Para pemilik anjing dan kucing di Hong Kong kini bisa mengajak hewan peliharaan kesayangan mereka untuk makan bersama di dalam restoran. Kebebasan baru ini terealisasi setelah otoritas kota melonggarkan aturan yang telah berlaku selama beberapa dekade, yang sebelumnya melarang hewan peliharaan mendampingi pemiliknya di tempat makan.
Sejak tahun 1994, berdasarkan peraturan bisnis makanan di Hong Kong, hanya anjing pemandu dan anjing yang menjalankan tugas resmi yang diizinkan masuk ke restoran.
Namun, sejak Kamis (9/7/2026), perubahan kebijakan yang bertujuan mempromosikan budaya ramah hewan peliharaan tersebut resmi diberlakukan. Pada fase pertama, aturan baru ini mencakup lebih dari 900 restoran yang telah mengantongi izin.
Tanda "ramah hewan peliharaan" di salah satu pusat perbelanjaan Distrik North Point, Hong Kong. (AFP/PETER PARKS)
Anjing saling menyapa di Wan Land Cafe, Hong Kong. (AP/CHAN LONG HEI)
Berada di dekat meja makan bersama pemilik. (AP/CHAN LONG HEI)
Langkah terbaru Hong Kong ini diikuti dengan pemberian izin bagi hewan peliharaan untuk mengakses rute feri tertentu dan beberapa kereta metro yang melayani daerah di luar kota.
Selain itu, sejumlah rumah sakit umum mulai mengizinkan kunjungan hewan peliharaan untuk pasien perawatan paliatif. Menurut data pemerintah, terdapat lebih dari 240.000 rumah tangga di kota ini yang memelihara lebih dari 400.000 kucing dan anjing. Jumlah tersebut mewakili sekitar 9 persen dari total rumah tangga di Hong Kong.
Mengutip laporan The Asian Business Review, Pemerintah Hong Kong telah membuka pengajuan izin bagi restoran yang ingin membuka pintu bagi anjing sejak 18 Mei 2026.
Program fase awal ini ditargetkan mampu mencakup hingga 1.000 restoran. Dari sisi bisnis, pelonggaran aturan tersebut diperkirakan bakal meningkatkan angka kunjungan ke pusat perbelanjaan di kawasan pusat kota, terutama pada akhir pekan.
Direktur Ritel konsultan properti Savills Hong Kong Philip Lam menilai kebijakan ini akan membantu menahan arus belanja akhir pekan warga lokal yang selama ini kerap mengalir ke China daratan, khususnya Shenzhen.
Menurut Lam, mal di pusat kota Hong Kong memiliki peluang lebih besar untuk memanfaatkan tren ini ketimbang pusat perbelanjaan berkonsep ruang terbuka (lifestyle centre) di kawasan pinggiran. Hal itu karena area pusat kota didukung oleh ekosistem kuliner yang sudah lebih mapan.
Di Wan Land Cafe, sang pemilik, Kelvin Chan, dengan bangga memasang poster yang menyatakan bahwa tempat usahanya kini menerima kedatangan anjing. Sebelumnya, anjing hanya diperbolehkan berada di area luar ruangan (outdoor). Kondisi tersebut kerap membuat hewan peliharaan tidak nyaman, terutama saat musim panas yang menyengat di Hong Kong.
Chan mengakui bahwa kebijakan baru ini mungkin tidak serta-merta membawa lonjakan omzet dalam sekejap. Namun, sebagai sesama pemilik anjing, ia berharap langkah ini dapat membentuk lingkungan masyarakat yang lebih ramah terhadap hewan peliharaan.
Ia juga mencatat, meski para pencinta hewan menyambut baik perubahan ini, kebijakan baru tersebut bisa menjadi tantangan bagi pelanggan yang belum terbiasa makan dengan keberadaan anjing di sekitarnya.
Oleh karena itu, Chan berharap para pemilik hewan peliharaan bisa bersikap bertanggung jawab saat berada di restoran atau ruang publik lainnya. Kesadaran ini dinilai penting untuk membantu masyarakat umum menerima gagasan tersebut, sekaligus memahami bahwa inklusivitas terhadap hewan peliharaan merupakan sebuah langkah progresif.
