EtIndonesia.com Menurut laporan Kyiv Post, dalam 72 jam terakhir, militer Ukraina menyerang 21 kapal Rusia, yang terdiri dari 19 kapal tanker yang disebut sebagai bagian dari “shadow fleet” (armada bayangan), satu kapal kargo, dan satu kapal feri. Serangan tersebut diklaim memberikan pukulan besar terhadap jalur logistik laut Rusia yang digunakan untuk mengirimkan pasokan ke Krimea yang diduduki Rusia.
Pihak Ukraina menyatakan bahwa operasi ini merupakan bagian dari strategi “Pemadaman Krimea selama 40 Hari” yang disetujui oleh Presiden Volodymyr Zelenskyy dan dipimpin oleh Dinas Keamanan Ukraina (SBU).
Selain menyerang armada kapal, sejak awal bulan ini militer Ukraina juga mengklaim telah menyerang sekitar 50 fasilitas energi Rusia, dengan tujuan terus melemahkan kemampuan logistik militer Rusia.
Pasukan Sistem Nirawak Ukraina mengungkapkan bahwa operasi tersebut dilaksanakan oleh tiga skuadron drone elite yang menggunakan drone FP-2 buatan dalam negeri. Setiap drone mampu membawa hulu ledak seberat 50 hingga 100 kilogram, yang cukup untuk memicu kebakaran besar dan menyebabkan kerusakan berat pada kapal berukuran besar, meskipun umumnya tidak cukup untuk menenggelamkannya.
Di pihak lain, Rusia menyatakan bahwa dua kapal tanker kosong menjadi sasaran serangan dan mengakibatkan dua awak kapal terluka. Rusia juga mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh tujuh drone Ukraina.
Yang juga menjadi perhatian adalah pernyataan Presiden Volodymyr Zelenskyy dalam wawancara dengan Financial Times minggu ini. Ia mengatakan bahwa medan perang yang menentukan dalam konflik ini telah bergeser dari darat dan laut ke udara.
Zelenskyy mengakui bahwa kelemahan terbesar Ukraina saat ini masih terletak pada kemampuan pertahanan udara. Oleh karena itu, saat menghadiri KTT NATO pekan ini, ia kembali mendesak negara-negara sekutu untuk menyediakan lebih banyak sistem pertahanan udara bagi Ukraina.
Sementara itu, akibat serangan Ukraina yang terus menyasar infrastruktur energi Rusia dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Rusia mengumumkan penghentian sementara ekspor solar (diesel) hingga 31 Juli.
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada 8 Juli menyatakan bahwa Rusia telah mulai memberlakukan larangan ekspor diesel dengan tujuan meningkatkan pasokan untuk pasar domestik.
Ia juga mengatakan bahwa mulai Juli, Rusia akan mengimpor produk minyak bumi dan meningkatkan produksi bahan bakar.
Para analis menilai bahwa karena Rusia merupakan eksportir solar terbesar kedua di dunia, pembatasan ekspor tersebut berpotensi memperketat pasokan diesel global dan meningkatkan biaya di berbagai sektor di Eropa, termasuk pertanian dan transportasi.
Sementara itu, Ukraina menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas energi Rusia merupakan balasan yang sah atas serangan udara Rusia yang terus berlangsung terhadap wilayah Ukraina.
Sumber : NTDTV.com





