Sebagian besar penduduk Indonesia mengonsumsi beras setiap hari. Mesin penanak nasi pun rasanya tidak pernah “menganggur”. Selain menggunakan mesin penanak nasi atau rice cooker, ada juga masyarakat yang menggunakan alat kukus, menanak nasi di kompor, maupun dengan metode aron.
Dengan beragamnya cara tersebut, satu pertanyaan mungkin pernah terbesit sebelum memasak nasi: apakah beras sebaiknya dicuci terlebih dahulu atau tidak? Sebagian meniai, beras perlu dicuci untuk membersihkan kotoran yang menempel. Namun, sebagian juga menganggap bahwa mencuci beras justru bisa mengurangi kandungan zat gizi tertentu.
Sejumlah studi telah mengungkapkan dampak mencuci beras terhadap tekstur nasi, kandungan nutrisi, hingga efektivitas dalam membersihkan zat yang tidak diinginkan.
Dalam artikel yang diterbitkan dalam Live Science pada pertengahan Juni 2026 menyebutkan, padi umumnya ditanam di sawah yang digenangi air dangkal. Hal itu diperlukan karena tanaman tersebut butuh sistem pengairan yang konstan untuk tumbuh.
Setelah padi siap dipanen, gabah kemudian digiling untuk memisahkan sekam yang tidak bisa dimakan hingga menjadi beras cokelat atau beras pecah kulit.
Biasanya, beras cokelat tersebut digiling lebih lanjut untuk menghilangkan lapisan arinya sehingga menghasilkan beras putih yang umum dijual dipasaran. Namun, penggilingan dari beras cokelat diketahui dapat merusak sebagian bulir beras yang menyisakan lapisan pati di permukaannya.
Lapisan pati tersebut akan ikut larut dan terbuang saat beras dicuci. Pada studi tahun 2017, sejumlah ilmuwan menduga bahwa mencuci beras akan mengubah tekstur nasi ketika matang. Perubahan tekstur itu diduga disebabkan karena pati yang terbilas yang sebenarnya membuat butiran nasi saling menempel.
Namun, dugaan tersebut kemudian terbantahkan oleh penelitian-penelitian berikutnya. Ahli diet klinis dari Adelaide University, Australia, Evangeline Mantzioris mengatakan, mencuci beras tidak akan memengaruhi kelengketan nasi setelah dimasak.
Mencuci beras tidak akan memengaruhi kelengketan nasi setelah dimasak.
Kelengketan nasi bukan berasal dari amilosa yang merupakan pati di permukaan bulir beras. Kelengketan nasi lebih disebabkan oleh amilopektin yakni jenis pati lain yang terletak di dalam bulir beras.
“Inilah yang keluar saat proses memasak yang memengaruhi kelengketan antarnasi,” katanya.
Serial Artikel
Beras Kian Mahal, Strategi Belanja dan Promo Ini Bisa Jadi Solusi Jelang Akhir Tahun
DANA bekerja sama dengan Alfagift menghadirkan program khusus untuk pembelian beras yang bisa menjadi solusi berbelanja hemat menjelang akhir tahun.
Dalam studi yang terbit di jurnal Food Chemistry pada 2019 tersebut mengungkapkan bahwa jumlah amilopektin yang keluar atau larut dari beras selama proses memasak tidak akan dipengaruhi oleh proses mencuci beras. Tingkat kelengketan nasi lebih dipengaruhi oleh jenis beras itu sendiri.
Pada tiga jenis beras yang berbeda yang sama-sama dicuci sebelum dimasak tetap menunjukkan perbedaan tekstur kelengketan setelah matang. Beras ketan memiliki tingkat kelengketan paling tinggi. Setelah itu, beras bulir sedang (medium-grain) dan beras jenis jasmine menghasilkan nasi yang kurang lengket.
Mantzioris mengatakan, kebiasaan mencuci beras sebelum dimasak dipengaruhi pula oleh tradisi turun temurun. Tradisi mencuci beras awalnya dilakukan dengan alasan kesehatan dan keamanan makanan, seperti untuk membersihkan dari debu, serangga, kericil, dan sisa sekam yang masih menempel.
Namun, ilmuwan pangan dari Adelaide University, Bo Wang menyampaikan, kondisi produksi beras saat ini sudah jauh berbeda dengan masa lalu. Beras yang dijual di supermarket dan toko-toko umumnya diproduksi dengan standar mutu yang ketat yang jauh lebih baik.
Biasanya, beras sudah dibersihkan dengan mesin lalu dikeringkan, dikupas, digiling, dan dikemas sebelum sampai ke konsumen. Tahapan pengeringan akan mengurangi kadar air, membantu menjaga kualitas, dan membatasi pertumbuhan mikroba selama penyimpanan.
“Dengan begitu, beras sudah menjadi produk yang relatif aman, dan pencucian umumnya tidak diperlukan agar aman untuk dikonsumsi,” kata Wang.
Meski demikian, ilmuwan pangan yang juga ahli biologi molekuler dari Adelaide University, Permal Deo menuturkan, mencuci beras sebelum dimasak bukan berarti sama sekali tidak bermanfaat. Sebagian besar masih ditemui kandungan arsenik anorganik yang secara alami terserap dari tanah maupun air tempat padi ditanam.
Proses pembilasan dengan mencuci sebelum dimasak akan membantu menghilangkan sebagian kandungan arsenik yang masih menempel di permukaan beras. Meskipun, hal itu tidak sepenuhnya menghilangkan seluruh kandungan arsenik tersebut.
Manfaat mencuci beras disampaikan pula oleh Mantzioris. Mencuci beras juga dapat mengurangi kontaminasi mikroplastik. Hal itu telah dibuktikan dalam studi Journal of Hazardous Materials pada 2021 yang menyebutkan bahwa mencuci beras dapat mengurangi jumlah kandungan mikroplastik sebesar 20-40 persen.
Di sisi lain, Mantzioris mengatakan, mencuci beras tetap dapat mengurani kadar sejumlah nutrisi penting pada beras. Saat mencuci berat, sejumlah kandungan turut larut dalam air, seperti tembaga, zat besi, dan seng.
Namun, jumlah tersebut tidak sebanding dengan kebutuhan tubuh. Karena itu, hilangnya sedikit kandungan nutrisi akibat pencucian tidak berdampak signifikan terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Wang menambahkan, keputusan untuk mencuci beras atau tidak sebelum memasak kembali pada masing-masing individu. Untuk menghasilkan nasi yang lengket, jenis beras lebih menentukan dibandingkan pencucian. Sementara itu, bagi individu yang mementingkan kebersihan, proses pencucian tetap bisa dipertimbangkan.
"Singkatnya, bagi sebagian besar konsumen, membilas beras dengan air dengan lembut satu atau dua kali sebelum memasak sudah cukup," ucap Wang.





