CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan harga minyak mentah dunia belum akan kembali ke level sebelum pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pemulihan harga diperkirakan berlangsung secara bertahap meski aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai membaik pada pertengahan Juli.
Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, menyampaikan bahwa lembaganya belum melihat kondisi pasar minyak akan pulih sepenuhnya dalam waktu dekat. Pernyataan itu disampaikan dalam pengarahan pers pada Kamis (9/7).
"Kami tidak berasumsi bahwa situasi (harga minyak) akan bisa langsung kembali seperti kondisi normal sebelum perang," kata Kozack.
Sebelumnya, IMF merilis pembaruan proyeksi harga minyak global. Dalam laporan tersebut, rata-rata harga minyak dunia diperkirakan naik hampir sepertiga pada 2026 menjadi 89,27 dolar AS per barel. Setelah itu, harga diproyeksikan turun menjadi sekitar 78,7 dolar AS per barel pada 2027.
Menurut IMF, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga energi dunia. Meski demikian, lembaga tersebut tetap optimistis arus pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia, akan mulai pulih dalam waktu dekat.
Kozack menegaskan IMF akan terus memperbarui proyeksi berdasarkan perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah serta dinamika pasar komoditas global.
Ketegangan meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran pada Rabu dini hari. Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan respons terhadap tindakan Iran yang dinilai mengganggu kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Sebagai balasan, militer Iran menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Pemerintah Iran juga menuduh Washington melanggar memorandum penghentian permusuhan yang sebelumnya telah disepakati.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran sudah tidak lagi berlaku. Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak global dan meningkatkan ketidakpastian prospek harga energi dalam beberapa tahun ke depan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti/Antara




