Rachmat Gobel, tokoh Indonesia yang malang-melintang di dunia bisnis, pemerintahan, dan politik, telah berpulang. Selama hidupnya, ia dikenang sebagai sosok pekerja keras, politisi ulung, serta pebisnis yang kaya pengalaman dan menaruh perhatian besar pada pembangunan industri domestik.
Rachmat mengembuskan napas terakhir setelah terkena serangan penyakit mendadak di Rumah Sakit Brawijaya, Tebet, Jakarta, Jumat (10/7/2026) pukul 03.20 WIB. Ia dikebumikan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Ia pergi meninggalkan istri tercinta, Retno Damayanti, serta dua anak. Mereka adalah Nurfitria Sekarwillis Kusumawardhani dan Mohammad Arif Gobel serta beberapa cucu dan keluarga besar.
Bagi keluarga, Rachmat bukan sekadar figur publik yang dikenal luas di dunia bisnis maupun politik. Ia adalah sosok yang mengajarkan arti keluarga, pentingnya menjaga kepercayaan, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta memberi manfaat bagi orang lain.
“Beliau meyakini, sebaik-baiknya kehidupan adalah dapat menghadirkan kebaikan bagi sesama. Bagi kami, beliau akan selalu kami kenang sebagai sosok yang mengajarkan keteladanan melalui tindakan, bukan hanya melalui kata-kata,” tutur salah satu perwakilan keluarga yang ditemui di kediaman Rachmat di Jalan Supomo, Jakarta.
Semasa hidupnya, Rachmat terlebih dulu dikenal sebagai pebisnis ulung yang melanjutkan perusahaan keluarga, Gobel Group, yang dibangun oleh ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel.
Sepeninggal ayahnya, Rachmat mengelola perusahaan setelah menuntaskan studi di Chuo University, Jepang. Selain mengelola Gobel Group, Rachmat juga menjabat sebagai Chairman Panasonic Gobel. Ia merupakan tokoh sentral di balik kesuksesan ekspansi bisnis dan kemitraan jangka panjang Panasonic dan Gobel di Indonesia
Selama berkecimpung di dunia bisnis, Rachmat banyak menjalin hubungan dengan perusahaan Jepang. Tak ayal, pengalamannya yang panjang itu membuat ia sempat menjabat sebagai presiden Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang.
Kompas mencatat, Rachmat adalah pebisnis yang memiliki prinsip kuat dalam menjalin kerja sama usaha. Dalam salah satu kegiatannya, ia mengemukakan bahwa hubungan bisnis yang bersifat mutualisme mensyaratkan adanya relasi saling memperkuat, menghormati, dan melengkapi satu sama lain.
“Jepang unggul dan memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan infrastruktur yang mengedepankan kualitas tinggi serta efisiensi. Unggul pula dalam menjaga lingkungan hidup. Di sisi lain, Indonesia menawarkan sumber daya serta pasar,” tutur Rachmat pada 4 Juni 2025. (Kompas.id, 5/6/2025).
Pernyataan ini hanya salah satu petikan yang menunjukkan kepiawaiannya dalam menjalin hubungan bisnis antarnegara. Tak ayal, perspektif dan pengalamannya yang luas membawa Rachmat menjadi Menteri Perdagangan pada 2014-2015.
Ia pun turut mengemban tugas sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Jepang pada 2017-2019 pada masa pemerintahan Presiden RI periode 2014-2024, Joko Widodo. “Rachmat Gobel merupakan pribadi yang baik, menteri yang pekerja keras,” ujar Joko Widodo seusai melawat di kediaman Rachmat di Jakarta, Jumat siang.
Dalam kesempatan serupa, sejumlah tokoh publik turut menyambangi kediaman Rachmat dan berbelasungkawa kepada keluarga. Mereka antara lain adalah Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, dan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh.
Ada pula pengusaha sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2014), Chairul Tanjung; serta Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Budisatrio Djiwandono.
Anindya mengatakan, Rachmat merupakan sosok pengusaha Indonesia yang menjadi teladan bagi banyak pebisnis. Ia meninggalkan banyak kenangan baik semasa hidupnya. “Kami kehilangan sosok pengusaha nasional, bukan hanya kemajuan bisnisnya, tetapi juga bagaimana bisnis bisa maju dan inklusif bersama yang lain,” ujarnya.
Saat ditanya momen paling berkesan, Anindya mengingat wejangan yang diberikan Rachmat. Ia berharap pesan ini dapat terus dilanjutkan oleh para pengusaha Indonesia lainnya.
“Ia berpesan, hal yang paling penting untuk digarisbawahi adalah industri. Dalam segala macam usaha perdagangan, jangan lupa membangun industri, apalagi industri dalam negeri,” tutur Anindya.
Rachmat tidak hanya dikenal di dunia usaha. Ia juga telah lama berkiprah di dunia politik melalui Partai Nasdem. Ia sempat menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mewakili daerah pemilihan Gorontalo pada 2019. Setelahnya, kiprah politik Rachmat melejit hingga menjabat sebagai wakil ketua DPR periode 2019-2024.
Sebelum upacara penghormatan militer dimulai, Ketua Umum Partai Golkar dan Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Bahlil Lahadalia turut menyatakan rasa dukanya atas berpulangnya salah satu tokoh bangsa yang ia sebut sebagai “senior di dunia usaha”.
“Beliau orang baik. Ketika saya menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) pada 2015, menteri pertama yang menerima kami adalah almarhum sebagai Menteri Perdagangan. Beliau adalah sosok yang konsisten, pekerja keras, membangun komitmen dan kepercayaan,” ujar Bahlil.
Politisi Partai Nasdem dan anggota DPR periode 2019-2024, Willy Aditya, mengatakan kepergian Rachmat adalah kehilangan bagi Partai Nasdem, kampung halaman Rachmat, yaitu Gorontalo, serta Indonesia.
”Beliau sahabat sepejuangan dan kawan separtai yang humble, suka menolong, dan punya kepedulian tinggi terhadap industri nasional serta totalitas dalam memajukan kampung halamannya, Gorontalo. Beliau orang yang berintegritas dalam menjalankan tugas,” ucap Willy.
Saat duduk di kursi legislatif, Rachmat menggunakan pengalamannya sebagai pengusaha untuk mengembangkan industri dalam negeri. Ia juga mendorong investasi, kerja sama ekonomi, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai prasyarat kemajuan industri nasional.





