Media sosial kembali menunjukkan kemampuannya mengubah momen olahraga jadi panggung komunikasi jenama. Jelang laga Inggris vs Norwegia di Piala Dunia 2026, British Airways dan Norwegian saling melontarkan tantangan di Instagram yang kemudian memancing puluhan maskapai lain ikut berkomentar. Percakapan ringan tersebut berkembang menjadi contoh bagaimana kreativitas dan kecepatan merespons isu dapat menghasilkan perhatian publik yang jauh lebih besar dibandingkan promosi konvensional.
Unggahan itu bermula dari akun Instagram Norwegian. Maskapai asal Norwegia tersebut menantang British Airways untuk membuat taruhan sederhana menjelang pertandingan Inggris melawan Norwegia. Jika Norwegia menang, British Airways diminta mengganti foto profil Instagram dengan logo Norwegian selama 24 jam. Sebaliknya, jika Inggris menang, Norwegian yang harus menggunakan logo British Airways.
Tantangan itu disampaikan dengan nada santai dan penuh percaya diri. Formatnya sederhana, tetapi mudah dipahami sehingga cepat menarik perhatian pengguna media sosial. Ribuan pengguna ikut memberikan komentar dan membagikan unggahan tersebut.
British Airways tidak langsung memberikan jawaban. Alih-alih merespons secara eksplisit, maskapai asal Inggris itu lebih dulu mengunggah pesan singkat bertuliskan ”It’s Coming Home”, slogan yang identik dengan optimisme pendukung sepak bola Inggris. Unggahan itu memancing rasa penasaran sekaligus memperpanjang percakapan di media sosial.
Tak lama kemudian, British Airways akhirnya menerima tantangan tersebut. Balasannya pun bernada ringan, menyebut bahwa mereka siap menerima taruhan sambil menyelipkan gurauan mengenai siapa yang akan menjadi pemenang. Percakapan itu semakin memperlihatkan karakter kedua jenama yang tampil lebih dekat dengan audiens.
Analisa media sosial
Pantauan Tim Media Sosial Harian Kompas (Kompas.id) menggunakan Lunar by Talkwalker dan KawalData menunjukkan percakapan ini mulai bergulir Kamis (9/7/2026) waktu Indonesia saat akun @flynorwegian pertama kali meluncurkan tantangan. Percakapan menjadi makin riuh hingga mencapai puncaknya pada Jumat, (10/7/2026) malam hari waktu Indonesia saat akun @british_airways menanggapi tantangan tersebut. Tak hanya saling tantang kedua akun tersebut bahkan melakukan colaboration post sebagai bukti bahwa tantangan ini “serius”.
Hingga pukul 08.00, Sabtu (11/7/2026) setidaknya ada 1.100 percakapan yang mencantumkan frasa “British Airways – Norwegian”. Tema percakapan tersebut setidaknya bisa menjangkau 279,3 juta paparan di media sosial.
Dari sample 300 percakapan yang ditarik melalui KawalData, tone sentimen percakapan menunjukkan dominasi sentimen positif. Data menunjukkan ada 157 percakapan (52%) yang nilai polaritinya mengarah ke positif, 4 percakapan (1,3%) mengarah ke negatif, dan 139 (46,3%) cenderung netral.
Dari data tersebut, KawalData juga menggolongkan percakapan-percakapan terkait brand banter yang dilakukan Norwegian dan British Airways dipenuhi dengan emosional yang normal dan bahagia. Sedangkan ambience distribution-nya justru didominasi informatif ketimbang promotional.
Maskapai lain
Menariknya, percakapan tidak berhenti pada dua maskapai tersebut. Sejumlah maskapai dan pelaku industri penerbangan ikut "nimbrung" di kolom komentar sehingga percakapan berkembang menjadi ajang bercanda lintas merek.
Riyadh Air, misalnya, berkomentar bahwa mereka akan menikmati jalannya pertandingan dari pinggir lapangan. Brussels Airlines juga ikut bergurau dengan menyebut diri mereka siap menjadi "VAR" dalam taruhan tersebut.
Sementara Garuda Indonesia turut berkomentar “We’ll be cheering with an ice-cold Martebe in hand.” Martebe ialah salah satu minuman khas Sumatera Utara yang menjadi minuman khas dari Garuda Indonesia.
