Grid.ID - Komnas Anak buka suara soal konflik Ruben Onsu dan Sarwendah yang saat ini masih bergulir. Pihaknya lantas menyinggung soal tidak boleh egois.
Perseteruan antara Ruben Onsu dan Sarwendah masih belum menemukan titik terang. Konflik pasca cerai itu justru merembet ke banyak hal, termasuk masalah hak asuh anak dan nafkah.
Seperti yang telah diketahui, Ruben Onsu telah melayangkan gugatan hak asuh anak pada mantan istrinya, Sarwendah.
Hal tersebut bermula saat Ruben mengaku dipersulit untuk bertemu anak-anaknya. Ia pun menghentikan nafkah untuk sementara sebagai bentuk protes.
Terlebih, kedua putrinya juga kerap ikut melakukan siaran langsung jualan membuat Ruben naik pitam. Kini ia telah mantap menggugat hak asuh anak dari Sarwendah.
Tanggapan Komnas Anak
Menanggapi permasalahan Ruben dan Sarwendah, Ketua Umum Komnas Anak Indonesia Agustinus Sirait memberikan peringatan tegas. Ia menyarankan agar keduanya bisa menyelesaikan masalah lewat mediasi.
Hal itu dimaksudkan agar konflik tidak menjadi sorotan publik karena bisa memberikan dampak buruk bagi anak. Pun pihak Komnas Anak mengaku siap untuk memfasilitasi mediasi tersebut.
"Siap kalau tempat kami dijadikan mediasi, kami sangat senang sekali."
"Bisa lakukan mediasi untuk kepentingan anak, kalau orang tua nggak bisa menjaga mental anaknya ingat lho pengalaman ini akan dibawa anak sampai dewasa untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih. Itu yang kadang orang tua suka lupa," ujarnya, dikutip dari Tribun Seleb.
Kini Agustinus Sirait merasa konflik sudah amat memanas karena sudah berbulan-bulan tanpa penyelesaian. Pihaknya prihatin terhadap kondisi mental anak.
"Masa sekian bulan nggak ada titik kejelasan, ingat lho anaknya ada tiga. Setiap hari berita mengalir di sosmed."
"Ayo dong untuk Ruben Onsu dan Sarwendah segera dituntaskan kasusnya. Kan udah lapor ke KPAI, Komnas Perempuan, sekarang mengajukan hak asuh," tambahnya.
Di tengah konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah yang saat ini masih bergulir, Komnas Anak ikut buka suara. Pihaknya lantas menyinggung soal konflik yang berlarut-larut hingga bisa menyebabkan mental anak-anak terganggu karena tak kunjung selesai. (*)
Artikel Asli




