Pada awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 23,59 poin atau 0,40 persen ke level 5.936,04. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan turut menguat 4,13 poin atau 0,10 persen menjadi 590,04.
"Selama IHSG bertahan di atas area 5.900, peluang penguatan lanjutan masih terbuka menuju 5.987, kemudian 6.045-6.107. Sebaliknya, apabila kembali turun di bawah 5.900, indeks berisiko menguji support di 5.839-5.805, sebelum menuju gap area di sekitar 5.744," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat. Sentimen global masih Jadi penggerak pasar Dari mancanegara, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar, setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan baru ke sekitar 170 target di Iran, sebagai balasan atas serangan terhadap kapal tanker minyak.
Namun demikian, harga minyak justru turun hampir 3 persen, setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran telah menghubungi AS, dan menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi.
Baca juga: Risiko Pasar Modal Indonesia Turun ke Frontier Market Tak Berdasar
Di sisi lain, sentimen pasar tetap positif dipicu oleh kembali menguatnya optimisme terhadap isu kecerdasan buatan (AI), setelah saham-saham semikonduktor rebound dari aksi ambil untung.
Selain itu, optimisme diperkuat oleh rencana Meta untuk memproduksi chip AI sendiri, tingginya permintaan IPO SK Hynix di Amerika Serikat (AS), serta ekspansi investasi Micron yang mencerminkan prospek belanja AI masih kuat.
"Secara keseluruhan, kombinasi pasar tenaga kerja yang masih resilien dan pelemahan sektor perumahan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan pendekatan wait-and-see, sehingga tetap menjadi sentimen positif bagi pasar ekuitas," ujar Liza.
Sementara itu, belum terdapat kebijakan moneter baru dari bank sentral AS The Fed, yang mana fokus pasar masih tertuju pada dampak konflik Timur Tengah terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga.
Dari dalam negeri, BEI melaporkan jumlah emiten yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) berkurang menjadi 14 perusahaan.
BEI menegaskan bahwa status HSC bukan merupakan sanksi, melainkan bagian dari upaya meningkatkan transparansi pasar, free float, dan likuiditas saham melalui evaluasi berkala bersama KSEI.
"Berkurangnya jumlah emiten dalam daftar HSC mencerminkan perbaikan struktur kepemilikan saham dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas serta efisiensi pasar modal Indonesia," ujar Liza.
Di sisi makroekonomi, IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0 persen pada 2026 dan 5,1 persen pada 2027, di tengah tren perlambatan ekonomi global dan kawasan.
Proyeksi itu mencerminkan keyakinan IMF terhadap ketahanan fundamental ekonomi Indonesia, terutama ditopang konsumsi domestik dan investasi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)





