Sistem pendidikan nasional dinilai belum mampu mengembangkan potensi maksimal setiap murid agar kompetitif di tingkat global. Sekolah Garuda diklaim pemerintah menjadi solusi sekaligus investasi strategis karena memadukan sekolah unggulan ini dengan Beasiswa Garuda yang membuka akses studi ke perguruan tinggi terbaik dunia.
Hal ini ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie yang menyatakan sistem pendidikan nasional masih memerlukan inovasi besar agar menghasilkan generasi berkualitas. Generasi ini nantinya harus mampu memanfaatkan kekayaan alam bangsa sekaligus membawa Indonesia jadi salah satu negara paling maju di dunia.
Data Human Capital Index menunjukkan, Indonesia berada di peringkat ke-96 dari 175 negara dengan skor 0,54. Angka tersebut menunjukkan, dalam sistem saat ini, anak-anak Indonesia baru mampu mengembangkan sekitar 54 persen dari potensi maksimal mereka, baik dalam aspek kognitif, produktivitas, inovasi, maupun kapasitas masa depan lainnya.
"Inilah alasan mengapa kita butuh Sekolah Garuda sebagai ekosistem untuk membangun sumber daya manusia Indonesia," kata Stella dalam acara Orientasi Program SMA Unggul Garuda Transformasi dan Pembekalan Penerima Beasiswa Garuda, di Jakarta, pada Kamis (10/7/2026) sore.
Namun pakar sosiologi pendidikan dari Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu, mengkritik pembangunan Sekolah Garuda. Alih-alih membangun sekolah baru yang berkualitas, pemerintah dinilai seharusnya meningkatkan mutu sekolah yang sudah ada dan melakukan pemerataan pendidikan di semua jenjang sekolah.
"Urusan membangun SMA bukan kewenangan Kemendiktisaintek (Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) tetapi kementerian pendidikan dasar dan menengah. Sebab, SMA adalah ranahnya kementerian tersebut,” kata Tuti.
Sekolah Garuda, lanjut Tuti, juga tidak boleh melupakan ilmu sosial. Terlalu fokus pada pada materi Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dapat menyebabkan turunnya jiwa sosial siswa.
"Bagaimana siswa dapat memiliki kepekaan terhadap persoalan lokal di wilayah tempat mereka belajar, jika tidak diasah pengetahuannya tentang masalah-masalah sosial, budaya, dan politik," tutur Tuti.
Meski begitu, investasi besar pada Sekolah Garuda ini diharapkan dapat melahirkan inovasi, teknologi, riset kelas dunia, perusahaan-perusahaan baru, lapangan pekerjaan, hingga solusi atas berbagai masalah nasional. Para mahasiswa lulusan Sekolah Garuda maupun penerima Beasiswa Garuda yang kelak belajar di luar negeri harus menyadari bahwa mereka membawa identitas bangsa.
Stella memaparkan, pendidikan merupakan proses yang mampu mengembangkan potensi setiap orang melalui sistem yang baik, bukan sekadar karena kecerdasan intelektual bawaan (IQ).
Salah satu indikator yang paling obyektif untuk melihat kualitas pendidikan adalah Programme for International Student Assessment (PISA) yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa di berbagai negara.
Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila kita berinvestasi pada pendidikan yang berkualitas.
Hasil PISA 2022 menunjukkan, skor Indonesia menurun signifikan dan masih jauh di bawah rata-rata negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Skor Matematika (numerasi) 366, turun dari 379 pada tahun 2018; membaca (literasi) 359, turun dari 371 pada tahun 2018; dan sains 383, turun dari 396 pada tahun 2018.
Persoalan yang sama juga terlihat pada kualitas pendidikan tinggi Indonesia. Berdasarkan pemeringkatan Times Higher Education (THE) 2026, universitas-universitas terbaik Indonesia pun masih berada di kisaran peringkat 900 dunia.
Menurut Stella, fakta tersebut tak sebanding dengan anggaran pendidikan yang terus meningkat secara signifikan dalam dua dekade terakhir. Dengan kata lain, tantangan pendidikan Indonesia bukan sekadar persoalan besarnya anggaran, melainkan efektivitas sistem dalam menghasilkan pembelajaran bermutu.
