Kinerja industri ritel diperkirakan menghadapi tekanan berat pada semester kedua tahun ini. Meski pusat perbelanjaan masih ramai dikunjungi, pola belanja masyarakat khususnya kelompok menengah bawah mulai berubah menjadi lebih selektif.
Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan hingga saat ini masih relatif stabil. Namun, perubahan terjadi pada nilai dan pola belanja masyarakat.
"Perubahan yang terjadi bukan pada tingkat kunjungan, melainkan pada tren atau pola belanja masyarakat, khususnya kelas menengah bawah," ujar Alphonzus kepada Katadata.co.id, akhir pekan ini.
Menurut dia, masyarakat berpenghasilan menengah bawah kini lebih banyak memilih produk dengan harga satuan yang lebih murah sebagai bentuk penyesuaian terhadap daya beli yang belum sepenuhnya pulih. Pergeseran perilaku konsumsi tersebut diperkirakan akan memengaruhi penjualan ritel pada semester kedua tahun ini.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya operasional. Kenaikan harga bahan baku, biaya logistik dan energi, fluktuasi nilai tukar rupiah, pengetatan anggaran pemerintah, hingga tingginya suku bunga pinjaman berpotensi menggerus margin usaha.
Akibat tekanan tersebut, menurut Alphonzus, pelaku usaha kemungkinan perlu melakukan penyesuaian harga jual barang pada akhir tahun ini. Langkah itu berisiko semakin menekan permintaan masyarakat yang masih lemah.
Padahal, industri ritel masih memiliki peluang mendongkrak penjualan pada periode Natal dan Tahun Baru yang menjadi puncak musim belanja kedua setelah Ramadan dan Idul Fitri.
"Industri ritel sebenarnya memiliki kesempatan untuk mendongkrak kinerja semester kedua melalui periode Natal dan akhir tahun yang merupakan peak season kedua penjualan ritel di Indonesia," katanya.
Adapun pada semester I 2026, menurut dia, kinerja industri ritel masih berhasil tumbuh positif. Hal ini terutama ditopang konsumsi masyarakat yang kuat pada kuartal I. Momentum Ramadan, Idul Fitri, Tahun Baru Imlek, serta kenaikan upah menjadi pendorong utama peningkatan penjualan.