Respons sejumlah maskapai semacam ini membuat kolom komentar terasa seperti ruang percakapan antarteman, bukan lagi ruang promosi perusahaan. Dalam dunia komunikasi marketing, fenomena semacam ini dikenal sebagai brand banter, yakni percakapan santai, saling menggoda, atau bercanda antar-merek di ruang digital dengan tetap menjaga citra masing-masing. Tujuannya bukan menyerang pesaing, melainkan membangun percakapan yang menghibur sehingga publik terdorong ikut terlibat.
Brand banter
Mathieu Béal, Charlotte Lécuyer, Ivan Guitart pernah mengulas cara bercanda sejumlah jenama dalam jurnal berjudul “Humor in Online Brand-to-Brand Dialogues: Unveiling the Difference Between Top Dog and Underdog Brands” yang diterbitkan Sage pada tahun 2024. Hasil analisis mereka tentang dialog lucu antarmerek di media sosial menunjukkan bahwa, keberhasilan interaksi humor antarmerek bergantung pada kemampuan humor tersebut menciptakan rasa lucu tanpa membuat audiens curiga bahwa merek memiliki motif tersembunyi.
Brand Banter sebenarnya bukan hal baru, dan merupakan hal biasa yang dilakukan dalam komunikasi digital. Hal itu pernah diulas Barbara Plester dan Janet Sayers dalam jurnal berjudul "Taking the piss": Functions of Banter in the IT Industry, yang diterbitkan oleh Jurnal HUMOR pada tahun 2007.
Walaupun konteksnya organisasi, penelitian Barbara dan Janet menjelaskan fungsi banter yang banyak dipakai dalam komunikasi digital. Mereka menemukan, banter membantu jenama untuk membangun hubungan, mencairkan suasana, menunjukkan identitas kelompok, dan memperkuat budaya bersama. Konsep ini dapat dijadikan landasan teoritis mengapa percakapan British Airways, Norwegian, Riyadh Air, Brussels Airlines, dan maskapai lain terasa seperti "tongkrongan" di kolom komentar.
Norwegian's Boeing 737 MAX
British Airways Boeing 777-200
Dalam kasus British Airways dan Norwegian, momentum Piala Dunia menjadi pemicu percakapan. Strategi semacam ini dikenal pula sebagai newsjacking, yakni memanfaatkan peristiwa yang sedang menjadi perhatian publik untuk menyisipkan pesan merek secara alami tanpa harus menjadi sponsor resmi acara tersebut.
Hal yang membuat percakapan ini semakin menarik adalah keterlibatan pengguna. Ribuan komentar, balasan, dan unggahan ulang muncul bukan karena hadiah besar atau promosi potongan harga, melainkan karena warganet merasa sedang menyaksikan "percakapan" yang menghibur.
Fenomena brand banter memperlihatkan bahwa media sosial kini bukan hanya menjadi saluran distribusi informasi, tetapi juga ruang pertunjukan bagi identitas merek. Di ruang itu, kecepatan merespons tren, kemampuan membaca suasana, dan keberanian menampilkan karakter sering kali lebih menentukan daripada besarnya anggaran promosi.
Fenomena ini juga menunjukkan perubahan fungsi media sosial. Platform digital tidak lagi hanya menjadi tempat perusahaan menyampaikan pesan, melainkan ruang dialog yang memungkinkan merek saling berinteraksi, bahkan saling menghibur, di depan audiens.
Serial Artikel
Ini Cara agar Pengikut di Instagram Tidak Mudah Hilang
Instagram sedang ”bersih-bersih” akun yang tidak aktif dan dianggap sebagai bot. Mengajak berinteraksi bisa jadi salah satu cara agar ”followers” tidak mudah hilang.
Pada akhirnya, pelajaran terpenting dari fenomena ini adalah bahwa di era media sosial, perhatian merupakan mata uang yang sangat berharga. Merek yang mampu menghadirkan percakapan yang relevan, menghibur, dan mengundang partisipasi memiliki peluang lebih besar untuk diingat dibandingkan mereka yang sekadar hadir dengan pesan promosi.
Lantas maskapai mana yang akan berganti logo sementara? Kita tunggu Minggu pagi usai laga Inggris vs Norwegia di Perempat Final Piala Dunia!





