HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Penyakit infeksi terus berevolusi, memaksa dunia kesehatan bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Di tengah tantangan itu, ratusan ahli mikrobiologi klinik berkumpul di Makassar. Mereka membahas teknologi diagnostik, resistensi antimikroba, hingga ancaman pandemi berikutnya. Kolaborasi lintas negara pun menjadi sorotan utama dalam forum ilmiah bergengsi ini.
Makassar menjadi pusat perhatian komunitas mikrobiologi klinik Indonesia selama tiga hari. Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) 2026 resmi berlangsung pada 9–11 Juli 2026 dengan mengangkat tema “One Microbe, Many Perspectives: Diagnostics, Antimicrobials, and Beyond.”
Sekitar 380 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam agenda ilmiah tersebut. Tidak hanya dokter spesialis mikrobiologi klinik, forum ini juga diikuti akademisi, peneliti, tenaga laboratorium, hingga praktisi kesehatan yang bersama-sama membahas perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus tantangan penanganan penyakit infeksi di Tanah Air.
Berbagai isu strategis menjadi fokus pembahasan, mulai dari inovasi diagnostik, perkembangan genomik, resistensi antimikroba, hingga kesiapsiagaan menghadapi pandemi di masa depan. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk memperkuat kolaborasi multidisiplin dan mendorong lahirnya pelayanan kesehatan yang semakin berbasis bukti ilmiah.
Ketua Panitia PIT PAMKI Makassar 2026, Prof. dr. Firdaus Hamid, Ph.D., Sp.MK(K), menilai forum ini menjadi momentum penting untuk mempererat sinergi berbagai pihak dalam menghadapi dinamika penyakit infeksi yang terus berkembang.
Menurutnya, perkembangan teknologi diagnostik, inovasi terapi antimikroba, serta penguatan riset dan pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama erat antara akademisi, klinisi, peneliti, pemerintah, dan tenaga laboratorium.
“Melalui PIT PAMKI 2026, kami berharap lahir berbagai gagasan, inovasi, dan kolaborasi yang dapat memperkuat peran mikrobiologi klinik dalam mendukung pelayanan kesehatan nasional. Forum ini juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan perkembangan ilmu pengetahuan terkini, baik dari para pakar Indonesia maupun dunia,” ujar Prof. Firdaus.
Tantangan Baru Penyakit InfeksiPIT PAMKI 2026 menghadirkan sejumlah pakar internasional yang memaparkan perkembangan terbaru di bidang mikrobiologi klinik dari berbagai perspektif.
Prof. Mark Nicol dari University of Western Australia mengulas peran The Respiratory Microbiome dalam dunia kesehatan modern.
Sementara itu, Prof. Jan Nouwens bersama Assoc. Prof. Willem J.B. van Wamel dari Erasmus Medical Center, Belanda, membahas inovasi terapi untuk infeksi yang resisten terhadap antibiotik, termasuk pemanfaatan produk alami sebagai alternatif menghadapi resistensi antimikroba.
Kontribusi ilmiah dari Belanda juga datang melalui Prof. Steven Thijsen dari UMC Utrecht yang menjelaskan perkembangan imunodiagnostik tuberkulosis.
Adapun Jurre Y. Siegers, M.Sc., Ph.D. dari Pasteur Institute, Kamboja, memaparkan pentingnya sistem peringatan dini pandemi berbasis pendekatan One Health, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Sajikan Beragam InovasiKontribusi ilmuwan Indonesia juga menjadi bagian penting dalam PIT PAMKI 2026. Beragam topik strategis dibahas untuk menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan nasional.
Indri Rooslamiati, M.Sc., Apt memaparkan pemanfaatan teknologi genomik dalam mendukung kedokteran presisi.
Prof. Dr. dr. Kuntaman, M.Sc., Sp.MK(K) mengulas penanganan Healthcare-Associated Infections atau infeksi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan.
Prof. Dr. dr. Ni Nyoman Sri Budayanti, Sp.MK(K) membahas strategi meningkatkan mutu layanan laboratorium di wilayah dengan keterbatasan sumber daya.
Sementara itu, dr. Abdi Kurniawan Purba memperkenalkan implementasi smart coding laboratorium sebagai upaya mengoptimalkan pelayanan BPJS Kesehatan.
Topik penguatan program Antimicrobial Stewardship dipaparkan oleh Dr. dr. Dewi Anggraeni, Sp.MK(K), sedangkan Dr. dr. I Wayan Agus Gede Manik Saputra membahas implementasi syndromic testing di rumah sakit pemerintah.
Pembahasan mengenai pemanfaatan syndromic panel testing dalam praktik klinis turut disampaikan dr. Pratiwi Andayani, Sp.A., Subsp.IPT.
Dorong KolaborasiSelain menghadirkan simposium dan diskusi ilmiah, PIT PAMKI 2026 juga menjadi wadah memperluas jejaring kolaborasi antara institusi kesehatan, akademisi, peneliti, dan praktisi dari dalam maupun luar negeri.
Ketua Umum PAMKI, Prof. dr. Anis Karuniawati, Ph.D., Sp.MK(K), turut menyampaikan Plenary Lecture mengenai pentingnya penguatan standar identifikasi patogen serta harmonisasi standar nasional dengan perkembangan global guna meningkatkan kualitas layanan laboratorium mikrobiologi klinik di Indonesia.
Melalui puluhan sesi ilmiah yang berlangsung selama penyelenggaraan, PAMKI berharap forum ini mampu mempercepat adopsi teknologi diagnostik modern, mendorong penggunaan antimikroba secara lebih bijaksana, sekaligus memperkuat pengendalian penyakit infeksi dan resistensi antimikroba.
Lebih dari sekadar agenda ilmiah tahunan, penyelenggaraan PIT PAMKI 2026 di Makassar menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi mikrobiologi klinik sebagai salah satu fondasi utama pelayanan kesehatan modern.
Kehadiran para pakar nasional dan internasional diharapkan melahirkan inovasi, kolaborasi, serta gagasan baru yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan memperkuat ketahanan sistem kesehatan Indonesia menghadapi berbagai ancaman penyakit infeksi pada masa mendatang. (*)





