Arema FC menyambut baik rencana PSSI yang melonggarkan larangan suporter bertandang pada Super League 2026/27. Manajemen 'Singo Edan' yakin Aremania sudah berubah jadi lebih baik.
Sebelumnya, Ketum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Erick Thohir, melonggarkan regulasi suporter away di Super League 2026/27. Tapi dengan catatan, bahwa klub dan I.League harus menjamin dan bertanggung jawab penuh atas keselamatan suporter jika terjadi sesuatu.
Jika terjadi insiden di dalam penerapannya, PSSI tak akan segan untuk kembali melarang suporter lakukan away. Menurutnya, ini sudah dikoordinasikan oleh FIFA.
General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi, menuturkan selama tiga tahun sejak terjadinya Tragedi Kanjuruhan memang kondisi persepakbolaan Indonesia cukup terdampak. Ketiadaan suporter tamu bertandang secara terang-terangan membuat pemasukan tim-tim berkurang.
"Secara klub pasti semua klub bukan hanya Arema, pasti pengin memang dicabut aturannya. Sudah dari lama kan, kalau supporter away itu sudah harus dimulai," kata Yusrinal, ditemui usai latihan Arema FC di Malang, Jumat (10/7).
Menurutnya, pencabutan larangan suporter untuk bertandang menjadi momen tepat bagi setiap tim Super League. Beberapa tim memang kesulitan tampil maksimal di luar kandang, karena ketiadaan dukungan suporter di luar markasnya. Memang suporter-suporter itu tetap nekat bertandang ke markas lawan, tapi konsekuensinya mendapat sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.
"Secara timing sih, kalau dari sisi arema ini pasti sekali. Karena sudah waktunya lah ya, kita tiga tahun tanpa penonton away kan, itu sangat memengaruhi ke juga salah satu permainan di tim di pertandingan. Karena pastilah semua pemain itu pengin dilihat sama suporternya, mau itu home atau mau away," jelasnya.
Bagi Arema FC kehadiran Aremania di luar markas mereka juga dianggap mempengaruhi performa tim. Di musim 2025/26, 'Singo Edan' secara mengejutkan mencuri 3 poin di markas Persija Jakarta dan menahan imbang Persib Bandung di markasnya, di tengah dukungan ribuan Aremania yang datang.
"Semua pemain itu pengin dilihat sama suporternya, mau itu home atau mau away. Itu kalau dari sisi pemain, jadi mereka lebih bersemangat untuk bermain," ujarnya.
Ia juga berujar, momen pencabutan larangan suporter bertandang ke markas juga menjadi tepat di tengah semangat perubahan Aremania. Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir usai Tragedi Kanjuruhan, Aremania dan panitia pelaksana (Panpel) Arema berubah lebih baik sejak berkandang di Bali, Blitar, dan kembali ke Stadion Kanjuruhan.
"Alhamdulillah Arema mulai dari Bali, Blitar sampai ke Kanjuruhan, itu sudah kita antisipasi semuanya. Karena kita belajar banyak tanggal itu, akhirnya kita juga sekarang secara sistem kepanpelan, ticketing, apa segala macem, kita sudah siap dengan risiko apa pun," terangnya.
Bahkan ia mengeklaim, Aremania juga sudah berubah jauh lebih baik. Hal ini ditandai dengan beberapa kali lawatan tandang ke markas lawan, dan jamuan sambutan suporter lawan yang datang ke Malang, di tengah diberlakukannya larangan suporter bertandang, termasuk inventaris keanggotaan.
"Dari sisi Presidium Aremania mungkin ada KTA dan segala macam. Mungkin dari sisi kita juga kan kita sudah kurasi mana yang teregister di tempat, dari Arema Access itu kan juga sudah terkurasi semuanya," paparnya.
Dirinya tinggal menekankan bagaimana mewaspadai oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mengaku Aremania, tapi tidak terdaftar secara resmi di keanggotaan. Oknum-oknum inilah yang disebutnya kerap berulah saat laga kandang dan tandang, hingga merugikan Singo Edan.
"Saya dengar-dengar juga dari Liga ini mau ada namanya Sobat Liga. Jadi aplikasi dan itu terkoneksi dengan semua aplikasi atau sistem online-nya klub. Itu juga bisa antisipasi," kata dia.
"Jadi misalkan Arema kedatangan suporter pesembahaya gitu kan. Itu nanti kedeteksi nanti. Itu nanti dari aplikasinya Sobat Liga itu saya nggak tahu teknisnya nanti seperti apa," imbuhnya.




