasa terasing, ia justru kerap menjadi sasaran candaan ramah dari rekan-rekan setimnya yang kesulitan melafalkan nama aslinya yang kental dengan nuansa Jawa.

"Candaan di ruang ganti itu seru. Teman-teman setim itu suka panggil-panggil nama saya tapi dibelokin. Nama saya kan Santoso, di lidah mereka berubah jadi 'Santi' atau bagaimana lah bahasanya mereka. Tapi dari candaan seperti itu kami malah makin akrab," tutur pemuda berusia 28 tahun ini.

Bagi Slamet, dinamika di ruang ganti dan lapangan hijau di Polandia kini menjadi bagian dari petualangan hidupnya. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bahasa dan status sebagai pekerja migran bukan halangan untuk bisa membaur dan merajut karier di benua biru.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
10 Kota Paling Layak Huni di Dunia 2026, Cuma 2 di Asia
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Transfer Kawhi Leonard ke Toronto Raptors Ditunda Akibat Investigasi NBA
• 4 jam lalupantau.com
thumb
IKPI: Pusat Finansial Internasional RI (PFII) Tak Cukup Andalkan Insentif Pajak
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Marinus Gea Dorong Penguatan Harmonisasi Regulasi Daerah untuk Cegah Tumpang Tindih Aturan
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Prabowo Ingatkan Polisi-Jaksa-TNI Introspeksi: Bintangmu Milik Rakyat!
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.