Jakarta, tvOnenews.com – Pemerintah mempercepat strategi diversifikasi pasar ekspor dan memperluas kemitraan strategis dengan berbagai negara untuk memperkuat ketahanan perdagangan Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Langkah ini ditempuh agar Indonesia tidak bergantung pada satu pasar maupun rantai pasok tertentu, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan, dinamika perdagangan internasional saat ini menuntut setiap negara memiliki strategi yang lebih adaptif.
Persaingan geopolitik, kebijakan tarif, hingga perubahan rantai pasok global dinilai menjadi tantangan yang harus direspons melalui penguatan daya saing dan perluasan kerja sama internasional.
“Indonesia merespons dinamika global dengan memperkuat ketahanan perdagangan melalui diversifikasi pasar ekspor dan mitra investasi,” ujar Roro, dalam keterangannya, Sabtu (11/7/2026).
“Di saat yang sama, Indonesia terus memperluas kolaborasi strategis dengan berbagai mitra serta meningkatkan daya saing nasional agar mampu menghadapi tantangan global tanpa mengurangi komitmen terhadap perdagangan yang terbuka dan saling menguntungkan,” lanjut dia.
Menurut Roro, perekonomian dunia tengah memasuki fase transformasi yang ditandai meningkatnya rivalitas strategis antarnegara, penggunaan instrumen perdagangan sebagai alat kebijakan, serta bergesernya konfigurasi rantai pasok global. Situasi tersebut membuat setiap negara harus mampu menjaga keseimbangan antara keterbukaan ekonomi dan kepentingan nasional.
Karena itu, Indonesia terus menerapkan strategi diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor, teknologi, maupun rantai pasok tunggal. Meski demikian, Indonesia tetap berkomitmen mempertahankan posisinya sebagai mitra perdagangan dan investasi yang terbuka, kredibel, serta dapat dipercaya.
Selain memperkuat fondasi perdagangan nasional, pemerintah juga mendorong reformasi sistem perdagangan global agar lebih inklusif, berbasis aturan, dan mampu menjawab tantangan ekonomi masa depan. Menurut Roro, pembenahan berbagai lembaga ekonomi internasional perlu dilakukan agar lebih mencerminkan perubahan lanskap ekonomi dunia.
Di sisi lain, politisi Golkar ini menegaskan bahwa kerja sama internasional tetap menjadi instrumen utama menghadapi tantangan global. Untuk itu, Indonesia terus mengedepankan diplomasi ekonomi melalui partisipasi aktif dalam berbagai forum multilateral, seperti ASEAN, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), G20, APEC, BRICS, hingga OECD.
Roro juga menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentaheliks, yakni melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media. Menurutnya, sinergi tersebut akan memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan internasional sekaligus memastikan arah kebijakan ekonomi selaras dengan kepentingan nasional.
“Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, koordinasi dan kolaborasi merupakan aset strategis. Melalui pendekatan pentaheliks, pemerintah berperan memberikan arah kebijakan, akademisi menghadirkan analisis berbasis bukti, pelaku usaha menyampaikan perspektif pasar sekaligus pengalaman praktis, masyarakat memastikan inklusivitas dan akuntabilitas, serta media berperan membangun pemahaman publik terhadap berbagai kebijakan ekonomi dan perdagangan,” pungkasnya. (agr/cmi)