"Memang kenyataan ini terasa menohok. Namun jika kita ingin melakukan perubahan, kita harus berani menganalisis persoalan secara objektif dan bercermin pada kondisi yang sebenarnya," ucapnya.
Stella lalu mengibaratkan Sekolah Garuda sebagai tim nasional yang ingin lolos ke Piala Dunia. Menurutnya, mustahil Indonesia dapat bersaing di level tertinggi apabila para atlet hanya memperoleh pembinaan biasa, pelatih yang seadanya, serta fasilitas yang sama tanpa sistem pengembangan yang terarah.
Logika yang sama seharusnya diterapkan pada sektor pendidikan. Jika negara rela membangun sistem khusus untuk melahirkan atlet kelas dunia, maka tidak ada alasan untuk menolak hadirnya sekolah yang secara khusus dirancang membina talenta akademik terbaik Indonesia.
Namun, Guru Besar Universitas Tsinghua, Beijing ini menegaskan Sekolah Garuda bukan sekolah eksklusif bagi kelompok tertentu dan tetap berprinsip pemerataan akses pendidikan unggul dan kesempatan untuk berprestasi. Ini juga yang membedakan Sekolah Garuda dengan sekolah unggulan yang selama ini ada dan terkesan eksklusif.
"Talenta terbaik Indonesia harus memperoleh akses terhadap pendidikan terbaik, tanpa memandang kondisi ekonomi maupun daerah asalnya. Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila kita berinvestasi pada pendidikan yang berkualitas," ucapnya.
Stella melanjutkan, Sekolah Garuda juga tidak hanya dirancang untuk meningkatkan kualitas akademik dan mengejar prestasi pribadi, melainkan juga bisa melahirkan generasi yang akan mengabdikan ilmu pengetahuan ke masyarakat. Ini juga yang menjadi alasan Sekolah Garuda baru dibangun di luar kota-kota besar.
Dalam waktu dekat, empat Sekolah Garuda Baru akan mulai beroperasi di Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung; Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara; Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur; serta Konawe Selatan, dan Provinsi Sulawesi Tenggara. Hingga tahun 2029, sebanyak 20 Sekolah Garuda Baru akan dibangun di berbagai wilayah di Indonesia.
Seleksi muridnya telah dilakukan dan terpilih 307 siswa dari Sabang sampai Merauke. Mereka berasal dari latar belakang ekonomi yang beragam, namun seluruhnya memiliki prestasi akademik amat tinggi. Seluruh siswa yang diterima ini akan memperoleh beasiswa penuh untuk bersekolah dan hidup berasrama.
Mereka akan belajar dengan kurikulum nasional dan kurikulum International Baccalaureate (IB). Sebab, berbagai studi menunjukkan lulusan IB Diploma Programme berpeluang 17 persen lebih tinggi diterima di universitas-universitas terbaik di Inggris dibandingkan lulusan Cambridge A Level, serta berpeluang 20-24 persen lebih tinggi untuk diterima di perguruan tinggi terbaik di Amerika Serikat.
"Kami memilih kurikulum IB berdasarkan data, bukan karena mengikuti tren atau ingin terlihat internasional," ucapnya.
Selain itu, pemerintah menguatkan sekolah-sekolah unggul yang sudah ada melalui skema Sekolah Garuda Transformasi. Hingga tahun 2026, sebanyak 42 sekolah dan madrasah terpilih dan ditargetlkan total 80 Sekolah Garuda Transformasi hingga tahun 2029.
Program tersebut tidak mengubah kurikulum, guru, maupun sistem penerimaan murid di sekolah tersebut. Dalam satu tahun, program Sekolah Garuda Transformasi telah meningkatkan sebesar 167 persen dalam penerimaan siswa ke 100 universitas terbaik dunia.
Tak hanya itu, para kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan di Sekolah Garuda juga akan mendapatkan fasilitas rumah dinas yang dekat dengan asrama murid. Ini ditujukan akan mereka semua berada dalam satu lingkungan yang sama agar proses belajarnya lebih baik.
"Seluruh keputusan yang kami ambil, mulai dari kesejahteraan guru, pembangunan fasilitas, hingga desain ruang kelas, semuanya didasarkan pada data dan penelitian," tutur Stella.
.





