Kupang (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan mendesak perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur membentuk konsorsium untuk memperkuat riset dan pengabdian masyarakat.
“Kampus harus merasa 'berdosa' apabila lingkungan di sekitarnya masih dilanda kemiskinan. Karena itu kampus di NTT harus membentuk konsorsium perguruan tinggi,” katanya di Kupang, Jumat.
Hal ini disampaikannya saat melakukan kunjungan kerjanya ke Kupang untuk menghadiri Rapat Koordinasi Pengentasan Kemiskinan dan Peluncuran Program Garuda.
Menurut dia, perguruan tinggi, khususnya kampus besar di daerah, tidak boleh hanya berfokus pada kompetisi antarinstitusi, tetapi harus membangun kolaborasi melalui pembentukan konsorsium perguruan tinggi.
Ia mengatakan konsorsium tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi dan teknologi tepat guna di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus mendukung pengentasan kemiskinan.
"Perguruan tinggi besar di daerah harus merasa bersalah dan berdosa jika lingkungan di sekitarnya masih dikepung oleh kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya angka partisipasi kuliah. Paradigma bekerja sendiri dan berkompetisi harus kita ubah menjadi kolaborasi," kata Fauzan.
Ia menegaskan kampus tidak boleh berjalan terpisah dari masyarakat karena keberadaannya harus memberikan manfaat nyata dalam menyelesaikan berbagai persoalan daerah.
Fauzan menjelaskan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut aspek budaya, pola pikir, dan kualitas sumber daya manusia yang menjadi tanggung jawab dunia pendidikan.
Untuk memperkuat peran perguruan tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi akan mendorong sinkronisasi pendanaan riset melalui skema co-funding antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di perguruan tinggi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Cendana Prof. Jefri S. Bale menyatakan Undana siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berdampak bagi masyarakat.
"Kehadiran Bapak Wamendiktisaintek menjadi energi baru bagi kami untuk terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berdampak nyata bagi masyarakat," katanya.
Baca juga: Pemerintah dorong penerima beasiswa perkuat ekosistem riset nasional
Baca juga: Kemdiktisaintek optimalkan Satgas PPKPT cegah kekerasan di kampus
“Kampus harus merasa 'berdosa' apabila lingkungan di sekitarnya masih dilanda kemiskinan. Karena itu kampus di NTT harus membentuk konsorsium perguruan tinggi,” katanya di Kupang, Jumat.
Hal ini disampaikannya saat melakukan kunjungan kerjanya ke Kupang untuk menghadiri Rapat Koordinasi Pengentasan Kemiskinan dan Peluncuran Program Garuda.
Menurut dia, perguruan tinggi, khususnya kampus besar di daerah, tidak boleh hanya berfokus pada kompetisi antarinstitusi, tetapi harus membangun kolaborasi melalui pembentukan konsorsium perguruan tinggi.
Ia mengatakan konsorsium tersebut diharapkan mampu menghasilkan inovasi dan teknologi tepat guna di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus mendukung pengentasan kemiskinan.
"Perguruan tinggi besar di daerah harus merasa bersalah dan berdosa jika lingkungan di sekitarnya masih dikepung oleh kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya angka partisipasi kuliah. Paradigma bekerja sendiri dan berkompetisi harus kita ubah menjadi kolaborasi," kata Fauzan.
Ia menegaskan kampus tidak boleh berjalan terpisah dari masyarakat karena keberadaannya harus memberikan manfaat nyata dalam menyelesaikan berbagai persoalan daerah.
Fauzan menjelaskan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut aspek budaya, pola pikir, dan kualitas sumber daya manusia yang menjadi tanggung jawab dunia pendidikan.
Untuk memperkuat peran perguruan tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi akan mendorong sinkronisasi pendanaan riset melalui skema co-funding antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di perguruan tinggi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Cendana Prof. Jefri S. Bale menyatakan Undana siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan yang inklusif dan berdampak bagi masyarakat.
"Kehadiran Bapak Wamendiktisaintek menjadi energi baru bagi kami untuk terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berdampak nyata bagi masyarakat," katanya.
Baca juga: Pemerintah dorong penerima beasiswa perkuat ekosistem riset nasional
Baca juga: Kemdiktisaintek optimalkan Satgas PPKPT cegah kekerasan di kampus





