“Saya memang sudah lama ingin kuliah di UGM. Saya sering ke UGM dan menurut saya suasana kampusnya nyaman. Dari dulu memang ingin bisa kuliah di sini,” ujar Rasha dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 10 Juli 2026.
Saat masih duduk di bangku SMA, Rasha telah mempelajari dasar-dasar robotika dan pemrograman melalui berbagai kegiatan di sekolah. Dia juga gemar membuat komik digital di platform Webtoon dan pernah mengikuti kompetisi pengembangan gim maupun lomba komik semasa SMA.
“Saya tertarik dengan robotika dan ingin belajar lebih dalam lagi di Teknik Fisika. Saya juga ingin mengembangkan kemampuan coding yang saya sukai sejak sekolah,” kata dia.
Minat tersebut menjadi salah satu alasan Rasha menjatuhkan pilihan pada Program Studi Teknik Fisika UGM. Sebelum menentukan pilihan, ia telah mengunjungi sejumlah departemen di Fakultas Teknik, seperti Teknik Elektro, Teknik Industri, hingga akhirnya mantap memilih Teknik Fisika karena melihat peluang untuk mengembangkan kemampuan di bidang rekayasa dan komputasi.
Meski begitu, perjalanan Rasha menuju UGM tidak dilalui dengan mudah. Selama mempersiapkan diri menghadapi SNBT, ia belajar mandiri karena tidak dapat mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah.
Sebagian besar lembaga bimbingan belajar belum memiliki akses yang ramah bagi pengguna kursi roda. Kondisi tersebut membuat Rasha mengumpulkan berbagai soal latihan dari teman-temannya untuk dipelajari sendiri hingga larut malam.
Hampir setiap malam, Rasha menghabiskan waktu untuk berlatih mengerjakan soal-soal latihan. Materi Pengetahuan Kuantitatif (PK) dan Penalaran Matematika (PM) menjadi tantangan terbesar yang harus ia taklukkan selama masa persiapan ujian.
Baca Juga :
Cinta Peternakan Sejak Kecil, Anak Penjual Keripik Pisang Ini Lolos Fapet UGM dan Kuliah GratisMahasiswa baru Teknik Fisika UGM, Rasha Putra Permata, dan kedua orang tuanya. DOK UGM
“Materi yang paling sulit buat saya itu Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika. Jadi saya harus banyak latihan supaya bisa memahami pola soalnya,” ujar dia.
Rasha juga dikenal sebagai siswa yang aktif berorganisasi. Selama bersekolah di SMA Negeri 3 Yogyakarta, ia bergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai pengurus bidang internal multimedia yang bertanggung jawab mengelola berbagai materi visual.
Ia juga dipercaya menjadi koordinator pada rangkaian acara kegiatan sosial dan pentas seni yang berlangsung selama beberapa hari, serta terlibat sebagai asisten koordinator pada sejumlah kegiatan sekolah lainnya.
Di balik keberhasilannya, terdapat dukungan penuh dari kedua orang tua yang selama ini selalu menyertai. Rasha tumbuh di tengah keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai bekal utama kehidupan.
Sang ayah, Harsa Permata (47), bekerja sebagai dosen honorer di salah satu perguruan tinggi swasta. Sedangkan sang Ibu, Triani Priliastuti (48), merupakan ibu rumah tangga.
Bagi kedua orang tuanya, kondisi yang dialami Rasha tidak pernah dipandang sebagai kekurangan. Sebaliknya, mereka memilih membesarkannya dengan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk bersinar.
“Dari dulu saya selalu bilang kepada ayahnya, kita sedang membesarkan emas. Di mana pun emas berada, dia akan tetap bersinar. Begitu juga Rasha. Kami percaya dia akan menemukan jalannya untuk terus berkembang,” ujar Triani.
Kedua orang tua Rasha berharap UGM dapat terus memperkuat lingkungan kampus yang inklusif melalui penyediaan fasilitas yang semakin ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Mereka meyakini aksesibilitas yang baik akan membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa disabilitas untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki.
“Harapan kami, UGM terus meningkatkan aksesibilitas agar mahasiswa disabilitas bisa belajar dengan nyaman dan mengembangkan potensinya. Kami percaya mereka memiliki kemampuan yang sama untuk berprestasi dan memberi manfaat bagi banyak orang,” ujar Harsa.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)





