JAKARTA, KOMPAS — Penerapan biodiesel B50 yang dimulai pada tahun ini membawa kebutuhan baru, yakni metanol. Pemerintah pun berencana membangun dua pabrik baru untuk memproduksi metanol sebagai salah satu campuran yang akan digunakan pada pengolahan B50.
Dari Banyuwangi, Jawa Timur, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Jumat (10/7/2026), menjelaskan bahwa persiapan pabrik metanol terus dikerjakan. "Pemprov (Pemerintah Provinsi) Jawa Timur akan mendukung penuh proyek strategis ini," tuturnya.
Sejauh ini, tim terpadu yang melibatkan kementerian terkait dan Perum Perhutani telah melakukan survei lapangan di kawasan Resor Pengelolaan Hutan (RPH) Sawitrejo, Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Clangap, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bojonegoro, yang berada di sekitar Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.
Lokasi ini berdekatan dengan Gas Processing Facility (GPF) Jambaran–Tiung Biru (JTB) sebagai calon pemasok bahan baku gas. Fasilitas yang diresmikan pada Februari 2022 ini memasok gas sebesar 192 MMSCFD (million standard cubic feet per day).
Proyek Gas JTB ini memasok kebutuhan pembangkit listrik dan industri di wilayah Jawa Timur serta Jawa Tengah. Fasilitas ini juga memenuhi kebutuhan rumah tangga di Lamongan melalui program jaringan gas (jargas).
Adapun proyek pembangunan pabrik di Bojonegoro diperkirakan memerlukan investasi senilai Rp 22,8 triliun. Saat ini, pelepasan kawasan hutan masih berlangsung. Salah satu tahapan utama yang masih berjalan adalah persetujuan pelepasan kawasan hutan dari pemerintah pusat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, seusai peluncuran B50 oleh Presiden Prabowo Subianto di Rest Area KM 57 Tol Trans Jawa, Kabupaten Karawang, Kamis (9/7/2026), menyebutkan, dua pabrik metanol akan dibangun untuk memenuhi kebutuhan produksi B50.
Pabrik tersebut akan dibangun di Bojonegoro, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur. Pabrik di Bojonegoro, lanjutnya, akan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) akhir tahun 2026 ini.
Masih diperlukan 2,5 juta ton metanol untuk produksi B50. Masalahnya, produksi dalam negeri saat ini baru sekitar 600.000 ton dan sisanya masih diimpor.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan, kedua pabrik akan menggunakan pendekatan berbeda. Pabrik di Bojonegoro akan menggunakan bahan baku gas alam.
Sementara, pabrik di Kalimantan akan berbahan baku batubara kalori rendah yang digasifikasi menjadi syngas atau gas sintesis. Gas sintesis ini kemudian dimampatkan pada tekanan tinggi dan dialirkan melalui katalis untuk membentuk cairan metanol.
Saat peluncuran B50, Eniya sempat menjelaskan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa B50 dihasilkan dari pencampuran solar dan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dengan rasio 50:50.
Untuk memproduksi FAME dari CPO (crude palm oil), diperlukan metanol. Sementara, saat ini, masih diperlukan 2,5 juta ton metanol untuk produksi B50. Masalahnya, produksi dalam negeri saat ini baru sekitar 600.000 ton dan sisanya masih diimpor.
Sejauh ini, menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, produksi B50 tahun ini berkisar 38-40 juta kiloliter, sesuai kebutuhan tahunan solar Indonesia.
Untuk itu, lanjut Eniya dalam keterangan kepada wartawan, FAME yang diperlukan berkisar 16,7 juta kiloliter sampai 18 juta kiloliter. Sejauh ini, kapasitas terpasang pabrik FAME sudah mencapai 22 juta kiloliter, tetapi produksi belum di angka optimal tersebut.
Bahan bakar nabati B50 sendiri, lanjut Eniya, sudah tersedia di 57 persen dari total SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Pertamina. Lokasi SPBU ini terletak di Jawa, Sumatera, dan terus menyebar ke berbagai wilayah.
"Mulai 1 Juli itu merambah titiknya (untuk distribusi B50). Di Cikampek ini semua (SPBU) sudah. Surabaya juga sudah. Di Jakarta pun full sudah," ujarnya.
Ia mengatakan, sejauh ini masih ada stok B40. Oleh karena itu, masih ada masa transisi selama tiga bulan untuk menghabiskan persediaan B40 tersebut.





