Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) memproyeksi harga produk plastik akan mulai turun pada pertengahan Juli 2026 mendatang.
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, mengatakan industri plastik telah menemukan alternatif bahan baku pengganti nafta yang sempat mengalami kesulitan pasokan akibat Selat Hormuz ditutup imbas perang Iran-Israel. Sementara impor nafta berasal dari Timur Tengah.
Saat ini, bahan baku digantikan dengan gas LPG yang harganya sedang mengalami penurunan dan lebih terjangkau dari nafta.
Meski demikian, menurut Fajar, saat ini produsen masih memproduksi produk dari persediaan bahan baku yang dibeli saat harganya masih meroket, sehingga belum bisa menurunkan harga jual produk akhir.
“Mungkin harga barang jadi plastik akan terasa penurunannya nanti di pertengahan Juli sampai di awal Agustus,” kata Fajar kepada kumparan, Sabtu (11/7).
Fajar menjelaskan saat musim panas tiba, pasokan LPG umumnya akan mengalami penurunan harga menjadi lebih terjangkau. Hal ini dikarenakan pada musim yang diperkirakan akan terjadi sampai pertengahan September ini ada pengurangan penggunaan LPG sebagai energi.
Selain itu, industri juga sudah mendapatkan nafta dari sumber lain dan tidak lagi menggantungkan pasokan dari Timur Tengah.
Dia menjelaskan bahan baku industri plastik mulai lancar setelah China mengekspor pasokan dengan jumlah banyak ke Indonesia. Hal ini terjadi secara berangsur-angsur mulai Juni 2026.
“Sekarang di Juli mereka sudah mulai ekspor besar-besaran lagi ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sehingga yang terjadi sekarang adalah tren turun (harga bahan baku plastik),” jelasnya.
Konsumsi Plastik Masih Turun karena Masyarakat Masih Terkonsentrasi Beli Barang untuk Tahun Ajaran BaruLebih lanjut, Fajar menjelaskan soal proyeksi penurunan harga produk jadi plastik akan menurun pada pertengahan Juli hingga awal Agustus dikarenakan saat itu akan terjadi peningkatan permintaan dari masyarakat.
Dia menuturkan pada masa libur sekolah pada awal akhir Juni hingga awal Juli, masyarakat masih terkonsentrasi pada pembelian barang-barang yang berkaitan dengan tahun ajaran baru, sehingga pembelian plastik masih dalam tren menurun.
“Daya beli mereka sekarang semua fokus untuk belanja dan biaya kegiatan belajar-mengajar, sehingga konsumsi agak sedikit turun. Sehingga nanti di pertengahan Juli sampai awal Agustus ini akan terjadi, baru terjadi penurunan di barang jadi plastiknya,” terangnya.
Fajar juga memastikan kesulitan bahan baku yang sempat melanda industri hulu plastik tidak sampai berdampak pada pemangkasan tenaga kerja atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Dia bahkan menyebut utilisasi industri hulu sempat meningkat ke angka 85 persen sebelum produk industri hulu dari China membanjiri pasar Indonesia.
Hal ini juga terjadi di industri hilir plastik, utilisasi sektor ini sempat stagnan pada angka 60 persen dikarenakan industri menahan produksi akibat adanya banjir produk jadi dari China.
Meski demikian, Fajar mengatakan industri plastik Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk memperluas pasar ekspor ke Eropa dan Afrika.
“Karena sudah banyak delegasi-delegasi dari negara-negara Asia, Afrika Utara dan Eropa (yang melakukan) kunjungan ke Indonesia untuk mencari supplier-supplier baru untuk kebutuhan internal mereka maupun untuk diteruskan dijual ke Eropa khususnya,” tutupnya.