Warga Hong Kong lainnya, Franco Li, yang juga pelanggan tetap di Wan Land Cafe, menceritakan bahwa anjing Shiba miliknya yang bernama Piku terlihat sangat senang saat diajak masuk ke dalam kafe dan duduk menemani di dekat meja makan. ”Pelonggaran aturan ini adalah sebuah kemajuan nyata,” ujarnya.
Untuk mempersiapkan perubahan ini, sejumlah pemilik anjing bahkan telah membawa hewan peliharaan mereka mengikuti ”lokakarya etiket makan bagi anjing.”
Seorang pelatih anjing, Heyton Lee, mengaku sangat sibuk memberikan pelatihan dalam beberapa minggu terakhir menjelang pemberlakuan aturan baru. Lee, yang telah berpengalaman selama 19 tahun sebagai pelatih, biasanya memberikan program pelatihan intensif berdurasi dua jam.
Lee mengawali program dengan mensimulasikan suasana restoran, dimulai dari momen pemilik membawa anjing berjalan-jalan di sekitar area makan. Ia memberikan arahan agar pemilik mampu menjaga anjingnya tetap tenang dan tidak terlalu bersemangat saat melihat anjing lain.
Selanjutnya, Lee mendemonstrasikan beberapa isyarat tangan untuk menginstruksikan anjing agar berperilaku baik. Tujuannya adalah melatih anjing tetap tenang dan mengajari mereka cara berinteraksi yang aman dengan manusia.
Pelatihan ini, misalnya, membantu anjing memahami bahwa langkah kaki orang yang lewat di sekitar mereka bukanlah ancaman atau tindakan yang ingin menyakiti mereka.
”Jika seekor anjing hanya terus berada di dalam rumah, ia bisa menjadi sangat gugup saat keluar. Bahkan ketika ada orang lain yang hanya ingin menyentuhnya, anjing tersebut bisa bereaksi defensif,” kata Lee.
Berdasarkan regulasi baru, anjing yang dibawa ke restoran harus diikat dengan tali yang panjangnya tidak melebihi 1,5 meter. Tali tersebut wajib dipegang oleh orang dewasa atau dikaitkan pada tempat yang aman. Selain itu, anjing harus dijauhkan dari meja makan dan dilarang keras mengonsumsi makanan langsung dari peralatan makan restoran yang digunakan kembali.
Sementara itu, anjing yang dikategorikan sebagai ”ras petarung” berdasarkan standar pemerintah sama sekali tidak diizinkan masuk ke restoran. Pihak restoran juga dilarang memasak makanan segar khusus untuk anjing, tetapi diperbolehkan menawarkan makanan hewan dalam kemasan siap saji. Banyak pelaku usaha kuliner kini bersiap menyambut pelanggan berkaki empat tersebut demi mendongkrak pendapatan mereka.
Old Fung Teahouse, sebuah restoran dim sum, bahkan telah menginvestasikan lebih dari 10.000 dolar Hong Kong untuk menyiasati aturan baru ini. Pengelola restoran memasang alat pembersih udara (air purifier) dan sekat sederhana untuk memisahkan area meja pelanggan umum dengan pemilik hewan peliharaan.
Mereka juga menyediakan kereta dorong hewan (pet stroller) serta produk pembersih. Dengan fasilitas ini, pembukaan layanan ramah anjing diharapkan mampu mendongkrak bisnis hingga 15 persen.
Ma Ke, seorang turis asal China daratan yang sedang berlibur di Hong Kong, mengapresiasi langkah taktis yang diambil pihak restoran dalam menyikapi kebijakan baru ini.
”Dengan memisahkan area khusus untuk anjing dan pemiliknya, restoran dapat mengelola situasi dengan baik. Langkah ini memudahkan pelanggan yang belum terbiasa berada di dekat hewan untuk tetap merasa nyaman,” ujarnya. (AP)





