Jakarta (ANTARA) - Kepolisian Negara Republik Indonesia membekali 282 calon perwira remaja (capaja) Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan Ke-58 dengan pemahaman mengenai dinamika geopolitik global sebagai upaya menyiapkan perwira yang mampu menjaga stabilitas nasional di tengah tantangan keamanan yang semakin kompleks.
Dalam amanat Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo yang dibacakan Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo pada upacara penutupan pendidikan Akpol di Semarang, Jawa Tengah, Jumat, para perwira muda diminta memiliki wawasan strategis terhadap perkembangan global agar mampu menjalankan tugas kepolisian secara adaptif dan berorientasi pada kepentingan bangsa.
"Dinamika geopolitik saat ini berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Konflik AS-Israel dengan Iran, perang Rusia-Ukraina, persaingan hegemoni antara Amerika Serikat dan China, serta ketegangan di kawasan Timur Tengah telah berdampak terhadap stabilitas keamanan global, rantai pasok, ketahanan pangan dan energi, hingga perekonomian dunia," kata Komjen Dedi saat membacakan amanat Kapolri, dalam keterangannya diterima di Jakarta.
Dalam amanat tersebut, Kapolri menjelaskan kondisi tersebut turut memengaruhi Indonesia, antara lain melalui pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Namun, menurut dia, pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter serta program strategis seperti swasembada pangan dan energi, hilirisasi industri, penguatan investasi, dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
Baca juga: Akpol perkuat ilmu "scientific policing" lewat laboratorium baru
Ia menyebut ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2026 mencapai 5,61 persen, defisit APBN sebesar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), serta inflasi yang terjaga di level 3,34 persen.
Dalam pembekalan tersebut, Kapolri juga menegaskan peran Polri dalam mendukung kebijakan pemerintah melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti pemanfaatan lahan untuk penanaman jagung, pembangunan Gudang Ketahanan Pangan Polri, penyelenggaraan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelayanan kesehatan gratis, hingga pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi.
Selain itu, Polri terus memperkuat ketahanan energi melalui penegakan hukum di sektor minyak dan gas, pertambangan, serta ketenagalistrikan, disertai pengamanan objek vital nasional dan distribusi energi. Upaya tersebut juga dilengkapi perlindungan hak pekerja melalui Desk Ketenagakerjaan Polri serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendirian SMA Kemala Taruna Bhayangkara.
"Seluruh upaya tersebut merupakan wujud dukungan Polri dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi, meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat, memperluas akses infrastruktur, serta mempersiapkan generasi muda yang unggul," ujarnya.
Melalui pembekalan itu, Polri berharap 282 lulusan Akpol Angkatan Ke-58 tidak hanya memiliki kompetensi teknis sebagai insan Bhayangkara, tetapi juga memahami tantangan strategis bangsa sehingga mampu menjadi pemimpin Polri yang profesional, adaptif, berintegritas, dan siap mengawal kepentingan nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Baca juga: Menko Polkam: Polri harus dicintai rakyat
Baca juga: Pimpin wisuda taruna, Kapolri tekankan sinergisitas TNI-Polri
Baca juga: Polda Metro tekankan profesionalisme taruna lewat pemahaman hukum
Dalam amanat Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo yang dibacakan Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo pada upacara penutupan pendidikan Akpol di Semarang, Jawa Tengah, Jumat, para perwira muda diminta memiliki wawasan strategis terhadap perkembangan global agar mampu menjalankan tugas kepolisian secara adaptif dan berorientasi pada kepentingan bangsa.
"Dinamika geopolitik saat ini berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Konflik AS-Israel dengan Iran, perang Rusia-Ukraina, persaingan hegemoni antara Amerika Serikat dan China, serta ketegangan di kawasan Timur Tengah telah berdampak terhadap stabilitas keamanan global, rantai pasok, ketahanan pangan dan energi, hingga perekonomian dunia," kata Komjen Dedi saat membacakan amanat Kapolri, dalam keterangannya diterima di Jakarta.
Dalam amanat tersebut, Kapolri menjelaskan kondisi tersebut turut memengaruhi Indonesia, antara lain melalui pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Namun, menurut dia, pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter serta program strategis seperti swasembada pangan dan energi, hilirisasi industri, penguatan investasi, dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
Baca juga: Akpol perkuat ilmu "scientific policing" lewat laboratorium baru
Ia menyebut ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2026 mencapai 5,61 persen, defisit APBN sebesar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), serta inflasi yang terjaga di level 3,34 persen.
Dalam pembekalan tersebut, Kapolri juga menegaskan peran Polri dalam mendukung kebijakan pemerintah melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti pemanfaatan lahan untuk penanaman jagung, pembangunan Gudang Ketahanan Pangan Polri, penyelenggaraan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelayanan kesehatan gratis, hingga pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi.
Selain itu, Polri terus memperkuat ketahanan energi melalui penegakan hukum di sektor minyak dan gas, pertambangan, serta ketenagalistrikan, disertai pengamanan objek vital nasional dan distribusi energi. Upaya tersebut juga dilengkapi perlindungan hak pekerja melalui Desk Ketenagakerjaan Polri serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendirian SMA Kemala Taruna Bhayangkara.
"Seluruh upaya tersebut merupakan wujud dukungan Polri dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi, meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat, memperluas akses infrastruktur, serta mempersiapkan generasi muda yang unggul," ujarnya.
Melalui pembekalan itu, Polri berharap 282 lulusan Akpol Angkatan Ke-58 tidak hanya memiliki kompetensi teknis sebagai insan Bhayangkara, tetapi juga memahami tantangan strategis bangsa sehingga mampu menjadi pemimpin Polri yang profesional, adaptif, berintegritas, dan siap mengawal kepentingan nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Baca juga: Menko Polkam: Polri harus dicintai rakyat
Baca juga: Pimpin wisuda taruna, Kapolri tekankan sinergisitas TNI-Polri
Baca juga: Polda Metro tekankan profesionalisme taruna lewat pemahaman hukum





