REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr menegaskan negaranya akan menanggapi setiap serangan terhadap infrastrukturnya, termasuk dengan menyerang Israel. Pernyataan ini sampaikan setelah Teheran dan Washington kembali terlibat pertempuran pekan ini.
“Setiap serangan terhadap infrastruktur akan dibalas, dan rezim Zionis kriminal yang bertanggung jawab atas kekejaman ini tidak akan aman dari tanggapan para pejuang kami,” ujar dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah dikutip Arabnews, Sabtu (11/7/2026).
Baca Juga
Kronologi Mundurnya Jampidsus, dari Penggeledahan hingga Titah Presiden
Merino Kembali Jadi Pahlawan, Spanyol Bekuk Belgia 2-1 dan Tantang Prancis di Semifinal Piala Dunia
Setara Hotel Bintang Tiga, Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin Diresmikan Menhaj
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Jumat (10/7/2026) bahwa AS telah setuju untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran tetapi menegaskan kembali bahwa gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir.
“Iran meminta kami untuk melanjutkan 'perundingan.' Kami telah menyetujuinya, tetapi Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka, dengan tegas, bahwa Gencatan Senjata TELAH BERAKHIR!” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pertempuran kembali memanas pekan ini antara AS dan Iran, yang merupakan baku tembak paling signifikan sejak kedua pihak menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni, yang bertujuan untuk meresmikan gencatan senjata April dan memandu pembicaraan untuk mengakhiri perang secara tuntas.
Warga Iran mengikuti upacara pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Iran, Senin (6/7/2026). Iran menggelar upacara pemakaman kenegaraan selama beberapa hari, mulai 4 hingga 9 Juli 2026, bagi sang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)
Militer AS melakukan serangan besar-besaran semalam antara hari Rabu dan Kamis, dengan mengatakan bahwa mereka menargetkan 90 situs militer. Meski demikian, Republik Islam menuduh Washington juga menargetkan infrastruktur sipil untuk mengalihkan perhatian dari pemakaman mendiang pemimpin tertinggi Ali Khamenei.