EtIndonesia.com Menurut laporan New Tang Dynasty (NTD), jebolnya Waduk Liulan di Kota Hengzhou, Guangxi, menyebabkan bencana banjir yang sangat parah. Seorang kreator konten dari Tiongkok melakukan liputan langsung ke Desa Liulan yang berada tepat di bawah bendungan. Ia menemukan bahwa setelah banjir surut, lebih dari separuh rumah di desa tersebut telah hancur, dan banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya.
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa bendungan Waduk Liulan jebol pada 6 Juli pagi. Menjelang sore hari, air banjir mulai berangsur surut. Warga yang sebelumnya melarikan diri mulai kembali ke desa, sementara mereka yang berlindung di lantai atas rumah juga turun ke permukaan. Namun, setelah banjir reda, secara kasat mata sedikitnya setengah dari rumah-rumah di desa telah hancur.
Banyak warga yang kembali mendapati rumah mereka sudah lenyap, sehingga menangis histeris. Sebagian warga terlihat memikul barang-barang seadanya meninggalkan desa, diduga hendak mengungsi ke rumah kerabat atau teman.
Menurut keterangan warga yang diwawancarai, sekitar pukul 07.00–08.00 pagi 6 Juli, aparat desa mengumumkan bahwa bendungan telah meluap dan akan segera jebol. Namun hanya sekitar 10 menit kemudian, banjir besar langsung menerjang hingga mencapai lantai dua rumah-rumah.
广西洪灾劫后的六蓝村,当地村民们怎么样了?村民說著就掉淚了⋯⋯ pic.twitter.com/pmOBXIZ1Xr
— ying tang (@yingtan04410735) July 9, 2026Sebagian warga yang bergerak cepat berhasil membawa keluarganya melarikan diri ke perbukitan di belakang desa. Namun banyak warga lainnya, terutama lansia dan anak-anak yang bergerak lebih lambat, tidak sempat menyelamatkan diri. Mereka hanya bisa memanjat ke atap rumah-rumah yang lebih tinggi. Salah satu rumah bahkan menampung lebih dari 40 orang di atas atapnya.
Masih banyak warga yang malang terseret arus banjir dan dikhawatirkan tidak selamat.
Seorang warga perempuan mengatakan bahwa dirinya masih tergolong beruntung karena “semua anggota keluarga saya masih selamat.” Ia menambahkan bahwa banyak keluarga lainnya masih terus mencari anggota keluarga yang hanyut terbawa banjir.
Desa Liulan terletak tepat di bawah Waduk Liulan. Setelah bendungan jebol, gelombang banjir menghancurkan desa tersebut, kemudian menerjang sejumlah desa dan kota di hilir, bahkan mencapai Kota Guigang yang berjarak puluhan kilometer. Diperkirakan banyak desa di sepanjang aliran banjir mengalami kerusakan serupa dengan Desa Liulan.
Waduk Liulan dibangun pada masa Gerakan Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward). Pada masa itu pemerintahaan komunis Tiongkok membangun banyak bendungan dengan mengusung slogan “menaklukkan langit dan bumi”, tanpa mempertimbangkan keselamatan manusia maupun lingkungan. Karena keterbatasan teknologi pada masa itu, banyak bendungan disebut menyimpan berbagai potensi bahaya.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan, bendungan Waduk Liulan merupakan bendungan tanah homogen, yaitu tidak menggunakan struktur beton bertulang maupun lapisan kedap air. Bendungan tersebut sepenuhnya dibangun dengan timbunan tanah liat secara berlapis.
Selain itu, kapasitas saluran pelimpahnya juga dinilai terbatas sehingga kemampuan membuang air tidak memadai. Meskipun pemerintah Tiongkok telah beberapa kali melakukan proyek perbaikan dan penguatan bendungan, artikel tersebut menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut tidak mengubah kerentanan dasar dari bendungan tersebut.
Menurut prinsip dasar teknik sumber daya air, salah satu kelemahan utama bendungan tanah adalah ketika terjadi air melimpas melewati puncak bendungan (overtopping).
Arus deras akan mengikis lereng luar bendungan sehingga tubuh bendungan dapat runtuh dengan sangat cepat. Oleh karena itu, jebolnya Waduk Liulan kali ini terjadi karena limpasan air menghancurkan tubuh bendungan dan membentuk celah besar. (***)




