Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mega Syariah mencatat laba sebelum pajak hingga Juni 2026 mencapai lebih dari Rp137 miliar atau tumbuh sebesar 17,56 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Juni 2025 yang mencapai lebih dari Rp117 miliar.
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita menyampaikan bahwa perseroan akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan kualitas aset.
“Strategi ini penting agar Bank Mega Syariah dapat terus tumbuh secara sehat serta memberikan layanan keuangan syariah yang semakin relevan bagi masyarakat,” kata Hanie dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Per Juni 2026, total pembiayaan Bank Mega Syariah mencapai lebih dari Rp10 triliun, tumbuh lebih dari 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: BSI tuntaskan transformasi IT demi layani 40 juta nasabah pada 2030
Pertumbuhan pembiayaan terutama didorong oleh segmen komersial, khususnya corporate banking dan business banking, serta didukung pertumbuhan pembiayaan ritel melalui Syariah Card dan pembiayaan konsumer.
Segmen komersial meningkat menjadi lebih dari Rp5,96 triliun per Juni 2026, dengan mencatatkan kenaikan lebih dari 15 persen secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd).
Di dalam segmen komersial, pembiayaan corporate banking menjadi kontributor utama dengan outstanding lebih dari Rp4,5 triliun atau meningkat hingga di atas 16 persen dibandingkan posisi akhir 2025.
Sementara itu, pembiayaan business banking juga tumbuh Rp156,0 miliar atau sekitar 12 persen menjadi Rp1,45 triliun dibandingkan posisi akhir 2025.
Selain segmen komersial, perseroan mencatat bahwa pembiayaan ritel juga menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pembiayaan Syariah Card tercatat mencapai lebih dari Rp325,4 miliar, tumbuh hingga lebih dari 67 persen secara tahunan.
Adapun pembiayaan konsumer mencapai Rp601,0 miliar atau meningkat sebesar 17,73 persen dibandingkan Juni 2025.
Hanie menyampaikan, pertumbuhan pembiayaan yang sehat menjadi salah satu fokus utama Bank Mega Syariah.
Perseroan, imbuh dia, juga terus mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, kualitas portofolio, dan kontribusi yang berkelanjutan terhadap profitabilitas bank.
Baca juga: Asbisindo usul desain PFII harus mengakomodasi keuangan syariah
Sementara itu, perseroan juga mencatat perbaikan komposisi dana murah yang terutama terlihat pada segmen ritel.
Dana pihak ketiga (DPK) ritel tercatat sebesar Rp5,84 triliun per Juni 2026, meningkat lebih dari 3,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pada segmen ini, giro tumbuh sekitar 24,03 persen secara tahunan, sementara tabungan meningkat 10,0 persen secara tahunan.
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita menyampaikan bahwa perseroan akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan kualitas aset.
“Strategi ini penting agar Bank Mega Syariah dapat terus tumbuh secara sehat serta memberikan layanan keuangan syariah yang semakin relevan bagi masyarakat,” kata Hanie dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Per Juni 2026, total pembiayaan Bank Mega Syariah mencapai lebih dari Rp10 triliun, tumbuh lebih dari 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: BSI tuntaskan transformasi IT demi layani 40 juta nasabah pada 2030
Pertumbuhan pembiayaan terutama didorong oleh segmen komersial, khususnya corporate banking dan business banking, serta didukung pertumbuhan pembiayaan ritel melalui Syariah Card dan pembiayaan konsumer.
Segmen komersial meningkat menjadi lebih dari Rp5,96 triliun per Juni 2026, dengan mencatatkan kenaikan lebih dari 15 persen secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd).
Di dalam segmen komersial, pembiayaan corporate banking menjadi kontributor utama dengan outstanding lebih dari Rp4,5 triliun atau meningkat hingga di atas 16 persen dibandingkan posisi akhir 2025.
Sementara itu, pembiayaan business banking juga tumbuh Rp156,0 miliar atau sekitar 12 persen menjadi Rp1,45 triliun dibandingkan posisi akhir 2025.
Selain segmen komersial, perseroan mencatat bahwa pembiayaan ritel juga menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pembiayaan Syariah Card tercatat mencapai lebih dari Rp325,4 miliar, tumbuh hingga lebih dari 67 persen secara tahunan.
Adapun pembiayaan konsumer mencapai Rp601,0 miliar atau meningkat sebesar 17,73 persen dibandingkan Juni 2025.
Hanie menyampaikan, pertumbuhan pembiayaan yang sehat menjadi salah satu fokus utama Bank Mega Syariah.
Perseroan, imbuh dia, juga terus mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, kualitas portofolio, dan kontribusi yang berkelanjutan terhadap profitabilitas bank.
Baca juga: Asbisindo usul desain PFII harus mengakomodasi keuangan syariah
Sementara itu, perseroan juga mencatat perbaikan komposisi dana murah yang terutama terlihat pada segmen ritel.
Dana pihak ketiga (DPK) ritel tercatat sebesar Rp5,84 triliun per Juni 2026, meningkat lebih dari 3,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pada segmen ini, giro tumbuh sekitar 24,03 persen secara tahunan, sementara tabungan meningkat 10,0 persen secara tahunan.





