VIVA – Pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, mengungkap keuntungan yang didapatkan timnya di Piala Dunia 2026. Albiceleste mendapatkan keringanan karena berhasil menjadi juara Grup J.
Albiceleste melenggang ke perempat final Piala Dunia 2026 dengan cara yang dramatis pada pekan ini. Mereka bangkit setelah tertinggal dua gol dari Mesir dalam duel di babak 16 besar.
Gol-gol dari Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez mengubah keadaan. Namun, kemenangan Argentina banyak diprotes dengan pelatih Mesir, Hossam Hassan, dan penyerang Mostafa Ziko menyebut bahwa FIFA telah menganakemaskan Messsi dan kolega.
Argentina disebut-sebut mendapatkan keuntungan di Piala Dunia 2026. Namun, Lionel Scaloni membantah tuduhan dianakemaskan, dan menegaskan bahwa itu hanyalah fenomena di media sosial.
- REUTERS/Paul Childs
Dilansir media Argentina, Tyc Sports, Scaloni menegaskan bahwa “tidak ada favoritisme” dan menyebutnya sebagai “itu lebih kepada fenomena media sosial”. Dia menyebut bahwa “hari-hari ini, bahkan hal terkecil dibesar-besarkan”.
“Tidak ada yang namanya 'bantuan' dalam sepak bola. Mengingat ini tahun 2026, dengan semua teknologi yang ada, hal itu mustahil. Pada akhirnya, aturannya sudah ada. Aturannya jelas. Ini lebih tentang aturan daripada kenyataan," katanya.
Jika ada sesuatu yang menguntungkan Argentina dari keputusan FIFA, maka itu karena mereka menjadi juara Grup J. Scaloni menyadari bahwa mereka hanya menjadi runner-up, maka Timnas Argentina harus menghadapi banyak waktu bepergian, bahkan harus keliling Amerika Serikat hingga Kanada, imbas dari penempatan stadion-stadion tempatnya berlaga, karena gagal menjadi juara grup.
"Untungnya, kami tidak banyak bepergian dibandingkan dengan banyak tim lain. Jika kami finis di posisi kedua, kami akan melihat seluruh Amerika Serikat, dari timur ke barat, utara ke selatan, atau bahkan Kanada,” katanya.
Sekalipun sudah memiliki jadwal berlaga yang menguntungkan dari penentuan stadion, Scaloni mengungkap tantangan yang juga dihadapi oleh Argentina. Mereka pernah ditahan di bandara sehingga baru tiba pada dini hari.
“Suatu hari, dalam penerbangan dua jam, karena masalah peralatan—satu koper lebih berat daripada yang lain—mereka menahan kami selama satu jam lagi di bandara, dan kami baru tiba pukul 4 atau 5 pagi," tambahnya.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2023%2F01%2F26%2Fa468d24a-defc-40c6-a20d-154116663c05.jpg)


