Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Jumat, 10 Juli 2026. Meski demikian, secara mingguan harga minyak masih mencatat kenaikan, seiring pasar yang tetap mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menariknya, pelemahan harga minyak kali ini menunjukkan pelaku pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Investor justru menilai eskalasi terbaru masih belum cukup mengganggu pasokan minyak global secara signifikan.
Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak Brent kontrak pengiriman September ditutup turun 0,38% ke level US$76,01 per barel pada perdagangan Jumat. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,93% menjadi US$71,41 per barel.
Penurunan tersebut memperpanjang pelemahan selama dua hari terakhir. Harga Brent telah terkoreksi sekitar 2,6%, sedangkan WTI turun sekitar 2,9%.
Meski demikian, jika dihitung sepanjang pekan ini, harga minyak masih berada di zona positif. Brent menguat sekitar 5,4%, sementara WTI naik sekitar 4%.
Upaya Diplomasi Pangkas Kenaikan Harga MinyakKenaikan harga minyak yang sempat dipicu konflik bersenjata mulai terkikis setelah muncul sinyal adanya upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan mediator dari Qatar berada di Teheran untuk bertemu sejumlah pejabat Iran. Pertemuan tersebut bertujuan membuka kembali jalur perundingan antara Iran dan Amerika Serikat setelah bentrokan yang terjadi pada awal pekan.
Mediator Qatar disebut optimistis kedua negara dapat kembali duduk di meja perundingan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan kesediaannya melanjutkan pembicaraan dengan Iran guna mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, Trump menegaskan gencatan senjata yang sebelumnya berlaku sejak April telah berakhir setelah konflik kembali pecah pekan ini.
Ia juga mengungkapkan telah memerintahkan Pentagon melancarkan serangan terhadap Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya apabila dirinya dibunuh akibat dugaan rencana yang melibatkan Republik Islam Iran.
Meski demikian, Trump menyebut hingga saat ini tidak terdapat indikasi ancaman terbaru terhadap dirinya.
Investor Tak Panik Hadapi Eskalasi KonflikAnalis Commerzbank Barbara Lambrecht menilai pasar minyak menunjukkan respons yang relatif tenang terhadap perkembangan terbaru di Timur Tengah.





