jpnn.com - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa buka suara terkait namanya masuk dalam bursa calon ketua umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
"Kalau itu permintaan dari pengurus cabang dan wilayah, saya tidak bisa menolak," kata Kiai Zulfa dalam konferensi pers seusai acara peluncuran dan bedah kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa, di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat malam (10/7).
BACA JUGA: Mantan Suami Bupati Gowa Sitti Husniah Lapor Polisi soal Perceraiannya, Ada Apa?
Kiai Zulfa mengatakan proses pemilihan ketum PBNU harus ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar menjaga muruah, persatuan, dan masa depan jam’iyah.
BACA JUGA: Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur, Jaksa Agung Sudah Tahu
Menurutnya, kepemimpinan NU bukan hanya berkaitan dengan jabatan struktural, tetapi juga mengandung tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi keilmuan, merawat umat, dan menghadirkan NU sebagai kompas moral bangsa.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin menyebut semakin banyak aspirasi dari pengurus wilayah dan pengurus cabang NU yang meminta Kiai Zulfa untuk maju dalam kandidasi di muktamar. "Beliau jadi ikon perubahan dalam NU," kata Kiai Abdullah.
Pernyataan kedua tokoh NU ini disampaikan setelah Kiai Zulfa meluncurkan Ithafu Ummati Al Muqtafa, sebuah karya yang menghimpun empat kitab berbahasa Arab mengenai metodologi Bahtsul Masail, ushul fikih, fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.
Peluncuran kitab tersebut menjadi penegasan bahwa tradisi keulamaan Nahdlatul Ulama tidak boleh berhenti pada pengajian, ceramah, dan transmisi pengetahuan secara lisan. Ulama dan generasi muda pesantren juga perlu kembali menghidupkan tradisi menulis dan menghasilkan karya yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan sebuah karya yang saya beri nama Ithafu Ummati Al Muqtafa. Jika diterjemahkan secara bebas, ini adalah hadiah bagi umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Isinya empat kitab; tiga di bidang fikih dan ushul fikih, serta satu kitab mengenai biografi dan sejarah Syekh Nawawi al-Bantani," ujar KH Zulfa.
Empat kitab tersebut mempertemukan kekayaan khazanah fikih klasik dengan persoalan yang dihadapi masyarakat modern, mulai dari transaksi digital, kebijakan publik, dinamika lembaga fatwa, hingga penyebaran pandangan keagamaan secara instan melalui media sosial.(fat/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




